Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 18) Empat Puluh Macam Karomah dalam Pandangan Al-Ghazali

0
149
banner post atas

Sebagai gambaran umum tentang karomah para Wali Allah, sepertinya penting kita perhatikan pemaparan al-Imam Ghazali radhiallaahu `anhu yang tertuang dalam kitab, “Minhajul ‘Abidin” yang dikutip langsung juga oleh al-Syaikh Muhammad Nafis bin Idris al-Banjari dalam bukunya; ad-Durrunnafis. Dimana, beliau mengatakan bahwa “Allah Subhanahu wa ta`ala akan menganugerahkan terhadap hamba yang selalu taat kepada-Nya, tetap berkhidmat kepada-Nya serta benar-benar menjalankan segala hukum-hukum-Nya selama hidup, sepanjang jalan Tasawuf ini, hamba itu akan mendapat 40 (empat puluh) macam karomah, 20 (dua Puluh) diantaranya di dapat di dunia dan 20 (dua puluh) lainnya akan didapat di akhirat.
Adapun untuk 20 (dua Puluh) macam karomah yang didapat di dunia ini dapat dirincikan sebagaimana berikut:
1. Allah selalu ingat kepada si hamba dan Allah memberikan pujian kepadanya, selama si hamba itu ingat dan memuji Allah Subhanahu wa ta`ala.
2. Allah Jalla Jalaluhu menyatakan terima kasih kepada si hamba itu, Allah besarkan pula pengaruhnya. Dapatlah anda rasakan bagaimana kalau sesama hamba bisa saling berterima kasih, saling menghargai, konon lagi kalau terima kasih dan penghargaan itu dari Allah yang Maha Awal dan Maha Akhir.
3. Mendapat karunia kasih-cinta Allah Subhanahu wa ta`ala (al-Mahabbah). Betapa rasanya bila anda dikasihi dan dicintai oleh raja atau atasan anda yang dengan itu anda akan mendapatkan manfaat kapan saja dan dimana saja, konon lagi bila anda mendapatkan kasih cinta Allah Subhanahu wa ta`ala.
4. Allah Subhanahu wa ta`ala mengiakan apa pun yang hendak dilakukannya.
5. Allah Subhanahu wa ta`ala selalu memberikan pertolongan dan menjaganya terhadap musuh-musuhnya dan memeliharanya dari segala macam kejahatan.
6. Allah Subhanahu wa ta`ala selalu menjamin rezekinya dalam setiap keadaan tanpa dicari dengan susah payah.
7. Allah Subhanahu wa ta`ala terangkan hati dan perasaannya menghadapi segala macam perubahan dan pergantian apa pun juga.
8. Allah Subhanahu wa ta`ala berikan kemuliaan dan tidaklah ia tunduk kepada dunia, malah hormat dan tunduk kepadanya segala raja-raja.
9. Tinggi kemauan (al-Himmah), tanpa cacat cela karena pengaruh dunia, tidak pula terpengaruh dia dengan segala macam keindahan duniawi.
10. Kaya hatinya, lebih kaya daripada orang yang kaya harta, selalu baik keinginannya dan lapang dada, tidak menangis karena lapar, dan tidak berduka karena papa-miskin.
11. Bercahaya hatinya dan dengan cahaya itu selalu mendapat petunjuk ilmu dan rahasia-rahasia (al-Asrar) yang halus yang bagi orang lain memerlukan umur lanjut bila hendak mendapatkannya.
12. Lapang dada dan cemerlang mata hatinya dalam menanggapi segala macam kesulitan dunia dan kesulitan orang lain, malah orang lain itu datang kepadanya mengemukakan kesulitan yang mereka hadapi.
13. Manusia-manusia yang kejam dan kasar, orang-orang baik atau tidak, memberikan penghormatan karena wibawanya.
14. Semua orang mencintainya, mendengar kata-katanya. sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta`ala:“Allah jadikan rasa kasih saying untuk mereka”.
15. Banyak orang yang meminta berkatnya dan mengambil berkat pula terhadap segala ucapannya.
16. Dalam satu saat (jarak waktu yang cepat) hendak kemana ia mau, di tanah atau pun udara, tidaklah merupakan kesulitan buat mereka.
17. Tunduk segala bintang-bintang yang bagaimanapun juga, menurut segala perintahnya. Dikatakan bahwa Abu al-Hasan Al-Yamani bila mencari kayu api disertai oleh seekor harimau.
18. Memiliki anak kunci bumi, bila ia ingin air yang memancar, di padang pasir sekali pun akan terjadi.
19. Menjadi pemimpin dan ikutan orang banyak, menjadi wasilah bagi orang-orang yang berhajat, orang-orang pun tunduk khidmat kepadanya.
20. Mustajab segala do`anya, siapa yang meminta dan berhajat melalui dia akan terkabul, siapa saja yang memohon syafaatnya akan didapat.

Sementara itu, sebagai gambaran tentang 20 (dua Puluh) macam karomah para wali Allah yang didapatnya di akhirat adalah seperti berikut ini:
1. Allah Subhanahu wa ta`ala memudahkan baginya pada waktu sakaratul maut, karena Su’ul Khotimah (kesakitan pada akhir hidupnya) adalah sesuatu yang paling ditakuti oleh semua Awliya dan para Nabi, sehingga Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam sendiri berdo`a:“Ya Allah mudahkan bagiku pada waktu sakaratil maut”.
Kemudahan itu adalah laksana meminum air yang manis dan nyaman ketika dahaga. Sebagaiamana firman Allah Subhanahu wa ta`ala:“Merekalah yang diwafatkan oleh Malaikat-maut dalam keadaan baik. Malaikat itu berkata kepada mereka “salamun’alaikum-sejahteralah atas anda”.
2. Tetap dalam makrifat dan iman, karena kematian itulah akhir dari segala keluh kesah dan akhir dari segala tangis dan kesedihan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta`ala:“Allah tetapkan terhadap orang yang beriman dengan kata yang tetap, yaitu kalimah ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah’ dalam kehidupan dunia dan akhirat”.Di akhirat termasuk alam kubur dan pertanyaan Munkar dan Nakir, termasuk pula urusan-urusan akhirat lainnya sampai masuk ke dalam surga.
3. Pada waktu sakaratul maut mendapat berita yang menyenangkan tentang dirinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta`ala dalam Al-Qur’an:“Janganlah anda takut dan gentar dan bergembiralah anda dengan surga yang disediakan buat anda”.
4. Kekal di dalam surga dan sekampung dengan Allah Ar-Rahman.
5. Rohnya disambut oleh para Malaikat dengan penuh kebesaran dan kemuliaan, banyak manusia yang menyembahkannya untuk mendapat pahala daripada Allah Subhanahu wa ta`ala.
6. Lepas dari pertanyaan di dalam kubur.
7. Diluaskan kuburnya dan bercahaya-cahaya, sedang ia merasakan di dalam kubur sebagai suatu kebun yang indah dan permai merupakan kebun surga hingga Hari Kiamat.
8. Tenang dan gembira rohnya berada dalam perut “thuyur” (burung) di ‘Arasy Allah Subhanahu wa ta`ala berkumpul dengan kawan-kawannya yang sholeh sambil bersenda gurau dengan gembira.
9. Dibangkitkan menuju alam mahsyar dengan ucapan kebesaran, kemuliaan dan keindahan, malaikat membawakan mahkota dan pakaian yang indah serta kendaraan yang tercepat.
10. Putih mukanya penuh cahaya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta`ala:“Pada hari itu, wajah mereka bersinar terang, ketawa ria penuh kegembiraan”.
11. Aman daripada huru hara hari kiamat. Seperti firman Allah Subhanahu wa ta`ala:“Atau orang-orang yang datang hari Kiamat dengan aman sentosa”.
12. Mendapat buku catatan amaldi pihak kanan, bahkan sebagian tidak memerlukan buku catatan.
13. Lepas daripada segala hisab dan hitungan, sedikit-dikitnya dihitung atau dihisab dengan suatu keringanan.
14. Berat timbangan amal baiknya, bahkan ada yang tanpa ditimbang.
15. Meminum air kolam Rasulullah shalallaahu `alahi wa sallam yang menghilangkan haus dan dahaga selama-lamanya.
16. Tidak ada kesulitan dalam meniti Shiratal Mustaqim dengan cepat tanpa terdengar guruh api neraka.
17. Diberikan hak untuk memberi syafaat pada hari kiamat, sebagaimana juga diberikan hak syafaat kepada para Nabi dan Rasul.
18. Kekal dalam surga dengan penuh kebesaran.
19. Selalu mendapat keredaan, aman dan sentosa.
20. Berjumpa dengan Allah Subhanahu wa ta`ala dalam suatu perjumpaan yang paling indah, tanpa batas dan dapat digambarkan.

Selanjutnya, al-Imam Ghazali menyatakan bahwa semua itu adalah ringkasan saja dan kalau hendak diuraikan (ditafshilkan), tidak akan cukup kitab, “Minhaj al-‘Abidin” untuk menampung uraian satu persatu tentang karomah yang dimaksud. .
Lebih detailnya lagi, sebagai gambaran karomah yang diberikan kepada para wali dalam pandangan al-Syaikh Tajudin As-Subki bahwa ada lebih dari 100 (seratus) macam karomah yang ada di dunia ini.

Iklan

Sementara itu, al-Imam Abdur Rauf Al-Munawi memiliki criteria sendiri dalam menjelaskan macam-macam karomah, yang pada dasarnya mirip dengan pengklasifikasian yang dibuat oleh al-Syaikh al-Imam Muhyidin Ibnu Arabi.
Dan menurut al-Syaikh Tajudin As-Subki dalam “Thabaqat al-Kubra”, karomah itu dalam bermacam-macam bentuk, diantaranya;
1. Menghidupkan yang sudah mati,
2. Dapat berbicara dengan orang yang telah mati,
3. Membelah dan mengeringkan laut serta dapat berjalan di atas air,
4. Mengubah benda-benda,
5. Melipat jarak bumi,
6. Berbicara dengan benda mati dan binatang,
7. menyembuhkan berbagai macam penyakit,
8. Menundukkan binatang,
9. Melipat waktu,
10. Membentangkan waktu,
11. Terkabulnya do’a,
12. Mengendalikan lisan ketika bicara dan fasih bicara,
13. Memikat hati dalam majelis sehingga memengaruhi akhir keputusan yang diambil,
14. Memberitahkan dan menyingkap hal-hal ghaib,
15. Sabar atas ketiadaan makanan dan minuman dalam watu yang cukup lama,
16. Mengendalikan perubahan musim,
17. Mampu memeroleh banyak makanan,
18. Terjaga dari makanan yang haram,
19. Melihat tempat yang jauh dari belakang hijab,
20. Ditakuti,
21. Allah Subhanahu wa ta`ala mencegah kejahatan yang akan menimpa
dan mengubahnya menjadi kebaikan,
22. Menampakkan diri dalam bentuk yang berbeda,
23. Kemudahan untuk menyusun karya dalam waktu yang relatif singkat,
24. Menghilangkan pengaruh racun dan hal yang bisa membahayakan.

Sementara itu, untuk al-Syaikh Muhyidin Ibnu Arabi membagi karomah sesuai dengan dari mana sumber karomah itu muncul, yakni dari anggota tubuh yang dipergunakan untuk menjalankan taat kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.

Misalnya, anggota tubuh yang bernama mata; di antara karomahnya jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah sebagai berikut;
1. Mampu melihat tamu dari jarak dan jauh sebelum tamu itu datang,
2. Bisa melihat dari balik dinding tebal,
3. Melihat Ka’bah ketika shalat,
4. Dapat menyaksikan alam malakut, baik malaikat, jin dan penghuni ketinggian,
5. Mampu melihat Nabi Khidir `alaihissalam dan wali abdal.

Anggota tubuh yang bernama telinga, jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan akan menghasilkan karomah, diantaranya;
1. Mendengar kabar gembira bahwa pemiliknya adalah orang yang diberi hidayah dan
akal oleh Allah Subhanahu wa ta`ala,
2. Dapat mendengarkan ucapan benda mati.

Anggota tubuh yang bernama lidah, jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan akan menghasilkan karomah, diantaranya;
1. Dapat berbicara dan bercakap-cakap dengan alam yang lebih tinggi,
2. Mampu mengatakan suatu keadaan sebelum terjadinya,
3. Memberitahukan hal-hal yang ghaib,
4. Memberitahukan akan munculnya benda-benda.

Anggota tubuh yang bernama tangan, jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan akan menghasilkan karomah, diantaranya;
1. Munculnya warna putih bersih tanpa noda di tangan ketika dimasukkan ke dalam saku, seperti yang terjadi pada Nabi Musa `alahissalam,
2. Memancarkan air di sela-sela jari, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad
Shalallaahu `alaihi wa sallam,
3. Melemparkan tanah ke muka musuh sehingga mereka kalah,
4. Mengepalkan tangan ke udara lalu ketika membukanya muncullah emas atau perak.

Demikian juga dengan perut, jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, maka akan menghasilkan karomah, diantara berikut ini;
1. Terjaganya perut dari makanan dan minuman yang tidak halal dengan mnculnya tanda yang disampaikan oleh Allah Subhanahu wa ta`ala,
2. Makanan yang sedikit bisa mengenyangkan orang banyak,
3. Membuat satu macam makanan di atas piring menjadi berbagai jenis makanan sesuai dengan keinginan orang-orang yang hadir di tempat itu
4. Mampu mengubah air minum yang asin dan pahit menjadi manis.

Sedangan kemaluan, jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan akan menghasilkan karomah, diantaranya;
1. Rahasia menghidupkan orang yang sudah mati,
2. Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir,
3. Menyembuhkan penyakit lepra,
4. Meninggalkan semua perkara yang membuat lupa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.

Untuk anggota tubuh yang bernama kaki, jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan akan menghasilkan karomah, diantaranya;
1. Mampu berjalan di atas air,
2. Dapat mengelilingi bumi dalam sekejap,
3. Berjalan di udara.

Demikian pula hati (al-Qalb), jika digunakan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan akan menghasilkan karomah sejumlah karomah yang dihasilkan dari seluruh anggota tubuh, karena semua karomah itu pada dasarnya bersumber dari hati. Juga, setiap perbuatan bersumber dari hati; kalau tidak ada hati maka seluruh anggota tubuh yang lainnya tidak akan berarti.