Prof Dr Harapandi :Pilu, Sedih dan Malu

Prof Dr Harapandi :Pilu, Sedih dan Malu

“Sesiapa yang belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu, bersiaplah untuk menjadi jahil selama-lamanya”.
Di sekolah sederhana (SDN Tinggar) tempat kami merajut asa menggembleng jiwa, pernah terjadi satu kejadian menggelikan sekaligus memalukan.
Kebiasaan pagi hariku, seperti juga, kebiasaan anak-anak seusiaku, tidak pernah makan pagi (nyampah:Lombok) dengan nasi, karena tidak ada nasi yang akan dimakan, kami terbiasa dengan bekal makanan sekedarnya ubi rebus atau jagung goreng antara bekal yang dapat dimakan di sela-sela istirahat.

Mungkin makanan-makanan tersebut tidak dapat memberhentikan suara musik (bunyi perut) yang sedang lapar tak terelakkan, namun itulah suasana yang harus kami jalani.
Suatu pagi hari, biji-bijian jagung goreng tersimpan rapi dalam saku celana warna-warniku, sesampai di sekolah jagung goreng tak langsung disantap, saat kelas dimulai, bapak Satrah, Allah yarham guru agamaku, memintaku untuk menulis ayat al-Qur’an di atas papan tulis, kapur tulis warna putih sudah siap di tangan kananku, secara dramatis, tiba-tiba kapur tulisnya terjatuh, lalu dengan sigap badan dan kepala aku tundukkan tanpa menyadari jagung-jagung goreng yang tersembunyi di saku celanaku berebut keluar “buuwaar” berhamburan bagaikan biji-biji tasbih yang terjatuh karena terlepas dari ikatannya.

Menyaksikan kejadian itu, tak ayal seluruh isi ruangan riuh bagaikan nyayian sorak-sorak bergembira dari teman-teman kelasku, mereka meneriakkan nada “ejekan” nan pilu merasuk jiwaku, malu mesti dibuang jauh-jauh, karena tidak ada sebuah kejadian yang tak direncanakan Tuhan bahkan daun kering yang terjatuh dari pohon pun pasti merupakan rencanaNya.

Semua halangan, rintangan dan kepahitan yang sudah dialami akan terasa manis dan membawa kenikmatan jika kita benar-benar dapat memposisikan segala kejadian sebagai motivasi dan dorongan. Namun, jika sebaliknya segala rintangan kita anggap sebuah ujian, musibah tanpa makna, maka bersiap-siaplah gagal selamanya.

Ingatlah ejekan, cercaan dan hinaan bahkan perlakuan zolim yang engkau dapatkan akan menjadi investasi yang sangat berharga di akhiratmu jika engkau sikapi dengan baik terutama ketika kita dapat memaafkan kesalahan orang lain.
Tahun demi tahun rutinitas jalan kaki menuju sekolah SDN Tinggar “darurat” ini dijalani dengan penuh keseriusan, tanpa lelah dan keluh-kesah walau serba kekurangan terus memompa semangat juang, pada akhirnya tahun 1978/1979 perjuangan telah usia dan dinyatakan lulus dengan memperoleh selembar kertas bertuliskan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Dasar yang ditanda tangani oleh sang kepala sekolah Bapak Sinarah.

Tiada kesusahan jika dibarengi dengan keikhlasan, tak ada kebahagiaan jika disertai dengan keluh kesah dan tak kan diperoleh manisnya hidup jika tak bersungguh-sungguh dalam perjuangan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA