Tak Banyak yang Tahu: Dari Bangket Lauk Desa Sikur, Kini Khutbah Abu Akrom Dipakai Ribuan Masjid
Dari pelosok Lombok hingga mimbar-mimbar di seluruh Indonesia, perjalanan dakwah Abu Akrom menjadi bukti bahwa ketekunan mampu menembus batas ruang dan zaman.
JAKARTA, Sinar5News.com – Siapa sangka, dari sebuah lingkungan kecil yang hanya terdiri dari tiga rumah sederhana di tengah hamparan sawah, kini lahir karya-karya dakwah yang menggema di ribuan masjid di seluruh Indonesia. Sosok itu adalah Marolah Abu Akrom, yang akrab disapa Ustadz Amrullah di kalangan santri dan masyarakat.
Ia merupakan putra daerah dari Lombok Timur, tepatnya di Desa Sikur, Kecamatan Sikur. Masa kecilnya dihabiskan di kawasan terpencil bernama Bangket Lauk—sebuah perkampungan sederhana yang dahulu hanya dihuni oleh tiga kepala keluarga dengan rumah-rumah berepok di tengah persawahan.
Dari tempat yang jauh dari keramaian itulah, semangat juang dan ketekunan Abu Akrom ditempa. Keterbatasan tidak menjadi penghalang, justru menjadi bahan bakar untuk terus berkarya. Kini, di tengah aktivitasnya di Jakarta, ia konsisten menyalurkan gagasan dakwahnya melalui tulisan-tulisan yang menyentuh hati, terutama naskah khutbah Jumat.
Sejak akhir tahun 2019, ia secara rutin menulis dan mempublikasikan khutbah Jumat melalui Sinar5News. Hingga kini, ratusan judul khutbah telah tersusun rapi dan tersebar luas, menjangkau berbagai kalangan—mulai dari khatib di perkotaan hingga pelosok desa dan kampung terpencil di Nusantara.
Menariknya, naskah-naskah tersebut tidak hanya dibaca, tetapi juga digunakan secara nyata oleh para khatib. Tercatat, ribuan masjid di Indonesia telah memanfaatkan khutbah karya Abu Akrom sebagai materi utama dalam pelaksanaan ibadah Jumat. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu referensi khutbah paling konsisten dan berpengaruh di era digital saat ini.
Keberhasilan ini tentu tidak diraih secara instan. Dengan keuletan, kesabaran, dan ketekunan, Abu Akrom terus merangkai pesan-pesan dakwah yang mengedepankan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hubungan sosial antar sesama manusia. Nilai-nilai akhlak, adab, dan kebijaksanaan menjadi benang merah dalam setiap tulisannya.
Tak hanya itu, karya-karyanya juga mulai dilirik oleh media nasional seperti detik.com, serta terindeks dalam platform global seperti Google Books. Di ranah akademik, pendekatan dakwahnya dinilai inklusif dan kontekstual karena memadukan dalil Al-Qur’an dan Hadis dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti M. Quraish Shihab dan Nurcholish Madjid.
Bahkan pada masa pandemi, khutbah-khutbahnya mampu menjawab kebutuhan umat dengan mengintegrasikan perspektif keagamaan dan data ilmiah dari World Health Organization. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga solutif dan relevan dengan kondisi zaman.
Melalui kanal digital seperti Abu Akrom Channel dan SinarLIMA TV, pesan-pesan moral dan spiritual tersebut terus mengalir dan menjangkau audiens yang lebih luas. Ini menjadi bukti bahwa mimbar Jumat kini telah bertransformasi menjadi ruang literasi yang dinamis dan terbuka.
Lebih dari itu, ratusan khutbah yang telah tersusun secara sistematis ini dapat dikatakan sebagai salah satu dokumentasi khutbah Jumat paling lengkap dan konsisten di Indonesia saat ini. Sebuah capaian yang langka dan bernilai tinggi dalam dunia dakwah.
Sebagai langkah besar berikutnya, seluruh karya tersebut tengah dipersiapkan untuk dibukukan dalam sebuah proyek besar yang akan diterbitkan secara bertahap dalam beberapa jilid. Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi para khatib, dai, akademisi, dan masyarakat luas.
Bagi Abu Akrom, semua ini bukan sekadar pencapaian, melainkan bagian dari pengabdian. Ia berharap setiap khutbah yang ditulis dan disampaikan dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
“Semoga seluruh khutbah Jumat ini membawa manfaat luas, menjadi sumber keberkahan bagi dunia dan akhirat,” harapnya.
Dari Bangket Lauk yang sunyi hingga mimbar-mimbar yang ramai di seluruh Indonesia, perjalanan ini menjadi bukti bahwa karya tulus yang lahir dari ketekunan akan selalu menemukan jalannya untuk memberi cahaya bagi umat. (Redaksi media SinarLIMA)




