Dakwah TGB (32) 2 AYAT OBAT LAHIR BATHIN

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Secara umum, ada dua penyakit yang butuh penanganan cepat, tapi dengan resep dan cara pengobatan yang berbeda. Penyakit apakah itu? Itulah penyakit zahir dan penyakit bathin.

Bila kita terkena penyakit zahir seperti luka, bisulan dan lainnya , maka cukup pengobatannya dengan berobat ke dokter secara medis. Sedangkan, jika kita mengalami penyakit bathin, maka berobatnya kepada ulama untuk minta nasihat agar diajarkan pengobatan yang dituntun agama.

Sehubungan dengan itu, kita patut bersyukur kepada Allah swt., bahwa Dia masih menabur ke-Maha Pemurah-an-Nya dengan memberikan kita satu resep obat yang multi guna, yakni dengan membaca dua ayat obat zahir bathin.

Iklan

Manakah dua ayat tersebut?

Dua ayat yang dimaksud adalah dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah.

ءامن الرسول بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كل ءامن بالله وملائكته وكتبه ورسله لا نفرق بينا أحد من رسله وقالوا سمعنا وأطعنا غفرانك ربنا وإليك المصير . (٢٨٥) .

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت ربنا لا تؤاخذنآ إن نسينآ أو أخطعنآ ربنا ولا تحمل علينآ إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين . (٢٨٦) .

Dua ayat ini kata sebagian ulama, disebut sebagai ayat pengecualian dari semua ayat-ayat al-Qur’an yang lain. Maksudnya, semua ayat-ayat yang lain, diturunkan melalui malaikat Jibril as.

Sementara dua ayat ini diterima langsung oleh Rasulullah saw. saat beliau mikraj ke langit. Demikian keterangan Tuan Guru Bajang saat pengajian tafsir di Islam Center jumat kemarin (3-10-2020).

Dua ayat ini –sebut TGB–, dalam sebuah hadis dinyatakan, dua ayat suci ini diberikan khusus kepada diri Nabi Muhammad saw., tidak diberikan kepada para nabi selainnya, karena diambil من كنز تحت العرش dari perbendaharaan yang ada di bawah Arsy.

BACA JUGA  Sinergi TNI Polri Himbau Pengurus Masjid Al Ikhlas Karangnongko

Makanya kata TGB, “Kalau bisa dua ayat ini kita amalkan. Sebab, kata para ulama dua ayat ini sangat ‘mujarrab’ diamalkan setiap selesai shalat.” Bahkan, Rasulullah saw. dan para sahabatnya menggunakan ayat tersebut sebagai rukiyah mereka.

Dan hebatnya –lanjut TGB–, dua ayat tersebut mengandung empat doa, yang konon langsung diaminkan oleh Allah swt. Dikabulkan-Nya empat permohonan itu.

Manakah empat permohonan tersebut?

Permohonan pertama;

ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا .

Ini sebuah permohonan kepada Allah agar kita tidak disiksa akibat perbuatan yang kita kerjakan saat lupa dan salah. Konon, munajat ini langsung dikabulkan oleh Allah نعم (ya!). Nyatanya dalam Islam, tidak dihitung berdosa orang yang lupa sampai ia ingat.

Termasuk kita memohon agar kita tidak disiksa karena sebab salah. Baik salah persepsi atau salah dugaan kita kepada seseorang, yang ternyata setelah berlalu sekian hari baru disadari. Nah, kita mohon ampun untuk itu.

Permohonan kedua;

ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا .

Kita memohon agar, “Jangan Engkau berikan kami beban yang menyulitkan, sebagaimana Engaku timpakan kepada orang-orang sebelum kami.”

Kata TGB, doa ini terkabul. Sebagaimana dimaklum, bahwa Bani Israil itu shalat 50 kali sehari semalam. Sementara kita dikurangi sampi menjadi 5 waktu. Nah, kita pun memohon untuk diringankan saat beramal.

Menurut TGB juga, kadang إصرا atau beban itu bisa berupa perasaan “malas”. Bisa malas ibadah, sering mengundur-undurkan shalat, atau malas saat melaksanakan ibadah dan kebaikan lainnya.

“Ada yang secara maknawi menyulitkan kita beramal, maka kita mohon diringankan untuk itu, dan Allah kabulkan”. Kata Tuan Guru ahli tafsir tersebut.

Permohonan ketiga;

BACA JUGA  40 HADIST IMAM NAWAWI : HADIST KE 8

ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به .

Inilah doa supaya Allah tidak membebankan sesuatu yang tidak kita sanggup menanggungnya. Bukan kita hanya meminta takdir yang baik saja. Tapi, minta juga satu hal yang kalau –misalnya– kita mendapati satu musibah, kita bisa menanggungnya.

Karena itulah –tegas TGB–, maka salah satu doa yang diajarkan itu ialah;

يا لطيف ألطف بنا ألطف بنا في ما جرت به المقادر .

Kita bermohon agar musibah apapun yang menimpa; seperti musibah kematian anggota keluarga, kehilangan harta, atau kebakara motor, rumah atau perahu dan lainnya, kita memohon agar kita dalam kondisi siap menerima semuanya. Dan –menurut TGB– ini penting bagi kita.

Karena, “Betapa banyak orang yang tidak sanggup menerima musibah atau takdir dari Allah Yang Mahakuasa. Mereka tidak bisa menerima kenyataan, akhirnya stres!.” Demikian ulas Tuan Guru Bajang.

Kekuatan doa ini membuat kita seringkali melihat dua orang yang sama-sama mengalami takdir buruk, tapi di antara keduanya ada yang terlihat sabar dan menerima takdir, sementara teman yang satunya stres dan depresi.

Sadarilah oleh kita bahwa, “Tidak ada gunanya kita terus meminta takdir bagus. Tidak bisa!. Takdir itu pasti ada yang menyenangkan, menyusahkan dan menyedihkan. Tugas kita ialah memohon agar diberi ketabahan dan kesanggupan untuk menanggungnya.” Kata TGB menyadarkan kita.

Terakhir, pada dua ayat akhir surah al-Baqarah itu ada permohonan;

واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين .

Kata TGB dengan doa ini, kita memohon dan bermunajat kepada Allah, agar kiranya kita dikaruniakan kemenangan dalam kehidupan di dunia ini, saat menghadapi orang-orang jahat, orang-orang yang tidak baik, dan orang-orang yang berniat buruk kepada kita dan juga agama Islam ini.

Wa Allah A’lam!