Syair Inspiratif Ke 803
Bersyukur Kunci Meraih Ketenangan
Karya : Abu Akrom
Di tengah gelombang kehidupan
Ada masalah dan ujian
Hidup terasa dihimpit beban
Setiap hari berdatangan
Jiwa mengalami kegoncangan
Hati diliputi kegelisahan
Tidak ada rasa kedamaian
Ketenangan dan kenyamanan
Saat berada di akhir pekan
Atau pada saat liburan
Mereka mencari ketenangan
Pergi menjauh cari hiburan
Ada yang pergi bertamasya
Atau ke puncak bersama keluarga
Setelah itu terasa hampa
Kembali terbebani oleh dunia
Padahal agama mengajarkan
Untuk mencapai ketenangan
Bersyukur dalam segala keadaan
Hati dan jiwa dalam kelegaan
Jakarta, 6 Rabiul Awwal 1448 H/18 September 2026 M
Ulasan dari syair :
1. Bait Pertama: Realita Badai Kehidupan
Di tengah gelombang kehidupan / Ada masalah dan ujian / Hidup terasa dihimpit beban / Setiap hari berdatangan
Bait ini tidak sedang mendramatisasi, melainkan memotret cetak biru dunia yang jujur. Hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang sepenuhnya mulus. Gelombang masalah dan ujian bukanlah tanda bahwa Tuhan membenci kita, melainkan hukum alam dari kehidupan itu sendiri. Logika akal kita diajak menyadari: menuntut hidup tanpa masalah sama saja menuntut laut tanpa gelombang—sebuah ketidakmungkinan. Beban yang datang setiap hari adalah sunnatullah untuk menempah mental dan memperbesar kapasitas jiwa manusia.
2. Bait Kedua: Kepungan Krisis Kesehatan Mental
Jiwa mengalami kegoncangan / Hati diliputi kegelisahan / Tidak ada rasa kedamaian / Ketenangan dan kenyamanan
Penulis menggambarkan kondisi krisis batin saat manusia kehilangan pijakan. Kegoncangan dan kegelisahan (anxiety) terjadi ketika fokus pikiran kita sepenuhnya terkunci pada masalah, bukan pada Sang Pemilik Solusi. Saat hati terpisah dari sumber kedamaian yang hakiki, kemewahan materi terdekat pun tidak akan mampu memberikan rasa nyaman. Ini adalah peringatan bagi akal bahwa penyakit terbesar manusia sering kali bukan berada pada kondisi fisiknya, melainkan pada kelelahan jiwanya.
3. Bait Ketiga: Jebakan Pelarian Sesaat (Escapism)
Saat berada di akhir pekan / Atau pada saat liburan / Mereka mencari ketenangan / Pergi menjauh cari hiburan
Di sini letak kecerdasan analisis sosial sang penyair. Ia menangkap fenomena manusia modern yang keliru membedakan antara “istirahat” dan “pelarian”. Ketika jiwa lelah, kecenderungan umum kita adalah berlari mencari hiburan luar—menunggu akhir pekan, merencanakan liburan, atau berburu kesenangan instan. Akal kita diingatkan: mencari ketenangan dengan cara berlari dari masalah hanyalah menunda kepedihan, bukan menyembuhkannya.
4. Bait Keempat: Ilusi Kesegaran Fisik Tanpa Kedamaian Batin
Ada yang pergi bertamasya / Atau kepuncak bersama keluarga / Setelah itu terasa hampa / Kembali terbebani oleh dunia
Bait paling menyentuh yang memotret paradoks masyarakat modern. Tempat bertamasya bisa sangat indah, pemandangan puncak bisa sangat memanjakan mata, namun begitu kembali ke rumah, rasa hampa (emptiness) itu menyapa lagi. Mengapa? Karena tempat hiburan hanya mengubah pemandangan di luar mata, bukan pemandangan di dalam hati. Jika masalahnya ada di dalam dada, membawa badan pergi ke ujung dunia sekalipun tidak akan pernah menyelesaikan kehampaan tersebut.
5. Bait Kelima: Penawar Hakiki dan Kunci Ketenangan
Padahal agama mengajarkan / Untuk mencapai ketenangan / Bersyukur dalam segala keadaan / Hati dan jiwa dalam kelegaan
Bait penutup ini menghadirkan plot twist spiritual yang mencerahkan akal. Ketenangan sejati bukanlah hasil dari keadaan yang sempurna, melainkan hasil dari penerimaan yang tulus. Bersyukur dalam segala keadaan (acceptance) mengajarkan akal untuk tidak bertengkar dengan takdir. Saat kita berhenti menuntut kehidupan agar berjalan sesuai keinginan kita dan mulai mensyukuri apa yang ada, ruang dada otomatis meluas. Ketenangan tidak lagi dicari di luar, melainkan terbit dari dalam diri sendiri.




