Benarkah orang yang batal puasanya tidak boleh makan dan minum ?||edisi ke-23 1443 H

Benarkah orang yang batal puasanya tidak boleh makan dan minum ?||edisi ke-23 1443 H

Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan menahan syahwat untuk tidak berhubungan badan. Jadi, bagi orang yang masih dalam keadaan berpuasa, tidak boleh makan dan minum. Bila dia melakukannya, maka menjadi batal puasanya.

Ketentuan bagi yang sedang berpuasa sudah jelas, yaitu menahan diri. Lalu bagaimana ketentuan bagi orang yang tidak berpuasa, apakah dia boleh untuk makan dan minum pada siang hari saat orang sedang berpuasa Ramadhan ?.

Untuk menjawab permasalahan ini, perlu terlebih dahulu kita perhatikan apa saja sesuatu yang menyebabkan puasa menjadi batal.

Secara garis besarnya, segala yang membatalkan puasa dapat dibagi kepada dua bagian yaitu :
1. Hal yang membatalkan sebab bukan udzur syar’i. Misalnya : sengaja membatalkan puasa, tidak berniat pada malam harinya, berbuka belum waktunya, sahur sudah lewat waktunya, masuknya air ke lubang anggota badan disebabkan oleh perbuatan yang tidak disyariatkan.

حالات وجوب القضاء مع الإمساك إلى الغروب : ست:

١ ـ على متعد بفطره

٢ ـ على تارك النية ليلا ولو سهوا .

٣ ـ على من تسخر ظانا بقاء الليل فبان خلافه .

٤ ـ على من أفطر ظانا الغروب فبان خلافه .

ه ـ على من بان له يوم ثلاثين شعبان أنه من رمضان . –

٦ ـ على من سبقه ماء غير مشروع «غير مأمور به» : من مضمضة أو استنشاق أو غسل

Artinya : Adapun hal-hal yang mewajibkan qadha puasa dan harus menahan diri (seperti halnya orang yang berpuasa tidak makan dan minum) ada Enam (6):

1. Atas orang yang sengaja membatalkan puasanya

2- Orang yang meninggalkan niat di malam hari, meskipun lupa (tidak sengaja)

3 Orang yang makan sahur mengira masih malam, tahunya sebaliknya (waktu sahur telah habis)

4 Orang yang berbuka puasa karena mengira matahari telah terbenam, tahunya sebaliknya (matahi belum terbenam)

(3). Orang yang tidak puasa, padahal sudah jelas padanya tanggal tiga puluh Sya’ban, bahwa Ramadhan telah masuk –

6- Atas orang yang masuk air ke rongganya sebab kemumur (madmadah), memasukkan air kehidung (istinsyaq) atau sebab mandi yang tidak diperintah (tidak disyaratkan). Dikutip dari kitab attaqrirat as sadidah, qismul ibadah, halaman 457 karangan حسن بن احمد بن محمد الكاف
Penerbit: دار الميراث النبوي

2. Hal yang membatalkan karena ada udzur syar’i. Misalnya : karena haid, karena nifas, karena menyusui, karena hamil, karena musafir atau karena melahirkan.

Adapun pada katagori pada no 1, maka meskipun puasanya telah batal, dia wajib menahan diri seperti halnya orang yang berpuasa. Adapun pada bagian nomor 2, meskipun puasanya batal dia masih dibolehkan untuk makan dan minum asalkan tidak menggangu kenyamanan orang yang berpuasa. Misalnya makan secukupnya ditempat yang tidak dilihat orang (makan didalam rumah atau tempat tersembunyi).

Wallahu A’lam

Fath

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA