Ramadhan 26: Sabar dalam Beribadah di Akhir Bulan Ramadhan 

Ramadhan 26: Sabar dalam Beribadah di Akhir Bulan Ramadhan 

Hari-hari terakhir bulan Ramadan merupakan momen yang sangat berharga, karena termasuk bagian dari 10 malam terakhir atau tanggal 20 ke atas hingga menjelang Idul Fitri. Pada waktu inilah seorang Muslim sangat dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal saleh, sebab di dalamnya terdapat malam yang penuh berkah dan dinanti-nantikan, yaitu Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۝

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)

Namun, di penghujung Ramadan, sering kali muncul berbagai ujian yang dapat mengurangi semangat beribadah seseorang. Padahal, justru di hari-hari terakhir ini Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan rahmat, keberkahan, serta ampunan yang sangat besar. Berikut beberapa ujian yang sering muncul di akhir bulan Ramadan:

Setelah hampir sebulan berpuasa dan beribadah, banyak orang mulai merasakan kelelahan fisik maupun mental. Rasa jenuh dan capek dalam menjalankan qiyamul lail (salat malam) atau salat tarawih sering kali menjadi alasan untuk mengendurkan ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberikan contoh bagaimana beliau justru semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah di 10 malam terakhir Ramadan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ المِئْزَرَ

Apabila memasuki 10 malam terakhir Ramadan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam beribadah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fenomena yang sering terjadi adalah masjid yang penuh di awal Ramadan mulai kosong di akhir Ramadan. Awalnya, jamaah salat tarawih begitu ramai hingga masjid penuh sesak, tetapi semakin mendekati Idul Fitri, saf-saf salat mulai berkurang karena semakin sedikitnya jamaah yang bertahan untuk beribadah.

Godaan lain yang sering terjadi adalah pergeseran fokus dari ibadah ke urusan duniawi. Banyak orang lebih sibuk mempersiapkan baju baru, membeli makanan untuk hari raya, atau bahkan menghabiskan malam dengan berbelanja keperluan Lebaran. Padahal, seharusnya 10 malam terakhir Ramadan diisi dengan memperbanyak doa, dzikir, dan ibadah sebagai bentuk mencari ridha serta ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Maka dari itu, kesabaran sangat diperlukan agar kita tidak teralihkan oleh urusan duniawi di saat-saat yang seharusnya kita fokus untuk beribadah dan memohon ampunan dari Allah.

Lailatul Qadar adalah malam istimewa yang penuh kemuliaan, yang turun di antara 10 malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Namun, sering kali umat Islam lalai karena lebih memilih sibuk dengan urusan duniawi dibanding memanfaatkan malam tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini merupakan kehilangan besar karena satu malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesabaran dalam menahan rasa lelah dan mengutamakan ibadah di malam-malam ini adalah bukti ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

Sabar itu adalah pada saat goncangan pertama (ketika ujian datang).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, ketika mulai merasa lelah dan tergoda untuk mengendurkan ibadah di akhir Ramadan, itulah saatnya harus bersabar dan tetap berusaha menjaga keistiqamahan.

Ujian-ujian ini sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, seolah-olah menjadi budaya yang terus berulang dari tahun ke tahun. Harapannya, kita semua dapat menghindari kelalaian ini dengan menjaga semangat beribadah hingga akhir Ramadan. 

Kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai godaan di akhir Ramadan. Dengan bersabar, kita dapat mengatasi godaan duniawi dan memperoleh ampunan serta rahmat Allah di malam-malam terakhir Ramadan. Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqamah hingga akhir dan mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA