Cerita Pendek Ke-7 : Syukur di Bawah Rintik Hujan
Ahad, 11 Januari 2026, menjadi hari yang penuh syukur dan kebersamaan. Sejak pagi, saya ikut serta menerima dan menemani para tamu undangan yang datang silih berganti untuk mengucapkan selamat serta doa kepada Muhammad Rizky Saputra yang telah dikhitan. Pada hari itu, keluarga besar Bapak Muhammad Muchtar dan Ibu Ida Farida Wahyuningsih menggelar tasyakuran khitanan di lingkungan Perumahan Villa Gading Harapan 2 Blok A, RT 006 RW 002, Bekasi, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelancaran pelaksanaan khitan ananda tercinta.
Acara tasyakuran dikemas dalam bentuk doa bersama, disertai suguhan aneka makanan dan minuman yang disiapkan untuk para tamu undangan. Sejak pagi, tanda-tanda turunnya hujan mulai terlihat. Langit mendung menggantung cukup lama, menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya rangkaian acara syukuran.
Kekhawatiran itu pun menjadi nyata. Hujan turun cukup lebat. Meski tenda telah dipasang, derasnya air hujan membuat tenda tidak sanggup menampung beban air sehingga terjadi kebocoran dan air yang tertampung harus beberapa kali dibuang agar tidak semakin berat.
Saya sendiri berada di bawah tenda dan tidak bisa ke mana-mana karena hujan yang turun cukup deras. Duduk berlama-lama bersama para tamu, rasa lelah dan kantuk pun datang tanpa bisa ditahan. Akhirnya, saya tertidur sambil duduk di salah satu kursi, ditemani suara hujan yang jatuh bertalu-talu.
Di tengah kondisi tersebut, alunan musik karaoke dangdut tetap diputar untuk menghibur para tamu undangan yang hadir. Suasana semakin hangat ketika Ibu Kasiah, selaku Ibu RT 006 RW 002 Perumahan Villa Gading Harapan 2 Blok A Bekasi, turut bernyanyi bersama ibu-ibu lainnya. Keceriaan pun tercipta, seakan hujan tak mampu menghalangi rasa kebersamaan dan kekeluargaan.
Memang, setiap acara dan setiap perjalanan hidup selalu memiliki tantangan, kendala, dan ujian. Hujan lebat pada saat tasyakuran khitanan ini menjadi salah satu ujian kecil yang justru memperlihatkan ketulusan dan semangat kebersamaan. Hujan tidak menyurutkan niat para tamu untuk tetap hadir, memberikan doa dan ucapan selamat dengan penuh keikhlasan.
Pelajaran berharga pun dapat kita petik dari peristiwa ini: hidup tidak selalu berjalan lancar. Ada saat-saat kita diuji dengan berbagai keadaan yang tidak terduga. Maka sikap terbaik adalah menghadapinya dengan sabar dan doa, seraya berharap semoga setiap ujian dapat kita lewati dalam keadaan baik-baik saja dan penuh keberkahan.
Penulis: Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah (Jurnalis media SinarLIMA)


