Catatan Perjalanan : Polemik Nama Bandara

banner post atas

Oleh : Firman Sidik

Surabaya adalah salah satu kota terpadat di Indonesia. Bahkan bandara Juanda Surabaya adalah salah satu yang terpadat setelah Soekarno – Hatta Jakarta. Pembangunan yang berkesinambungan dan terstruktur. Beberapa hari di kota ini,saya melihat Surabaya masih berbenah. Memperbaiki gorong – gorong, fasilitas jalan, perumahan dan lain sebagainya.

Iklan

Nama bandara Juanda diambil dari salah satu pahlawan nasional yang namanya masih melekat di telinga dan otak masyarakatnya. Ir. H. Juanda Kartawijaya adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang dibuktikan dengan penerbitan surat keputusan presiden no 244/1963. Selain itu, untuk menghormati jasanya dibangunlah museum dan monumen Juanda di Jawa barat. Begitulah penghargaan besar yang diberikan kepada pahlawan nasionalnya.

Jadi,jasa pahlawan akan tetap di ingat sampai anak cucu kita kelak karena nama – nama mereka berada di sudut – sudut sampai pusat kota.

Di NTB,nama bandara masih menjadi polemik hingga saat ini. Nama bandara yang semulanya adalah bandara internasional Lombok ( BIL ) di per indah dengan nama BIZAM atau Bandara internasional Zainuddin Abdul Madjid. Tentu ini bukanlah perkara sepele, karena keputusan pemerintah berbenturan dengan keinginan sebagian masyarakat sekitar bandara.

Bandara yang berlokasi di Lombok Tengah ini masih menjadi perbincangan hangat dari jajaran pemerintahan sampai jajaran lembaga swadaya masyarakat (LSM). Banyak yang mengambil statement tentang hal tersebut. Terlebih ketika masyarakat yang langsung turun untuk melepas plang nama bandara yang baru saja di pasang. Tentu banyak tokoh dan masyarakat yang heran akan hal tersebut. Apa masalahnya jika nama bandara kita di ubah ?. Bukankah itulah cara kita menghargai para pahlawan.

Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah pahlawan nasional berasal dari NTB yang dibuktikan dengan surat keputusan presiden no 115/2017. Pahlawan yang belum tentu familiar di telinga anak – cucu kita bersama. Lantas bagaimana nanti jika nama – nama mereka kita lupakan ?. Tentu semangat dalam perjuangannya tidak bisa kita wariskan.

BACA JUGA  TUAN GURU BAJANG YANG SELALU MENYERUKAN PERDAMAIAN

Maulana Syaikh adalah pahlawan yang fokusnya pada pendidikan, sosial dan dakwah. Semasa penjajahan di Indonesia terlebih di Lombok, Maulana Syaikh membangun madrasah yang dijadikan tempat untuk mendidik kaum pribumi. Madrasah yang fokusnya untuk mengkaji kitab ini digunakan untuk membuat basis kekuatan yang pada suatu waktu digunakan untuk melawan jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Sebelum mendirikan madrasah, Maulana Syaikh pernah merasakan pendidikan di As-saulatiyah dan tinggal belasan tahun untuk belajar. Dinobatkan sebagai salah satu murid yang paling cerdas diantara ribuan santri yang belajar waktu itu. Setelah menuntaskan studinya, Maulana Syaikh kembali ke tanah air.

Ketika pulang ke Lombok, Maulana Syaikh sangat heran sekali kenapa banyak paham animisme yang berkembang di tanah kelahirannya. Akhirnya dibangunlah pesantren Al – Mujahidin yang menjadi cikal bakal kelahiran organisasi masyarakat yang bernama Nahdlatul Wathan. Dan Nahdlatul Wathan inilah yang digunakan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang pada saat itu membuat Tuhan cemburu karena adanya paham animisme.

Kecintaannya pada tanah Sasak pun banyak di tuangkan dalam lagu – lagu perjuangan, wasiat renungan masa dan doa doa yang dibuatnya.

Lantas apa salahnya jika penamaan bandara di rumah kita,kita sematkan nama pahlawan. Ini juga bentuk ikhtiar kita untuk mewariskan semangat kecintaan terhadap tanah air. Ini juga cara kita untuk memperkenalkan pahlawan nasional dari NTB ke masyarakat luas baik yang domestik maupun mancanegara.

Saya ingat tulisan Agus Mustofa dalam bukunya tafakur yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Kita di Indonesia secara umum terlalu mempermasalahkan hal – hak yang sepele. Ketika orang lain berbeda pandangan dengan kita,kita langsung menghukumi orang dengan sangat keras. Padahal hal tersebut bisa di selesaikan dengan duduk bersama ditemani secangkir kopi dan pembahasan yang menarik. Meskipun kita berbeda,tapi tidak selayaknya kita di beda – bedakan.

BACA JUGA  Gubernur Yakinkan Investor Tentang Industrialisasi Di NTB.

Kita sudahi pelomik ini,mari kita fokus berbenah. Saatnya kita membangun. Karena harus ada hal yang harus kita banggakan dan wariskan selain bangunan yang megah dan SDM yang berkualitas. Terlebih, NTB menjadi sorotan dunia saat – saat ini karena dalam waktu dekat akan di ada kan nya Moto GP di sirkuit Mandalika.

Seharusnya ini menjadi gawe kita bersama,bukan hanya pemerintah. Karena pemerintah sudah menggelontorkan dana yang besar untuk membangun hal tersebut. Mengutip kata dari bung Karno ” meskipun kita adalah negara yang terbelakang,harus ada hal yang patut kita banggakan”.

Untuk menyikapi permasalahan yang masih ada hingga saat ini. Kalau kata Gus Dur “kalau ada perdebatan, cukup sampai di kerongkongan, jangan dibawa sampai ke hati”. 😊

Surabaya,13 Januari 2021