KEWALIAN DAN KAROMAH MAULANA SYAIKH. Pendahuluan (bagian ke-1)

banner post atas

Pola hubungan sosial yang ideal dalam kehidupan bermasyarkat selalu up-to-date untuk diperbincangkan. Berbagai macam adat-istiadat, pengetahuan, budaya, moral, kepercayaan, aturan kemasyarakatan, pendidikan, undang-undang dan pemerintahan merupakan dinamika sosial kemasyarkatan yang tidak pernah vakum. Dalam konteks moralitas kehidupan sering mengalami pasang surut. Ketika mengalami masa surut, muncullah insan-insan yang digelar wali Allah Subhanahu wa ta ala yang melakukan mujahadah (perjuangan) untuk mengembalikan nilai moral tersebut menjadi nilai-nilai luhur berperadaban.

Dalam tasawuf, eksistensi para Wali Allah Subhanahu wa ta’al itu adalah sebagai pengemban fungsi kosmik (yang berhubungan dengan jagat raya) yang paling agung. Hal ini disebabkan karena merekalah yang benar-benar dianggap sebagai ulama pewaris Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sejati.” Mereka mengikuti jejak Nabi. bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya, tetapi juga dalam kapasitas spiritual dan esensi ruhaniah Nabi. (al-Haqiqah al-Muhammadiyyah). Pemahaman seperti ini, menurut tradisi Tasawuf,
mereka adalah khalifah Allah yang sesungguhnya dan wakil Allah Subhanahu wa ta’ala di muka bumi. Para wali sangat dekat dengan Allah. sehingga penglihatan (visi) mereka tidak berbeda dengan visi Allah-yandzuru bi nurillahi ta’ala, “(mereka) melihat dengan nur AllahSubhanahu wa ta’ala.” Sesuai dengan fungsi kosmos ini, maka Wali-wali Allah tersebut memiliki nama atau gelar dan kedudukan tersendiri dengan tugas khusus sesuai dengan kedudukannya itu.

Buku sederhana ini diberikan judul : “Membaca Kewalian dan Karomah Sulthan Aulia al-Alim al-Allamah al-Arif billah. Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memiliki substansi yang mengarah pada pengenalan lebih dekat terhadap sosok hamba pilihan Allah sebagai “Baqiyyatu al-Salafi al-Shalih (Ulama salaf shalih yang tersisakan)” dan sebagai seorang wali Allah yang telah banyak menampakkan kekaromahan sebagai anugerah Allah Subhanahu wa ta’aala.

Iklan
BACA JUGA  SinarLima Lonching web baru bertepatan Dengan Hultah NW ke-68

Kata “membaca” dalam judul buku ini, mengarahkan kita secara emosional spiritual bagaimana memukasyafahkan atau menyingkap tabir bukti dari keberadaan seorang wali Allah. Membaca dalam akar kata bahasa Arab adala qara’a yang berarti menghimpun, menelaah, mendalami. meneliti, mengetahui hakikat sesuatu dengan baik. Dalam konteks ini, ada dua hal penting yang harus kita baca pada diri Maulana Syaikh, yaitu: kewalian dan karomahnya. (fathi)

Moga Manfaat