Iqra : Membedah Informasi Tuhan Membangun Peradaban Akal Sehat

banner post atas

*Syahraninew*

Berbicara mengenai Diksi iqro’ tentu beragam informasi yang telah disodorkan oleh Allah SWT didalam kitab suci al-Qur’an, yang tentu juga akan memiliki keberagaman makna, pemahaman dan maksud yang akan disampaikan sesuai dengan tujuan ayat tersebut. Walaupun terkadang memiliki koneksi akar kata yang sama, tetapi sebelum saya mengurai mengenai kata iqro yang termaktub dalam surah al-Alaq, penulis ingin  menyampaikan beberapa informasi kata iqro’ didalam al-Qur’an yang mudah-mudahan memberikan manfaat banyak bagi penulis dan pembaca,  berikut ada beberapa diksi kata yang di uraikan dalam Al-Qur’an;

Pertama, Kata qoro’a terulang tiga kali di dalam al-Qur’an yaitu pada QS.17:15, dan QS.96:1 dan 3,

Iklan

Kedua, kata jadian dari akar kata “Qoro’a”, dalam berbagai variasi bentuknya terulang 17 kali, obyek membaca yang menggunakan akar kata tersebut tentu berbeda-beda, kadang menyangkut sesuatu  bacaan yang bersumber dari Allah yaitu al-Qur’an dan kitab suci sebelumnya seperti pada QS.17:45 dan QS.10:94,

Ketiga, Berbeda dengan “qoro’a-qiroatan” dan “talaa-tilawatan”, walaupun memiliki makna yang berarti membaca, yang termaktub didalam QS.17:14, kata “talaa-tilawatan”, biasanya di gunakan untuk membaca sesuatu yang sifatnya suci (sacral) dan pasti benar, misal dalam QS.2:252, dan QS.5:27, sedangkan

Keempat.kata “qoro’a-yaqra’u-qiroatan” lebih bersifat umum, apalagi seperti yang termaktub dalam QS.Al-‘alaq yang mana tidak memiliki maf’ul atau tidak mengarah ke suatu obyek yang wajib dibaca, bacaannya bisa apa saja baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Di dalam QS.Al-‘alaq:1-8 bisa jadi mengungkap betapa pentingnya membaca sebagai wahana peningkatan pendidikan yang efektif dan dengan membaca dapat membangun peradaban intelektual berbasis akal sehat.

Membaca dalam konteks ini luas maknanya, karena Tuhan juga tidak membatasi hambanya untuk membaca apa saja yang bermanfaat untuknya. Karena dengan membaca orang akan menjadi kaya ilmu pengetahuan dan memiliki kekayaan intelektual yang tinggi dalam memilih dan memilah kehidupan yang rahmatan lil’alamin atau anfauhum linnas (yang bermanfaat bagi setiap orang).

Makna iqro (membaca teks) yang terdapat dalam QS.Al-‘alaq:1-8 Saja:
اقْرَأْبِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”,
خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”,
اقْرَأْوَرَبُّكَ الأكْرَمُ (3)
‘’Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah’’,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
‘’Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam’’,
عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
‘’Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya’’.

BACA JUGA  Realisasi Investasi Lotim, Tembus 600 Persen, Disebut  Tertinggi di NTB.

M.Quraish Shihab menyebutkan berpendapat bahwa kata iqro’ yang terambil dari kata qoro’a,pada mulanya berarti “menghimpun”, Apabila ada merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut, anda telah menghimpunnya. Atau dalam Bahasa Al-qur’an, Qara’tahu Qira’atan. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqro’, yang di terjemahkan dengan “bacalah” tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya anda dapat menemukan, dalam kamus Bahasa, beraneka ragam arti dari kata tersebut antara lain: Menyampaikan, Menelaah, Membaca, Mendalami, Meneliti, Mengenal ciri-cirinya, dan sebagainya.

Setelah merujuk dari makna-makna diatas  kita sebagai hayawanun nathiq ( makhluk bertanya), seyogyanya memiliki beberapa pertanyaan kenapa Tuhan titah kan ayat yang berawalan kata “iqro”?, yang pada saat itu khitabnya (lawan bicaranya) adalah Nabi Muhammad Saw. Tetapi bukan berarti anda langsung menarik benang merah bahwa ayat ini hanya berlaku pada Nabi Muhammad, hal ini adalah pemahaman yang tidak benar!

Ayat ini menurut penulis pesannya bukan untuk satu orang saja, tetapi berlaku untuk kita semua. Karena jika kita melihat dari beberapa makna tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa Tuhan menurunkan ayat itu memiliki tujuan yang sangat penting untuk dikaji.

Jika kata “Iqro” di terjemahkan  dengan “bacalah”, tentu kesannya tidak terlalu menggigit, walaupun makna aslinya adalah membaca, dan kemungkinan bisa muncul pertanyaan kenapa Tuhan tidak  menentukan saja objek yang harus dibaca, Apakah Tuhan lupa?.

Justru menurut penulis dengan demikian menandakan kesempurnaanNya, karena  ayat yang Tuhan turunkan bukan bertujuan untuk satu orang. Perintah membaca bukan sekedar baca saja . tetapi baca, lalu menelaah, meneliti, dan mendalami bacaan, kemudian muncul pemahaman tentang apa yang dibaca, setelah menemukan pemahaman tentu kita akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru yang tugas kita adalah bukan memendamkan nya tetapi menghimpun nya dengan tujuan untuk disampaikan kepada khalayak dan cara menyampaikannya tentu juga telah dituntun oleh Tuhan dalam Al-qur’an yang tidak harus monoton melalui lisan tetapi juga melalui tulisan.

BACA JUGA  TNI Bersama Warga Membuat Kripik Talas Balado di Papua

Jika kita menganggap bahwa membaca itu adalah perintah Tuhan tentu kita tidak meninggalkannya, walaupun hal itu tidak bersifat kewajiban. Nah kalau saja membaca itu seperti shalat yang dikerjakan setiap hari atau menjadi kebiasaan pasti banyak cendikiawan-cendikiawan yang sukses karena membaca. Tapi faktanya kegiatan membaca ini tidak menjadi Ibadah Wajib layaknya shalat, Padahal kita tahu tidak mungkin sama sekali, sebuah pohon apapun tidak akan tumbuh subur dan memiliki akar yang sangat kuat, tanpa ada yang menanam dan merawatnya dengan baik.

Begitu juga kita tidak akan tumbuh subur dan berbuah manis jika kita tidak menanam dan merawat diri kita dengan kegiatan yang dapat menunjang akal dan pengetahuan kita.

Jika Tuhan membuat perintah  kepada hambanya tentu bukan malah menyakiti atau merugikan hambaNya. Coba mari kita lihat dalam QS.Al-Mujadalah:11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Lihat  kata Al-‘ilm  terus di awali dengan kata yarfa dan di akhiri dengan kata darajatin tentu kalau dilihat dari terjemahannya secara sederhana tidak memiliki kerugian sedikitpun. Bahkan Tuhan memiliki Janji  kepada setiap orang beriman dan berilmu. tentunya setelah kita berusaha sepenuhnya. Pertanyaannya Lelah yang bagaimana..?

Yaitu lelah membaca, membaca, dan membaca. Kegiatan membaca bukan hal yang dikerjakan dengan sekali-dua kali tetapi butuh berulang-ulang dan kadang kesungguhan.

Terkadang kita belum mengalami “onani” intelektual (mendalami bacaaan), sudah mengalami ejakulasi dini, menyimpulkan, sehingga sering terjadi pertikaian pemahaman yang pada ujungnya tidak menghargai pendapat orang lain.

Tuhan mengawali ayat dengan kalimat “iqro”, baca semua apa yang ada di sekelilingmu,  perhatikan dan telaah lagi, kemudian pahami, lalu himpun lah ke dalam sebuah kalimat dan sampaikanlah.

Inilah kira-kira tujuan Tuhan dan salah satu tuga dan fungsi kita diciptakan di muka bumi ini agar selalu menjawab tantangan Tuhan yang berbasis akal Sehat seperti afala tadzakkarun, afala tadabbarun, afala tafakkarun.