Dakwah TGB (47) TIPS MERAWAT DAN MEREKATKAN NKRI

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Di ujung ceramah maulid Nabi Muhammad saw. oleh Tuan Guru Bajang di tanah Bumbu Banjar Kalimantan Selatan pada 1 Desember 2018, beliau menyampaikan perihal cara kita merawat dan merekatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini.

Tips merawat dan merekatkan NKRI seperti yang disampaikan oleh ulama jebolan Al-Azhar Cairo Mesir dengan predikat Summa Cum Laude tersebut adalah (pertama) dengan memperbanyak panjatan doa yang baik untuk kebaikan bangsa dan (kedua) mensortir semua berita-berita yang masuk di HP kita masing-masing.

“Keadaan kita sebagai bangsa, butuh banyak doa dari kita. Mari kita doakan Indonesia agar dijauhkan dari segala mara bahaya. Kita doakan tanah Bumbu selalu dalam keberkahan. Kita doakan diri sendiri, anak-anak, keluarga, tetangga-tetangga, sahabat-sahabat, dan seluruh kaum muslimin-muslimat selalu dalam pemeliharaan Allah swt.”

Demikian (perekat pertama) ajakan Tuan Guru Bajang untuk memanjatkan doa dengan amat komplit dan menyeluruh, demi kebaikan kita dan bangsa Indonesia ke depannya.

Syaikh TGB berharap kita tanpa henti untuk memperbanyak doa untuk kebaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Terlebih suasana bathin sebagai bangsa “sedang hangat”, sebagian teman-teman yang lain sedang memiliki hajat akbar berupa reuni 212 di Monas Jakarta.

“Mungkin sekarang ada suasana di mana kita terasa saling berjauhan, mudah-mudahan didekatkan oleh Allah swt.” Demikian harap dan doa ulama muda asal NTB yang dikenal santun itu.

Kesantunan dan pemikiran TGB yang moderat dan selalu mengedapankan akal sehatnya dalam memandang setiap problem apapun termasuk terkait kebangsaan, membuat beliau tak berjarak dengan siapa pun.

“Pokoknya kita doakan semua anak-anak bangsa agar kita semua selalu dalam pemeliharaan Allah swt.” Katanya berdoa tanpa jemu.

BACA JUGA  BERGURU KEPADA MATAHARI (Sosok Inspirator dari Pahlawan Nasional asal NTB)

Namun, di sisi lain Tuan Guru Bajang juga mengingatkan kita, bahwa selain fokus pada memanjatkan doa, kita juga harus memperhatikan musuh dari doa itu sendiri. Apa musuhnya? عمل يخالف الدعاء (amal yang menyalahi doa).

Apa maksudnya?

Ketua OIAA tersebut menyampaikan maksudnya. Ada –misalnya–, sesorang yang berdoa agar memperoleh keluarga yang sakinah, tetapi hal-hal sepele dalam keluarganya diperselisihkan setiap hari, sepanjang waktu. Terhadap istrinya, bukan diberikan cinta, tapi kemarahan dan kebencian yang terawat.

Sama juga halnya, seseorang yang selalu berdoa untuk saudaranya اللهم ألف بين قلوبنا (Ya Allah, lembutkan hati-hati kami. Eratkan persaudaraan kami). Tapi, perilaku yang ditampilkan ke publik adalah selalu curiga dan membenci kepada sesama anak bangsa.

Antara panjatan doa dengan perilakunya berseteru dan tak menyatu. Perilakunya bermusuhan dengan doa. Tentu, doa takkan pernah terwujud bila demikian.

“Kalau kita memang cinta Indonesia, jangan kita membuat hal hal yang justru merusak Indonesia yang kita cintai ini.” Kata TGB mengutip perkataan salah seorang putra Bapak Haji Maming shahibul hajat.

Oleh sebab itu, maka (perekat kedua) menjadi tugas kita bersama untuk semakin merekatkan Indonesia yang kita cintai ini dengan berlaku bijak dalam bermedsos terutama dalam mengkonsumsi berita-berita bohong yang masuk di HP kita.

“Bahkan kalau pun benar, tiak semua yang benar kita sebarkan. Menyebarkan kebenaran itu ada ukurannya. Menyebarkan kebenaran harus ada asas manfaatnya.” Tegas Gubernur NTB dua priode ini (2008-2018 M.).

Terkait menyebarkan berita ini, Ketua PBNW tersebut sering mengkaitkannya dengan kisah Muaz bin Jabal seorang sahabat yang hafidz al-Qur’an. Di mana saat beliau menjadi imam shalat, pada rakaat pertamanya membaca surah al-Baqarah (surah yang panjang hampir 3 juz).

BACA JUGA  Hari Pertama Menerapkan PSBB, Warga Makassar Yang Berkumpul disemprot Air 

Dengan bacaannya yang panjang itu, membuat seorang sahabat “mufarqah” (memisahkan diri dari jamaah), karena ia merasa harus segera menunaikan kebutuhan atau kewajibannya yang lain. Tidak bisa dia berlama-lama sampai menyelesaikan bacaan surah hingga tuntas.

Selesai shalat. Sahabat Muaz ra. bertanya kepada jamaah, “Siapa gerangan yang keluar pada rakaat pertama tadi?”. Para makmum pun memberitahu yang keluar adalah si “fulan”. Maka seketika itu Muaz melabeli orang tersebut “Munafiq”.

Singkat cerita. Perkataan sahabat Muaz pun sampi ke telinga si “fulan”. Merasa dikatain yang tidak pantas, lantas mengadu kepada Rasulullah saw. Ia hadir melaporkan secara detail cerita dan alasannya “mufaraqah”. Nabi saw. pun memanggil si sahabat Muaz ra.

Apa kata Rasul saw. di depan Muaz? أفتان يا معاذ (Apakah kamu suka membuat fitnah wahai Muaz?”)

Nah, dari sepenggal cerita tersebut kata TGB, bahwa kata “membuat fitnah” tidak hanya berlaku untuk sesuatu yang tidak baik semata. Tapi, bisa jadi “membuat fitnah” itu manakala kita sedang berbuat baik tapi kadar dan waktunya tidak tepat. Caranya tidak sesuai, sehingga tidak mendatangkan rasa tenang dan damai.

Pelajaran pentingnya di sini (kata TGB), bahwa berislam tidak hanya urusan menghadirkan kebaikan semata. Tapi, harus menyampaikan kebaikan itu dengan ukuran dan kadara serta cara yang tepat seperti yang diajarkan Rasulullah saw.

Wa Allah A’lam!

Mendagi, 20 Nopember 2020 M.