Imam Nawawi : “Azan itu Maklum dan Diketahui Lafadznya” oleh Zulkarnaen

Imam Nawawi : “Azan itu Maklum dan Diketahui Lafadznya” oleh Zulkarnaen

Islam dalam konteks muamalah dalam banyak hal menggunakan bahasa ijmaliy atau umum. Ada banyak hal yang dijelaskan Islam tidak sedetail sebagaimana detailnya ketentuan berapa warisan yang harus diterima kepada anak laki-laki; hal ini detail dijelaskan di dalam ilmu faraid karenanya.

Dalam Islam memang berdasarkan keterangan banyak ulama’ semisal Syeikh Abdul Wahhab Kholaf dalam karya Usul Fikihnya menyebut soal syariat yang tidak detail dan detail. Sehingga dalam Islam terdapat hal-hal yang dalam bahasa kerennya definitif atau sudah sangat jelas dan ada yang memang masih tidak defintif atau masih umum.

Semisal azan, azan adalah sesuatu yang definitif. Hal ini disebut Imam Nawawi dalam karyanya al-azkar sebagai sesuatu yang maklum dan diketahui lafaznya. Ini yang disebut definitif. Sehingga merubah sesuatu yang definitif bisa jatuh dalam konteks mempermainkan karena memang sudah definitif. Untuk hal-hal tertentu bahkan bisa disebut sebagai sebuah bid’ah. Jika diperhatikan makna bid’ah, ia tidak jauh dari makna di atas; membuat hal baru yang tidak pernah ditetapkan Nabi.

Namun saya tak bermaksud menyebut ini sebagai bid’ah. Selain dari Al-Azkar, soal azan bisa dikonfirmasi kemaklumannya di kitab subulussalam, syarah dari kita bulugul maram.
Jadi sebenarnya ada ruang yang jelas untuk seorang muslim merubah atau bahkan berkreasi dalam agamanya. Dalam konteks ini pada hal-hal yang sudah disebut Qur’an secara ijmaliy atau umum sebagaimana disebut di awal; contohnya adalah muamalah. Disebut ayat-ayat mujmal kemudian oleh ulama’; merupakan ayat yang dikaji dan diberikan tafsiran sebagaimana yang dilakukan oleh para mujtahid mutlak seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Iman Hambali.

Biasanya ayat-ayat mujmal membicarakan sesuatu yang memang seharusnya berubah karena perubahan situasi dan kondisi entah itu zaman yang berubah. Ayat-ayat mujmal inilah salah satu yang sebenarnya membuat Islam solih likulli zaman wa makan atau sesuai dengan keadaan waktu dan tempat. Inilah objek kajian para mujtahid kata seorang Ustadz dahulu kepada Alexa. Jadi bukan sesuatu yang sudah definitif atau rigid atau sangat jelas. Apa yang dijelaskan para mujtahid adalah sesuatu yang memang masih belum jelas dan maknanya bisa bermacam-macam dan inilah yang ditafsirkan dengan metodologi mereka.

BACA JUGA  RELAWAN SIAP BERGANDENG TANGAN MEMERANGI CORONA
BACA JUGA  Manfaatkan New Normal, Guru SDN 33 Mataram Melaksanakan Tataboga

Hal yang perlu diperhatikan ketika berkreasi dalam agama–saya sudah jelaskan konteknya di atas–adalah ilmu. Kata mujtahid yang sudah disebut di atas adalah level yang paling tinggi dari tingkatan pengetahuan seorang muslim dalam agama; demikian istilahnya usul fikih. Ada muqollid sebagai level yang paling bawah; karena memang hanya bermodalkan ikut saja tanpa tahu alasannya. Ada muttabi‘, merupakan level di mana seorang muslim tahu alasan melakukannya. Sedang mujtahid adalah mereka yang menjelaskan Qur’an dan Hadits; pandangan dari mujtahid inilah yang diikuti muqollid dan muttabik.

Mujtahid inilah yang menjelaskan mana yang definitif mana yang tidak; karena memang mereka mengkaji yang tidak definitif.
Sehingga untuk yang muqollid sebagaimana disebut oleh syeikh Ali Jum’ah, seorang mufti Mesir menyebut bahwa dalam agama seharusnya muqollid bertanya kepada yang paham agama. Alexa selama 4 tahun mempunyai pengalaman melantunkan lagu Almagfurlah yang mengatakan rajin berguru pada ahlinya–sekali lagi, konteks ini untuk orang awam atau muqollid. Ini adalah satu dari penjelasan ayat Qur’an fas alu ahlazzikri in kuntum la tak lamun. Jadi bukan berkreasi yang bijak dilakukan oleh orang awam atau kita yang berada dalam level muqollid. Sebenarnya hal ini sudah diwanti-wanti oleh Nabi–ini istilah saya saja–di kitab Syama’il Muhammadiyah; bahwa kita harus benar-benar pastikan sumber belajar agama kita pada orang yang tepat. Demikian usaha yang perlu dilakukan oleh seorang muqollid atau agama dalam beragama.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA