Dakwah TGB (31) BERAGAM TUNTUNAN BERZIKIR

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Alhamdulillah, kajian tafsir di Islam Center (2-10-2020) bakda shalat Jum’at berlangsung khidmat. Terlebih, didukung oleh suara qorinya yang bersuara amat merdu. Demikian persaksian Tuan Guru Bajang memuji dan mengapresiasi qori Internasional tersebut, Ustaz H. Hasibuan, S.Pd.I.

Sementara untuk dirinya sendiri, untuk ke sekian kalinya TGB berujar, “bahwa kita tidak sedang mengaji tafsir, dalam pengertian biasa, yakni mengaji pakai kitab tafsir langsung. Tapi, mudah-mudahan ini sebagai anak tangga menuju ke sana.”

Iklan

Demikian kata TGB merendah. Padahal kita mengetahui bersama, beliau adalah pakarnya tafsir. “Masternya tafsir itu adalah TGB” kata Gus Baha.

TGB memang pintar mengapreasi dan amat peka untuk memberi motivasi. Makanya gaya qori itu menjadi inspirasi bahasannya di awal kajian tafsir surah al-Baqarah 93 kali itu. Katanya, setiap kali ia melihat para qori membacakan al-Qur’an, selalu semua badan qori bergerak.

Itu yang disebut oleh ulama –kata TGB–, semakin banyak anggota badan kita yang terlibat saat berzikir membaca al-Qur’an, maka semakin “afdhal” (utama).

Ulama yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB (2008-2018) ini, bercerita akan fenomena berzikir di Cairo Mesir. Ceritanya, kalau kita melihat tarekat-tarekat Tasauf di sana, anggota badan mereka semua ikut bergerak. Bahkan, ada yang sampai berdiri, saking mereka tidak tahan. Pun, lebih dari itu ada yang sampai berputar-putar.

“Semakin banyak العضو (anggota) badan ini bergerak, ikut dalam berzikir kepada Allah, maka berzikir itu semakin ‘afdhal’ dan semakin baik.” Demikian kata TGB mengutip perkataan Imam Nawawi ra.

Namun, walau demikian, ada juga orang yang berzikir dengan cara diam, tanpa suara dan tanpa bergerak, itu juga tidak masalah. Kita juga tidak alasan untuk menyalahkan mereka.

BACA JUGA  BKOW NTB Kerjasama Dengan YKPI Cegah Laju Kanker Payudara.

Maka intinya –lanjut TGB–, kalau misalnya kita melihat ada orang yang berzikir dengan menggerak-gerakkan seluruh badannya, jangan diremehkan, dicela dan disalahkan. Sebab, mereka ingin selain lisannya yang bergerak, seluruh anggota badannya juga ingin diikutkan berzikir.

Bukankah di hari kiamat kelak, seluruh anggota badan ini akan menjadi saksi?

Betapa bahagianya andai di akhirat kelak –misalnya– badan ini bersaksi di hadapan Allah. “Ya Allah, saya ini ikut bergerak saat berzikir, tidak hanya saat mencari rezeki. Tapi, saya ikut berlelah-lelah saat mengingat-Mu.” Sungguh, dengannya kita akan sangat terbantu.

“Itulah tuntunan berzikir yang diajarkan ulama”. Tegas TGB.

Dan seperti itu pula yang diajarkan dalam al-Qur’an. Berikut ayat yang dikutip TGB:

يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا .
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41).

Dari ayat tersebut kita mengetahui –menurut TGB– bahwa inti yang diajarkan kitab suci ialah berzikirnya saja. Adapun cara-caranya, sepenuhnya diserahkan kepada kita. Ada yang bisa berzikir diam, bergerak, duduk atau berdiri semuanya bergantung pada kita.

Karena itu, TGB mengajak kita belajar Islam dengan baik dan utuh dalam memahaminya, sehingga kita bisa tepat menempatkan sesuatu. Sebab, perintah Allah itu ada yang bersifat global dan terperinci. Dan yang terperinci itu pun harus dilakukan sesuai perinciannya.

Dan ingat –kata TGB– yang terperinci itu juga ada dua: Pertama, ada yang perinciannya للتحديد karena pembatasan. Tidak boleh dilewati atau pun dikurangi. Kedua, للتمثيل untuk sebagai perumpamaan. Hanya contoh semata.

Mana contoh masing-masing?

TGB mencontohkan للتحديد seperti jumlah rakaat shalat wajib lima waktu. Nabi saw. bersabda:
صلوا كما رأيتموني أصلي .

Maka, dengan hadis ini kita diberikan teladan langsung oleh Rasulullah saw. Bahwa –misalnya– Maghrib itu tiga rakaat. Ketentuan dan contoh dari Nabi saw. ini tidak bisa ditambah atau pun dikurangai. Kenapa? Karena bilangan tiga ini sebagai للتحديد pembatas atau توقيف ukuran cukupnya.

BACA JUGA  Mantan Kepala BNPT Irjen (Purn) Drs Ansyaad Mbai Pelibatan TNI yang Memiliki Peran Penting Dalam Kontra Terorisme

Sementara, contoh dari Nabi saw. yang termasuk bilangan للتمثيل bilangan yang hanya sebagai contoh saja adalah seperti jumlah zikir selesai shalat. Tasbih, tahmid dan takbir yang dibaca masing-masing 33 kali dan dilengkapi dengan kalimat tahlil berikut ini satu kali.

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير .

Nah, kata TGB menjelaskan. Bilangan zikir 33 ini tidak sama dengan bilangan 3 rakaat shalat Maghrib. “Kalau yang tadi itu bilangan للتحديد, maka yang sekarang ini adalah bilangan yang berarti للتمثيل.” Jelasnya.

Karena itulah –ajak TGB–, maka kalau kita menemukan orang berzikir kembali setelah selesai zikir bakda shalat sesuai tuntunan Nabi tadi, jangan disalahkan!. Sebab, hal itu (bilangan 33) bukan pembatasan.

“Sesuatu yang merupakan tuntunan umum, dan tidak ada pembatasannya atau larangannya, berarti dia tetap dalam keumumannya.” Tutup Tuan Guru Bajang.

Walhasil kata TGB, semua itu kita bisa ketahui dan pahami, kalau kita belajar agama dengan baik dan benar.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 3 Oktober 2020 M.