Oleh: Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA
“Jangan kacewa karena Allah tidak memberi yang engkau minta”
Ibn Atha’illah berkata dalam untaian kalimat hikmahnya yang ke-93:
إنَمّا يؤُلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللَّه فيهِ.
“Sesungguhnya yang membuat engkau kecewa ketika tidak diberi adalah karena engkau tidak memahami tentang hikmah Allah di dalamnya.”
Kata kunci kalimat hikmah di atas adalah: “Kecewa karena tidak diberi. Kecewa muncul karena tidak memahami.”
Kekecewaan adalah fitrah manusia. Setiap manusia pasti memiliki sifat kecewa itu. Tidak ada manusia yang tidak memiliki rasa kecewa. Kekecewaan milik setiap manusia. Kekecewaan itu muncul karena ada suatu harapan yang tidak tercapai. Ketika seseorang mempunyai harapan, maka harapannya itu diharapkan bisa tercapai. Ketika harapannya tidak tercapai, maka pada saat itulah dia akan kecewa. Bertambah besar harapan seseorang terhadap sesuatu, maka ketika harapannya tercapai, dia sangat senang, sangat bahagia dan sangat gembira. Akan tetapi, jika terjadi sebaliknya, yaitu harapannya yang besar itu tidak tercapai, maka dia akan mengalami kekecewaan yang sangat besar. Tidak sulit bagi untuk menggambarkan kekecewaan itu kalau Anda sudah pernah mengalaminya.
Sikap kecewa itulah yang digambarkan oleh Ibn Atha’illah di dalam kalimat hikmahnya di atas. Dia menggambarkan bahwa sesungguhnya seseorang pasti akan mengalami kekecewaan, jika sesuatu yang dimintanya dari Allah tidak dikabulkan. Ketika dia meminta sesuatu kepada Allah, besar harapannya agar yang diminta itu dikabulkan. Tetapi Allah tidak mengabulkannya. Maka pada saat itulah dia sangat kecewa. Dia kecewa karena permintaan tidak dikabulkan dan harapannya tidak terpenuhi. Seseorang yang memiliki harapan terhadap Allah, lalu Allah tidak memenuhi harapannya, maka pada saat itulah dia kecewa.
Kekecewaannya muncul karena dia tidak memahami apa yang dikehendaki oleh Allah. Dia tidak memahami hikmah di balik Allah tidak memberi kepadanya. Jika dia memahami apa yang ada di balik itu, maka dia tidak akan kecewa. Karena itu, jika Anda meminta sesuatu kepada Allah, lalu Allah tidak mengabulkan permintaanmu dan tidak memberimu apa yang kau minta, maka sadarilah bahwa sesuatu yang diinginkan oleh Allah di balik itu lebih baik daripada apa yang engkau minta. Jika engkau meminta sesuatu kepada Allah, lalu Allah mengabulkan permintaanmu, maka itulah yang terbaik buatmu. Jika engkau meminta kepada Allah sesuatu, lalu permintaanmu tidak diberi oleh Allah, maka janganlah kecewa. Allah Maha tahu, bahwa Allah tidak memberi itulah yang lebih baik bagimu. Jika Allah memberi permintaanmu, Allah Maha Tahu bahwa itu lebih buruk bagimu. Jika seseorang memahami tentang hal itu, maka dia tidak pernah kecewa.
Jangan kecewa dan jangan pula putus asa. Kekecawaanmu akan merusak dirimu dan keputusasaanmu akan merusak hati dan pikiranmu. Jika engkau menjalani kehidupanmu dengan penuh semangat dan optimisme, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang kamu alami itu sudah menjadi takdir dan qada’ Tuhan, maka engkau akan menikmati hidupmu bagaikan tanpa masalah. Jika harapanmu terpenuhi, maka terimalah itu dengan sikap syukurmu. Dengan syukurmu, sebesar apa pun nikmat yang menyenangkan yang menimpamu, engkau tidak akan pernah lupa daratan. Jika harapanmu tidak terpenuhi, maka terimalah itu dengan sikap sabarmu. Dengan sabarmu, sebesar dan sebanyak apa pun masalah yang engkau hadapi, engkau tidak akan pernah tenggelam dalam penderitaan. Dua sikap inilah yang harus kau miliki selama hidupmu.
Allah menyatakan di dalam Al-Qur’an: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf [12]: 87).




