Quo Vadis Peran dan Kontribusi Pemberdayaan NWDI terhadap Sosial-Ekonomi Masyarakat NTB

Quo Vadis Peran dan Kontribusi Pemberdayaan NWDI terhadap Sosial-Ekonomi Masyarakat NTB

“Agama bukan sekadar ibadah, Puasa sembahyang di atas sajadah, Tetapi agama mencakup aqidah, Mencakup syari’ah, mencakup hukumah.” Pesan penuh makna yang disampaikan oleh Maulana Syaikh Muhammād Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa ini merupakan refleksi mendalam bagi jamaah NWDI sepeninggal beliau 27 tahun silam, terutama setelah empat tahun kesepakatan damai Anjani-Pancor 23 Maret 2021 lalu.

Pesan ini menegaskan bahwa NWDI sebagai organisasi keislaman tidak hanya duduk di atas menara gading, berbicara soal dimensi ritual semata, tetapi juga peduli dengan dimensi sosial dan ekonomi masyarakat di akar rumput.

Dalam konteks ini, Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) hadir sebagai organisasi yang mengemban misi besar untuk memberdayakan masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai wilayah yang memiliki potensi yang tak terbantahkan.

Potensi ini disampaikan oleh Duta Besar China untuk Indonesia, H.E. Mr. Xie Feng, sebagaimana dikutip dari Republika.co.id, (10/02/2016) menyatakan bahwa “potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh NTB sangat besar. NTB akan semakin berkembang di masa mendatang dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.”

Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya tergarap secara optimal. Tantangan-tantangan seperti ketergantungan pada pasokan luar, lemahnya akses terhadap teknologi, pola pikir konsumtif, dan rendahnya literasi ekonomi masih menjadi hambatan struktural yang menghalangi kemandirian ekonomi masyarakat NTB.

Di tengah tantangan tersebut, NWDI tampil dengan strategi pemberdayaan berbasis lokal yang mengintegrasikan nilai-nilai agama, inovasi, dan pendidikan. Pendekatan ini bertujuan menciptakan transformasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.

Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal PB NWDI, Drs. H. Nasihuddin Badri, MAP, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II NWDI yang digelar di Mataram pada 26 Januari 2025. Dalam kesempatan tersebut, Nasihuddin menegaskan bahwa Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) ini merupakan bentuk nyata komitmen NWDI untuk terus meningkatkan kiprah dan kontribusi organisasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan bangsa.

Komitmen NWDI ini sejalan dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin, yang mengharuskan organisasi keislaman Muslim hanya berpikir tentang kepentingan ibadah, tetapi juga berkontribusi bagi kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan. Dengan memanfaatkan potensi lokal, memperkuat pendidikan, dan mendukung inovasi, NWDI menjadi pelopor pemberdayaan masyarakat di NTB yang menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi transformasi sosial-ekonomi yang bermartabat dan berkelanjutan.

NWDI dan Transformasi Ekonomi Masyarakat

Peran NWDI dalam pemberdayaan ekonomi tidak hanya sebatas wacana, melainkan diwujudkan melalui langkah-langkah konkret yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu inisiatif unggulan NWDI adalah penyediaan bibit hortikultura, polybag, dan pupuk organik.

Program ini dirancang untuk menjawab tantangan ekonomi keluarga sekaligus menggali potensi agraris NTB yang kaya, namun sering kali terabaikan. Bibit cabai, tomat, dan sayuran hijau dibagikan kepada masyarakat agar pekarangan rumah dapat diubah menjadi sumber produksi pangan keluarga.

Langkah ini, meskipun sederhana, namun sejalan memiliki akar konsep yang kuat pada teori ashabiyah Ibnu Khaldun, dimana dalam teori tersebut menyatakan bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam proses produksi bagi sebuah negara. Upaya ini, tidak hanya mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, tetapi juga menciptakan peluang tambahan pendapatan dari penjualan hasil panen.

Namun, inisiatif NWDI tidak berhenti pada distribusi bibit dan sarana pertanian. Program pelatihan intensif diberikan kepada masyarakat, mencakup teknik pengelolaan lahan, penggunaan pupuk organik, hingga strategi pemasaran hasil tani. Dengan pendekatan ini, NWDI tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat untuk mandiri secara ekonomi. Filosofi dasar yang dipegang adalah bahwa pemberdayaan sejati tidak hanya bertumpu pada distribusi bantuan, melainkan pada peningkatan kompetensi individu dan komunitas.

Lebih dari sekadar pemberian bibit dan program pelatihan, transformasi ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh NWDI juga menyentuh sisi paradigma dan pola pikir konsumtif yang telah lama mengakar di masyarakat NTB. Banyak keluarga lebih memilih membeli kebutuhan pokok daripada memproduksinya sendiri, meskipun potensi lokal melimpah. Di sisi lain, masih banyak masyarakat NTB yang melakukan konsumsi secara berlebihan.

Untuk mengatasi tantangan ini, NWDI hadir dengan pendekatan persuasif dan teladan konkret. Tokoh-tokoh NWDI, termasuk pengurus besar dan pembina Ikatan Sarjana NWDI, mengambil peran sebagai agen perubahan. Mereka tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menunjukkan hasil nyata dari program-program yang dijalankan.

H. Khairul Rizal, salah satu pembina NWDI, menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan ekonomi bergantung pada kolaborasi antara organisasi, masyarakat, dan pemerintah. Baginya, pemberdayaan tidak cukup hanya berupa bantuan materi, tetapi juga harus disertai edukasi dan pendampingan yang berkesinambungan. Dengan menanamkan nilai-nilai kemandirian dan produktivitas, NWDI berhasil menggeser paradigma masyarakat dari ketergantungan menuju pemberdayaan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan TGB Zainul Majdi, ketua Umum PB NWDI tentang esensi puasa “Jangan berbuka puasa seperti orang yang balas dendam. Tentu saja sikap berlebihan dalam tradisi konsumsi kita di Ramadhan tidak sesuai dengan esensi puasa, tentu saja sikap berlebihan sangat bertentangan dengan makna washatiayah. Kita ini terkadang memaknakan Ramadhan lebih berat pada aspek tradisi dan budayanya, Tidak memaknakan Ramadhan sebagai ritual Istimewa untuk membersihkan diri kita”. Ungkapnya pada Kajian Ulil Albab Ramadan UII 1443 H, Spirit Ramadhan, Spirit Wasatiyyah (13/04/2022).

Membangun Solidaritas melalui Aksi Kemanusiaan

Keberhasilan NWDI dalam pemberdayaan masyarakat tidak terlepas dari pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan dimensi sosial dan spiritual. Dalam Safari Ramadhan 2021, NWDI berkolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (LAZIS) Melontar untuk menyelenggarakan kegiatan di Musholla Al-Ikhlas, Mataram. Selain membagikan Al-Qur’an dan Iqra kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya berbagi sebagai wujud solidaritas sosial.

Dalam kajian keislaman pada acara tersebut, Dr. H. Abdul Fattah, M.Fil.I, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah ((Hablum Minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas).

Pesan ini menjadi landasan filosofis bagi berbagai program NWDI, yang berupaya memadukan penguatan spiritual dengan pemberdayaan sosial. Dengan demikian, NWDI membuktikan bahwa ajaran Islam tidak hanya berpusat pada ibadah ritual, tetapi juga menekankan amalan sosial yang berdampak luas.

Selain itu, NWDI juga menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu kemanusiaan. Pada April 2021, NWDI bersama LAZIS Melontar dan Ikatan Pelajar NWDI (IPNWDI) NTB bergerak cepat membantu korban banjir di Bima. Dengan melibatkan generasi muda, organisasi ini tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai solidaritas dan tanggung jawab sosial kepada para pelajar.

Kolaborasi ini mencerminkan strategi NWDI yang adaptif dan inklusif. Ahmad Fadli, Direktur LAZIS Melontar, mengapresiasi keterlibatan aktif kader-kader muda NWDI dalam penggalangan dana dan distribusi bantuan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya bergantung pada peran organisasi, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi muda.

Membangun Masa Depan NTB yang Mandiri

Langkah-langkah strategis NWDI dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat membawa harapan baru bagi NTB. Namun, perjalanan ini tidaklah mudah. Tantangan keberlanjutan menjadi perhatian utama. Edukasi yang konsisten, pendampingan yang intensif, serta komitmen seluruh pihak, baik masyarakat maupun pemerintah daerah, menjadi faktor penentu keberhasilan program ini.

NWDI memandang bahwa pemberdayaan ekonomi bukan hanya soal memberikan akses terhadap sumber daya, tetapi juga mengubah struktur sosial dan mentalitas masyarakat. Dengan pendekatan ini, NWDI berharap NTB dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional.

Visi besar NWDI adalah menciptakan NTB yang mandiri dan sejahtera, di mana masyarakat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga menginspirasi daerah lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.

Sebagaimana diajarkan Islam, pemberdayaan masyarakat adalah bagian integral dari misi kemanusiaan: menciptakan kehidupan yang lebih adil, bermartabat, dan sejahtera. Dengan kerja keras, sinergi, dan visi jangka panjang, NTB memiliki peluang besar untuk mewujudkan kemandirian yang menjadi teladan bagi Indonesia.

Nama: Abdul Wahid Wathoni

Biodata: Mahasiswa Magister Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA