Dakwah TGB (29) WASATIYAH SEBAGAI KARAKTERISTIK ISLAM

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa*

Wasatiyah adalah kalimat bahasa Arab yang diadopsi menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Padanan kata yang paling sederhana dari istilah tersebut ialah “sikap pertengahan”.

“Wasatiyah menurut bahasa memiliki arti pertengahan, proporaionalitas, keadilan kebaikan, keseimbangan, tidak berlebihan, dan tidak pula mengabaikan.” Kata Tuan Guru Bajang.

Iklan

TGB menyampaikan pengertian wasatiyah tersebut pada acara diskusi Nasional melalui media zoom metting yang bertajuk, “KONTESTASI WASATIYAH (Perebutan Makna dan Urgensi Pembumiannya di Masyarakat)”.

Sebuah diskusi yang amat bergizi dan menarik, sebab diikuti oleh tokoh Islam dan tokoh bangsa, seperti tokoh sekelas Prof. Dr. Quraish Shihab, MA dan Bapak H. Lukamnul Hakim Saifuddin (Mentri Agama RI 2014-2019).

Menariknya lagi, dari pengertian wasatiyah secara bahasa seperti yang dikemukakan di atas. Maka, wasatiyah dalam pandangan Tuan Guru Bajang, “Wasatiyah mempunyai dua tataran. Pertama, wasatiyah sebagai karakteristik dalam ajaran Islam. Dan kedua, wasatiyah sebagai sikap keberagamaan.”

Nah, wasatiyah sebagai karakteristik dalam ajaran Islam, maka kita bisa melihat dalam seluruh aspek ajaran Islam itu sendiri. Baik dari sisi akidah, syariah atau fikih, akhlak dan muamalah.

Dalam makna tataran pertama inilah, TGB merasa –wajar saja– Islam secara obyektif sudah pasti ada di dalamnya proporsionalitas atau moderasi.

Dari penghayatan demikian itu, akhirnya kita bisa melihat, bagaimana Islam memandang hal-hal penting dalam kehidupan seperti hubungan antara wahyu dengan akal, iman dan ilmu, dunia dan akhirat, ruh dan jasmani, juga yang material dan spiritual, serta semua hal-hal yang kita kenal dalam kehidupan, ternyata Islam selalu memandangnya secara proporsional.

Sehingga –menurut TGB– sah dan valid kita mengatakan الإسلام الدين و الوسطي (Islam adalah agama dan wasatiyah). الوسطي itu adalah nilai atau karakteristik yang melekat secara utuh dalam seluruh aspek ajaran Islam.

BACA JUGA  Prof Dr H Agustitin :KONSISTENSI MENGGAPAI MAQAM SABAR

Hal ini pula yang bisa kita lihat, saat bagaimana al-Qur’an berbicara dalam sebuah ayatnya yaitu:

وما جعل عليكم في الدين من حرج .
“Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan bagi kalian dalam agama suatu kesempitan.” (QS. al-Hajj: 78).

Atau kalau menurut Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya, ayat tersebut sejalan dengan ayat ini,

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر .
“Allah menghendaki untuk kamu kemudahan dan Dia tidak menghendaki buat kamu kesulitan.” (QS. al-Baqarah: 185).

Sedang kalau dalam bahasa Rasulullah saw. dikatakan:

إن الدين يسر ولا يشد الدين أحد إلا غلبه .
“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberatkan diri dalam agama ini kecuali sikapnya tersebut akan mengalahkannya.” (HR. Bukari).

Inilah bahasan wasatiyah dari sisi tataran esensi. Artinya, wasatiyah ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa dilepaskan. Sama halnya dengan berharganya emas yang memang zatnya atau materialnya sendiri bernilai dalam sepanjang sejarah dan di semua peradaban manusia serta dalam situasi apapun.

Berbeda halnya –mohon maaf kata TGB– uang kertas yang padanya melekat konvensi dan persepsi manusia. Konvensi artinya kalau –misalnya– uang seratus ribu ditarik atau dicabut oleh Pemerinah, maka uang kertas tersebut tak bisa bernilai lagi. Ia hanya tinggal sebatas kertas biasa.

Sementara uang kertas dalam tataran persepsi atau penerimaan, maksudnya ialah misalnya tiba-tiba negara lain tidak menganggap berlakunya lagi uang kertas, maka secara otomatis uang kertas tersebut juga tidak bernilai.

Nah, wasatiyah terhadap Islam, bukan dalam tataran persepsi. Tapi, wasatiyah dalam Islam ialah sebuah perspektif. Artinya, wasatiyah adalah sesuatu yang melekat pada ajaran Islam itu sendiri secara utuh dan kuat.

BACA JUGA  Dari Buruh Pencuci Kapal Menuju Presiden RI

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 25 September 2020 M.

*#Sekretaris_PCNW_Kediri
#Dakwah_Nusantara_TGB
#Bersambung_Ke_Seri_2