Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 27) Mukasyafah Maulana Syaikh Bagian 1

banner post atas

Guru Besar kita, Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan seorang ulama yang telah mendapatkan derajat kewalian dan banyak terbuka baginya kasyaf atau ilmu ladunni atas diri beliau, sehingga terbuka pula hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi beliau sebagai kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.

 

1. Makna dan Landasan Mukasyafah
Mukasyafah atau Kasyf merupakan suatu istilah yang pemeliar dan tidaklah asing ditelinga kita, lebih-lebih lagi bagi siapa saja yang sangat erat hubungannya dengan dunia tasawuf beserta tarekat-tarekatnya. Dan kita semua sepakat bahwa seorang yang memiliki al-Kasyf adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui hal-hal gaib, baik tentang dirinya maupun diluar dirinya, yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Oleh sebab itu, kalau ada sebagian orang berkata, “Ilmu al-Mukasyafah ini sangat langka dan sakral serta tidaklah sembarang orang bisa meraihnya, kecuali para wali Allah yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat, maka benarlah perkataan tersebut.

Iklan

Al-Mukasyafah sering disebut ilmu ladunni atau ilmu ghaib (occult sciences) atau disebut juga sebagai ilmu bathin. Dan secara bahasa al-Mukasyafah memiliki arti terbuka tirai atau tidak tertutup. Dan al-Mukasyafah ini merupakan sebuah kebanggaan kaum Sufi yang mereka jadikan sebagai suatu yang bersifat luar biasa (Khariqu li al-`adah) yang dikenal dengan karomah, sejenis dengan mukjizatnya para Nabi (al-Anbia), tapi bukanlah suatu mukjizat. Dan untuk para sufi yang menguasai al-Mukasyafah ini dan mendapatkan karomah tersebut, maka mereka inilah kemudian dikenal dengan istilah wali Allah, yakni orang suci kekasih Allah ( the saint).

Adapun pengertian al-Mukasyafah, dalam hal ini ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama seperti berikut ini;
عِلْمُ المُكَاشَفَةِ وَهُوَ نُوْرٌ يَظْهَرُ فِي القَلْبِ عِنْدَ تَزْكِيَةٍ فَتَظْهَرُ بِهِ المَعَانِي المُجْمَلَة فَتَحْصُلُ لَهُ المَعْرِفَةُ بِا للهِ تَعَالَي وَاَسْمَائِهِ وَ صِفَاتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتَنْكَشِفُ لَهُ الأَسْتَارُ عَنْ مُخْبِئَاتِ الأَسْرَارِ

Artinya:”Ilmu Mukasyafah merupakan cahaya atau nur yang tampak nyata dalam qalbu ketika pembersihannya, maka tampaklah di dalam qalbu tersebut al-ma’ani al-mujmalah atau makna-makna yang menyeluruh yang merupakan hasil dari makrifatullah, asma’Nya, shifat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan terbukalah baginya segala penutup dari segala rahasia-rahasi yang tersembunyi.”

Adapula ulama yang menjelaskan makna al-Mukasyfafah seperti berikut ini:
اِعْلَمْ اَنَّ عِلْمَ المُكَاشَفَةِ هُوَ العِلْمُ بِا للهِ عَزَّ وَجَلَّ الدَّالُ عَلَيْهِ الرَّادُّ اِلَيْهِ الشَّاهِدُ بِالتَّوْحِيْدِ لَهُ مِنْ عِلْم ِالإِيْمَانِ وَاليَقِيْنِ وَعِلْمِ المَعْرِفَةِ وَذَلِكَ غاَيَةُ العُلُوْمِ كُلِّهَا وَاِلَيْهِ تَنْتَهِي هِمَمُ العَارِفِيْنَ لَا يُوْجَدْ وَرَاءَهُ مَرْمَي الإِنْظَارِ

Artinya:”Ketahuilah, sesungguhnya ilmu mukasyafah merupakan ilmu dengan Allah azza wa jalla yang menunjukkan sesuatu pemberian orang yang musyahadah dengan ketauhidan yang dimilikinya berdasarkan ilmu keyakinan, iman dan ilmu makrifat. Ilmu mukasyafah adalah puncak segala ilmu, dan ke sana pulalah titik akhir cita-cita orang yang arif. Tidak ada lagi batas pandang sesudah itu.”

وَهَذَا هُوَ العِلْمُ الخَفِيُّ الَّذِي اَرَادَهُ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِهِ: اِنَّ مِنَ العِلْمِ كَهَيْئَةِ المَكْنُوْنِ لَا يَعْرِفُهُ اِلَّا اَهْلَ المَعْرِفَةِ بِاللهِ فَإِذَا نَطَقُوْا بِهِ لَمْ يُجْهِلْهُ اِلَّا اَهْلَ الإِغْتِرَارِ
Artinya:”Sehubungan dengan hal ini, ilmu mukasyafah adalah ilmu yang teramat halus dan tersembunyi yang dimaksudkan oleh baginda Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Sesungguhnya ilmu itu laksana barang berharga yang tersimpan. Tak seorang pun yang dapat memahaminya, kecuali golongan arif billah. Maka ketika mereka berbicara di dalamnya, maka tidak ada yang menyepelekannya, kecuali golongan orang ightirar atau berhati lalai.”

Muhammad Solikhin dalam bukunya, “Ajaran Makrifat Syekh Siti Jenar” mengatakan bahwa Kasyf adalah penyingkapan atau wahyu, atau pengetahuan langsung dari Allah setelah seorang sufi berhasil melampaui tahap dzauq.
Dari keterangan di atas, sebatas kalimat terakhir yang perlu digarisbawahi adalah bahwa ketika al-Mukasyafah itu telah menancap dalam diri seorang hamba, maka terbukalah segala hijab dari segala rahasia-rahasia yang tersembunyi. Hal ini mengisyaratkan bahwa dengan ilmu mukasyafah semua apa yang sebelumnya tersembunyi dan terselubung dalam sebuah rahasia akan nampak jelas dipandang mata.

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 24) Tingkatan Kewalian Maulana Syaikh

Dengan demikian, ketika seorang hamba telah mencapai pada tingkat mukasyafah ini, maka baginya tidak ada lagi sebuah rahasia yang menyelimuti dalam hatinya. Dengan ilmu mukasyafah ini pula, seseorang akan mengetahui segala rahasia yang ada sebab tidak lagi ada batas pandang yang sanggup dicapai oleh ilmu-ilmu lain selain ilmu mukasyafah. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwasanya ilmu mukasyafah merupakan puncak dari segala ilmu yang ada di dunia ini.

Al-Mukasyafah merupakan pancaran nur Allah kepada hati seseorang. Ia adalah ilmu yang dianugerah Allah Subhanahu wa ta`ala kepada hambanya yang bertakwa dan beramal dengan ilmu yang dipelajarinya dari al-Quran dan Sunnah Nabi shallallaahu `alaihi wa sallam. Oleh karena ia adalah pemberian Allah, maka tidaklah perlu dipelajari, sebaliknya ia merupakan hasil dari amalan dan taqarrub kita kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.

Sebagai salah satu landasan adanya al-Mukasyafah adalah firman Allah Subhanahu wa ta`ala, berikut ini;
وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dan bertakwalah kepada Allah, nescaya Allah akan memberi ilmu kepada kamu. Allah adalah maha mengetahui tentang segala sesuatu”. (QS; al-Baqarah (2): 282)
Selain ayat diatas, ada hadits Nabi shallallaahu `alaihi wa sallam menyebutkan;
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَالَمْ يَعْلَمْ
“Sesiapa beramal dengan ilmu yang ia tahu, nescaya Allah akan wariskan kepadanya ilmu tentang apa yang ia tidak tahu.” (Hadits Riwayat Abu Nu’aim)

Sebagai suatu ilmu, maka al-Mukasyafah sesungguhnya tidak bisa disamakan atas disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain, terutama dengan ilmu eksak yang sering kali menandaskan kajiannya pada prinsip obyektif-rasionalis, sistematis dan empiris. Ilmu al-Mukasyafah tentunya sangat berbeda dengan ilmu-ilmu tersebut, sehingga al-Imam al-Ghazali menyebut al-Mukasyafah ini dengan sebutan, “Fauqa thuril ‘aqli” atau di atas puncak akal. Sementara itu ilmu-ilmu yang lain hanya pada batas sesuatu yang dapat digapai oleh akal. Dan Ilmu mukasyafah hanya bisa didapat melalui nur dari Allah Subhanahu wa ta`ala, Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Para tokoh sufi kawakan, seperti al-Syaikh Al-Junaidi, al-Imam Abu Yazid Al-Busthami, Syaikh Ibnu Arabi, al-Imam Al-Ghazali dan masih banyak lagi yang lainnya, telah memproklamirkan keistimewaan Ilmu al-Laduni. Dan mereka menyebutnya sebagai ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Al-Imam al-Ghazali menyebut ilmu al-Laduni itu dengan ilmu al-Ilhamiyyah dan hal ini untuk membedakannya dengan ilmu al-Taklimiyyah, yaitu ilmu yang dipelajari pada seorang guru atau ilmuan.
Oleh sebab itu, perlu di pahami bahwa al-Mukasyafah seringkali bertentangan dengan ilmu syariat yang ada, sehigga tidak bisa dijadikan landasan hukum agama. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Nabi Musa `alahissalam sering membantah apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir `alahissalam. Jadi harap kita ingat bahwa al-Ilmu al-Laduni adalah ilmu untuk diri sendiri, yaitu bagi orang yang mengetahui ilmu itu sendiri, bukan untuk orang lain, apalagi dijadikan dalil-dalil agama. Dan sebagai manfaat al-Mukasyafah atau ilmu laduni ini adalah untuk menjaga, mempersiapkan dan mengantisipasi atas segala kemungkinan yang akan terjadi terhadap diri anda maupun terhadap lingkungan, sehingga anda bisa mengantisipasi sedini mungkin.

BACA JUGA  Ketika Masjid Ditutup Karena Covid-19, Peluang Pahalanya Tetap Sama Besar

Kaum Sufi telah memproklamirkan keistimewaan al-Mukasyafah atau ilmu al-Laduni sebagai ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan Mujahadah, pembersihan dan pensucian hati (Tazqiyah al-Qalb) akan terpancar cahaya (al-Nur) dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk Nabi Khidhir `alaihissalam. Tidaklah bisa diraih ilmu ini, kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan (al-Riyadhah), amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu. Hal ini, bukanlah suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum Sufi, seperti Syaikh al-Junaidi, Syaikh Abu Yazid Al Busthami, Syaikh Ibnu Arabi, al-Imam Al-Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.

Al-Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, “Ihya’ Ulumuddin”, berkata: Ilmu Kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “. Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”.
Sedangkan untuk syaikh Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”.

Sementara untuk Ibnu Arabi, beliau berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai dengan hari kiamat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” Lebih lanjut, dedengkot ajaran Wihdatul Wujud ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan `aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud, bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.

Dengan terbukanya Kasyaf bagi seorang sufi, maka tentunya mereka dapat mengetahui atau mengenal siapa-siapa yang melakukan “perjalanan” kepada Sang Kekasih, Allah Azza wa Jalla. Dan hal seperti inilah yang dapat kita analogikan pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sabdanya kepada Sayyidina Bilal dengan mengatakan yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”.

Dalam hal ini, untuk sahabat Bilal radhiallahu `anhu memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan shalat, selain shalat yang telah diwajibkannya. Dalam Hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku, apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulallah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat, selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR. Muslim)