Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Episode 33) Uang Keberkahan Untuk Ponpes NW Jakarta

Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Episode 33) Uang Keberkahan Untuk Ponpes NW Jakarta

Karomah Mendatangkan Uang

Karomah dalam bentuk mendatangkan uang atau harta, merupakan bagian dari macam karomah para wali Allah. Sebagaimana karomah yang ditunjukkan oleh Rabiah al-Adawiyah, ketika akan berangkat haji dan bertemu dengan al-Syaikh Syaiban ar-Ra`iy.

Rabiah al-Adawiyah berkata;
“Aku akan pergi haji.”
Al-Syaikh Syaiban kemudian merogoh kantongnya dan mengambil sejumlah uangnya untuk diberikan kepada Rabiah al-Adawiyah sebagai tambahan bekalnya pergi haji.

Selanjutnya, dalam kisah ini, justeru Rabiah al-Adawiyah mengangkat tangannya ke atas dan seketika itu pula tangannya penuh dengan uang emas. Lalu, beliau berkata kepada al-Syaikh Syaiban;
“Ya Syaikh, Engkau mengambil uang dari kantongmu sendiri, sementara aku mengambil dari alam ghaib.”.
Setelah itu, keduanya berangkat haji sendiri-sendiri dengan bertawakkal dan tanpa bawa bekal.”

Selain contoh cerita diatas, ada juga cerita lainnya yang menceritakan tentang kantong baju al-Syaikh Muhammad al-Hanafi yang selalu berisi uang perak. Dan setiap ketemu dengan orang faqir murid tarekat, pasti merogoh kantongnya dan memberikan uang kepada mereka. Padahal, murid tarekat yang datang kepadanya tidak terhitung jumlahnya. Lalu, orang yang terbiasa melihat hal itu, menyatakan bahwa pemberian al-Syaikh Muhammad al-Hanafi tersebut lebih banyak dari pemberian seorang raja.

Memerhatikan contoh karomah di atas, maka salah satu bagian dari Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah kemampuannya mendatangkan uang atau harta benda, seperti yang di alami dalam contoh karomah wali lainnya di atas.

Untuk lebih jelasnya macam karomah yang satu ini, dapat kita perhatikan dari cerita penulis ketika nyantri atau belajar dengan beliau di Ma`had Daarul Qur`an wal Hadits (MDQH-NW Pancor). Selain itu, ada kisah menarik tentang uang karomah untuk kepentingan menyelesaikan tanah pesantren yang dialami dan disaksikan langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi Muhammad Suhaidi.

Mengambil Uang dari Kantong Gamisnya
Dalam kisah yang menceritakan karomah tentang kantong baju Syaikh Muhammad al-Hanafi yang selalu berisi uang perak, maka dalam hal ini memiliki kemiripan dengan kisah karomah yang menceritakan tentang kantong baju gamis (jubah) Guru Besar kita Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang semua kantongnya berisi uang perak juga.

“Pada saat penulis belajar sebagai santri Thullab Ma`had Daarul Qur`an wal Hadits, maka dalam pengajian rutin pagi hari di Mushalla al-Abror NW, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjelaskan kami para Thullab Ma`had tentang kelebihan (fadhilah) membaca atau mengamalkan salah satu wirid yang beliau namakan, “Wirid Kantong Ulama.”

Dan menurut beliau, “Diantara fadhilah yang akan didapatkan atau diberikan bagi para pengamal “Wirid Kantong Ulama” tersebut adalah kantongnya tidak akan kering”. Dan lebih jauh beliau menjelaskan, bahwa yang dimaksudkan kantongnya tidak akan kering bagi para pengamalnya itu adalah mereka akan selalu memiliki rizki. Ketika rizki atau uang di kantongnya habis, maka akan datang lagi rizki penggantinya, sehingga tidak pernah kering atau habis.

Pada saat beliau menjelaskan tentang pengamalan “Wirid Kantong Ulama” tersebut dan mengatakan kantongnya tidak akan pernah kering, maka ketika inilah beliau sambil bercanda mencontohkan hal itu dengan mengambil atau mengeluarkan uang di semua kantong jubah atau gamisnya.

Anehnya disini, semua kantong jubahnya ada uang. Dan beliau berkata,
“ Ini lihat semua…!!!, Seru Maulana Syaikh kepada semua santri Ma`had.
“Lihat, di kantong atas saya ada uang. Ini lihat lagi, di kantong kanan bawah saya ada uang. Ini lihat juga, di kantong bawah kiri saya ada uang.”

Sambil beliau tunjukkan atau pertontonkan uang-uang yang diambil dari saku-saku atau kantong gamisnya itu kepada kami. Dan setelah diambil, beliau masukkan lagi ke masing-masing dari semua kantong baju gamisnya.”

Lalu, pertanyaannya, kapankah beliau mengisi semua kantong-kantong bajunya dengan uang?. Sebagai jawabannya, bagi beliau itu, tidaklah perlu repot-repot seperti kita yang awam untuk mencari uang dan selanjutnya dimasukkan disetiap kantong gamisnya. Namun, hal inilah yang disebut dengan karomah yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta`ala, karena beliau adalah bagian dari hamba-Nya yang saleh (taqwa).

Uang Karomah dari Baju Gamis untuk Pondok Pesantren NW Jakarta
Selanjutnya, untuk kepentingan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, maka seringkali pimpinan pesantren ini yaitu al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, menghadap kepada Guru Besar kita Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dan setiap menghadap, sepertinya selalu ”diistiemwakan”, sehingga para Tuan Guru dari pimpinan pesantren NW lainnya, sepertinya merasa “iri hati”, karena seolah NW Jakarta sangat diperhatikan oleh Maulana Syaikh. Lalu, kenapa Maulana Syaikh sangat perhatian pada NW Jakarta?. Rupanya, karena kemauan beliau untuk mengibarkan bendera NW di Ibu Kota Negara, memang sudah lama mengharapkannya. Oleh sebab itu, berapa banyak amal jariah masyarakat atau jamaah dari hasil Hultah NWDI, misalnya yang diserahkan.

Dan tidak hanya itu, bahkan uang dari karomahnya pun keluar, demi kemajuan madrasah di NW Jakarta, seperti dalam beberapa cerita berikut ini.

“Pada tahun 1993, dalam upaya perluasan tanah untuk lokasi Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi sebagai pimpinan pesantren, tiba-tiba di desak oleh sang pemilik tanah (H.Rahmat) seorang penduduk asli Betawi (Jakarta) untuk bisa segera bayar sebagian tanah miliknya, dengan alasan suatu kebutuhan keluarga.
Pada saat di desak untuk membayar seperti itu, tentunya bagi Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi tidak bisa langsung membayar dengan tunai dengan gampang. Disamping memang yang dibutuhkan adalah uang banyak. Dan pada saat yang bersamaan itu, sedang tidak memiliki uang tunai juga.

Memerhatikan kondisi ini, dalam benak serta pikirannya yang dianggap sebagai solusi cepat adalah segera pulang ke Lombok untuk lapor diri ke Maulana Syaikh tentang persoalan darurat tersebut.
Dalam wawancara dan menceritakan kisah ini kepada penulis, Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi mengatakan;
“ Tanpa pikir panjang, saya segera mengambil keputusan, Bismillah, Saya akan berangkat ke Lombok untuk menghadap guru saya Maulana Syaikh. Dengan harapan besar dan sambil berdo`a, semoga saja beliau dengan mudah bisa membantu perjuangan ini”, sahutnya.

Dengan mengendarai bis malam, berangkatlah dari Jakarta ke Lombok. Dan setelah dua hari dua malam, maka sampai di Lombok. Dan selanjutnya, iapun dengan segera menuju kek kediaman Maulana Syaikh untuk bertemu dengan sang guru. Setelah bertemu dan di awal pertemuan, tentunya sang murid melaporkan keadaan perjuangan pesantren NW di Jakarta dan menceritaakan pula soal pembayaran tanah pesantren yang bersifat darurat tersebut.

Setelah mendegarkan dengan baik dari laporan sang murid, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berkata pada muridnya;
“ Wah…, lagi tidak ada uang Suhaidi”, ucapnya.

Meski demikian, dengan nada “merengek” sang murid berkata kepada sang guru besar;
“Tapi, orang yang punya tanah sangat mendesak Datuk.”
Dan kalimat seperti itu, berulang sampai dua atau tiga kali disampaikannya.
Mendengar permintaan dan desakan bertubi-tubi dari sang murid yang sangat butuh untuk perjuangan NW di Jakarta ini, maka pada saat inilah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menampakkan karomahnya mendatangkan uang, dengan berkata;
“ Ya sudah Suhaidi…. Ambil jubah (baju gamis) saya yang digantung itu!!!.”
Ungkapnya dan sambil beliau menunjuk, jubahnya yang posisinya digantung dekat dengan tempat istirehatnya juga.
Setelah baju jubahnya diambil, beliau langsung menggerakkan baju jubah tersebut. Dan Subhaanallah. Hal aneh yang terjadi. Dimana, dari jubah yang digerakkannya itu, berjatuhanlah sejumlah uang kertas.

Lalu, beliau berkata kepada sang murid;
“ Ambil uang itu Suhaidi dan hitung ya.!”
“Inggih (Ya) Datuk”. Ucapnya merendah dan dengan perasaan gemetar katanya.
Untuk pertama kali, dengan sambil gemetar Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi mengambil uang yang berjatuhan dari jubahnya itu. Dan setelah dihitung, jumlah uang tersebut adalah Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).
“Berapa jumlahnya Suhaidi?”. Tanya Maulana Syaikh.

” Jumlahnya, Rp. 2.000.000 (Dua Juta Rupiah), Datuk.” Sahut sang murid.
Maulana Syaikh bertanya;
“ Bagaimana, apa sudah cukup Suhaidi?”.
Kata sang murid, “Belum Datuk.”. Sambil menyebut kebutuhannya yang cukup banyak juga dan belum cukup.
Mendengar jawaban sang murid, maka pada saat itu pula, Maulana Syaikh menggerakkan lagi baju jubahnya untuk yang kedua kalinya. Dan kembali saat itu, uang berjatuhan dari jubahnya. Dan beliau berkata lagi kepada sang murid.
“ Ambil Suhaidi dan coba hitung lagi ya.!”
“Inggih (Ya) Datuk”.

Dan kembali dengan sambil gemetar pula dan seperti rasa tidak tenang Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi mengambil uang yang berjatuhan dari jubahnya. Dan setelah dihitung lagi, ternyata nominal jumlahnya sama dengan yang pertama, yaitu; Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).
Berapa jumlahnya Suhaidi?. Tanya Maulana Syaikh lagi.

” Jumlahnya, Rp. 2.000.000 (Dua Juta Rupiah).” Sahut sang murid lagi.
Maulana Syaikh bertanya;
“ Bagaimana, apa sudah cukup Suhaidi?”.
Kata sang murid, “Belum Datuk.”. Sambil menyebut kebutuhannya yang cukup banyak juga, seperti di atas.
Selanjutnya, Ustadz Haji Muhammad Suhaidi dengan bahasa Pancor, meniru pernyataan Maulana Syaikh;
“Enaa, ndekman bae cukup Suhaidi (wah wah, masih belum cukup juga Suhaidi).”.
Maulana Syaikh, kembali menggerakkan lagi baju jubahnya untuk yang ketiga kalinya. Dan kembali saat itu uang berjatuhan dari jubahnya. Dan beliau berkata lagi kepada sang murid.
“Ayo…! Ambil Suhaidi dan hitung lagi.!”
“Inggih (Ya) Datuk”.

Sang murid kembali mengambil uang yang berjatuhan dari jubahnya. Dan setelah dihitung lagi, ternyata untuk ketiga kali ini, masih jumlah nominalnya sama dengan yang pertama, yaitu; Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).”Jumlahnya, Rp. 2.000.000 (Dua Juta Rupiah),.” Sahutnya sang murid memberikan informasi kepada Maulana Syaikh.

Subhanallah…Hal yang aneh dan luar biasa dalam karomah ini terjadi berulang kali. Jadi dengan hal yang sama seperti diatas, selanjutnya berulang sampai dengan sembilan kali.

Kata Ustadz Haji Muhammad Suhaidi yang menyaksikan kejadian karomah ini dan menceritakan pada penulis, mengatakan;
“ Jadi, Maulana Syaikh mengulangi gerakkan jubahnya itu, sebanyak Sembilan kali. Dan uang pun jatuh dari jubahnya, sebanyak Sembilan kali itu juga dengan nominal yang sama, setiap kali jatuh, dua juta rupiah dan setiap kali jatuh nominalnya dua juta rupiah.”
Dan setelah yang ke sembilannya, ketika sang murid ditanya lagi;
“ Bagaimana, apa sudah cukup Suhaidi?”.
Baru sang murid, berkata “Nggih cukup Datuk (Ya, sudah cukup Datuk).”.
Ketika yang ke sepuluh kalinya, Ustadz Haji Muhammad Suhaidi mengatakan kepada penulis;
“Saya merasa tidak enak mengatakan belum cukup lagi kepada Maulana Syaikh, padahal saya masih butuh.”.
Dan selanjutnya, sang murid disuruh hitung jumlah uang seluruhnya. Dan setelah selesai dihitung semua, Maulana Syaikh berkata lagi;
“ Berapa jumlah semuanya Suhaidi?.”
Sang murid menjawab;
“ Semuanya Rp. 18.000.000,- (Delapan Belas Juta Rupiah) Datuk, Sahutnya.”
Maulana Syaikh berkata untuk terakhirnya;
“ Ya sudah, bawa semuanya ke Jakarta ya untuk menyelesaikan perjuangan NW disana.” Tutupnya.

Subhanallah… Dengan menyimak cerita diatas, maka kita dapat memahami salah satu karomah Guru Besar kita al `allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam bentuk mendatangkan uang. Dan selanjutnya, terhadap sejumlah uang karomah dari beliau yang totalnya bernilai; Rp. 18.000.000,- (Delapan Belas Juta Rupiah) yang diterima langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Kyai Haji Muhammad Suhaidi tersebut, semuanya dipakai atau diperuntukkan untuk menyelesaikan pembayaran tanah milik H. Rahmat yang saat ini sebagai lokasi bangunan SMP NW Jakarta.

Uang Koin Karomah untuk Pondok

Pesantren NW Jakarta
Selain cerita diatas, ada lagi cerita menarik lainnya yang disaksikan langsung juga oleh Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, yaitu uang koin (mata uang logam) sebagai karomah untuk kepentingan Pondok Pesantren NW Jakarta. Dan hal inipun, merupakan salah satu bagian dari karomah yang dinampakkan oleh Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah,Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang berhubungan dengan kemampuannya mendatangkan benda dalam bentuk uang ini.

Dalam sebuah wawancara khusus penulis dengan pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, beliau menceritakan tentang hal itu kepada penulis, seperti berikut ini.

“Pada suatu saat, seorang murid dekat beliau, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi kembali menghadap Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk keperluan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang dipimpinnya. Dan dalam hal ini, ia masih meminta bantuan dalam bentuk uang untuk membayar tanah sebagai perluasan pesantren.

Ketika menghadap kali ini, setelah Maulana Syaikh basa basi bertanya, kapan sampai dan lainnya, sampailah pertanyaan yang menanyakan, bagaimana perkembangan madrasah NW yang di Jakarta?. Sang murid menjawab;

“ Alhamdulillah, perkembangan madrasah kita di Jakarta semakin maju Datuk. Tapi, tetap saja kita masih butuh uang atau dana lagi untuk menyelesaikan perluasan tanah madrasah.”
Mendengar keluhan dan kebutuhan sang murid untuk kebutuhan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang dicintainya ini, maka Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memberikan plastik warna hitam yang di dalamnya berisikan uang koin (mata uang logam) dan berkata;
“Baik Suhaidi…Ini ada uang amal dari jama`ah. Dan silahkan bawa ke Jakarta untuk menyelesaikan tanah madrasah.”
Demikian pesan beliau, sambil menyerahkan uang koin yang ada di plastic hitam tersebut.
Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi bertanya;
“Berapa jumlah uang koin ini Datuk?. “
“ Jumlahnya, Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) Suhaidi.”, kata Maulana Syaikh menjawab pertanyaan sang murid.
Selanjutnya, dengan alasan keamanan, maka Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi berangkat dengan membawa sejumlah uang tersebut ke bank untuk di transfer langsung.

Setelah sampai di bank dan transaksi dengan petugas bank, lalu petugas bertanya;
“Berapa jumlah uang yang akan ditransfer ini pak?. Tanya petugas Bank.
Jumlahnya ada Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) pak”,
Kata Ustadz Haji Suhaidi, menjawab pertanyaan petugas dan sembari petugas bank, mulai menghitung sejumlah uang koin (mata uang logam) tersebut.
Setelah selesai dihitung seluruh uang yang ada oleh pihak petugas bank, maka pada saat inilah muncul sesuatu hal yang aneh. Dimana jumlah uang koin yang ada dalam plastik hitam, bukanlah dalam jumlah Tiga Puluh Juta rupiah. Tapi, bertambah dua kali lipat, yaitu; Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah).

“Maaf bapak, jumlah uang bapak yang di plastik, bukan Rp. 30.000.000,-, tapi, jumlahnya Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah) pak”. Kata petugas Bank tersebut menjelaskan.
“Tidak mungkin pak. Guru saya, Maulana Syaikh memberikan uang tersebut dan mengatakan jumlahnya Rp. 30.000.000,-”. Kata, ustadz Haji Suhaidi kembali mengelarifikasi petugas Bank tersebut.
Meski demikian, petugas bank kembali menegaskan dengan mengatakan;
“Tapi kenyataannya, jumlah yang ada; Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah) pak”. Pungkas petugas Banknya.
Melihat kenyataan tersebut, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi tidak bisa juga menapikan kenyataan itu. Lalu, meminta petugas bank untuk tetap mentransfer uang sejumlah, Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) saja, sesuai dengan isian di belankonya. Sementara separuh uang tersebut yang jumlah Tiga Puluh Juta Rupiah itu di ambil dan dimasukkan ke dalam tas, alias dibawa kembali pulang.
“Saya kirim, Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) saja pak”. Uangkapnya ke petugas Bank.

Setelah kembali dari bank tersebut, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi bercerita kejadian aneh tersebut kepada bapak Drs. H. M.Syubli (alm). Mendengar cerita aneh tersebut, beliau kaget juga. Dan selanjutnya, mengatakan;
“Kalau begitu, sisa uang tersebut yang tiga puluh juta rupiah, bawa saja ke Jakarta untuk mengurus kebutuhan-kebutuhan perjuangan lainnya. Dan tidak usah lapor ke Maulana Syaikh” menceritakan Sarannya Bapak Drs. H. M.Syubli dengan mantap dan tidak ragu.

“Ya Bapak, terima kasih sarannya”.
Ucap Kyai Haji Muhammad Suhaidi yang merasa senang sekali dengan adanya uang tersebut. Disamping, memang sangat butuh dengan adanya berbagai urusan pesantren yang dipimpinnya.
Selanjutnya, saat itu Al-Uatadz Haji Muhammad Suhaidi sudah bergegas akan berangkat kembali ke Jakarta. Namun, sebelum berangkat, tentunya ia tidak pernah lupa pamitan dan sekaligus minta do`a restu kepada Maulana Syaikh.
Dan setelah masuk ke ruang Beliau, dan bicara minta pamit.
“ Datuk, saya pamit untuk berangkat ke Jakarta, mohon do`anya.”
“O ya, Suhaidi mau berangkat ke Jakarta?. Kapan berangkatnya?”. Kata Maulana Syaikh menanyakan keberangkatan muridnya yang akan kembali ke Jakarta.
“Inggih (Ya), Siang hari ini Datuk”. Jawab sang murid.
Selanjutnya, dengan tiba-tiba Maulana Syaikh bertanya soal uang koin yang lebih di bank itu.
“ Suhaidi, mana uang lebih dari bank itu?, Paparnya.
“ O ya, ini ada di tas Datuk”.
Jawab sang murid yang merasa kaget lagi dan merasa tidak enak serta mengira bahwa Maulana Syaikh tidak mengetahui hal itu. Sambil membuka tasnya dan mengambil uang tersebut, Ustadz Haji Suhaidi bertanya pada dirinya;
“Kok, Maulana Syaikh tahu uang lebih itu ya…?.” Dan memang tidak ada teman yang mendampinginya, kerena Bapak Haji Muhammad Syubli tidak ikut juga.

“Ya, ambilin saya Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) saja.
“Inggih (Ya) Datuk.” Ucap sang murid yang merasa tidak enak, tapi senang.
“Jangan semua bawa ke Jakarta. Itu uang dari para wali” Ujar Maulana Syaikh sambil senyum kepada sang muridnya.
“Inggih (Ya) Datuk.”
Ucapan akhir Ustdaz Haji Muhammad Suhaidi yang sangat senang dengan bantuan dana tersebut dan senang dengan bijaknya sang guru. Dan selanjutnya, sisa dari Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) tersebut, semua di bawa ke NW Jakarta”.
Memerhatikan alur cerita menarik diatas, maka dalam hal ini, bukanlah penggadaan uang seperti yang dilakukan oleh seorang bernama Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sempat ramai dibicarakan masyarakat pada tahun 2016 yang lebih merupakan penipuan. Dan terhadap hal yang kita ceritakan dalam buku ini, benar-benar merupakan salah satu karomah yang dinampakkan oleh Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, karena terdesak dan kecintaannya terhadap perjuangan NW di Jakarta. Wallaahu `alam.

Uang Para Wali untuk Pondok Pesantren NW Jakarta

Selain dua cerita diatas, ada lagi cerita uang karomah yang diceritakan juga oleh murid dekat dan sangat dipercaya oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi yang berasal dari Peneda Gandor, Selong, Lombok Timur.

Untuk cerita selanjutnya ini, adanya sejumlah uang yang berasal dari para wali untuk perjuangan NW di Jakarta. Dan uang tersebut, setiap minggu diterima oleh Guru Besar kita, Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid melaui seorang wali Allah bernama Syaikh Raqib. Dan selanjutnya uang tersebut dikumpulkan oleh Maulana Syaikh, kemudian beliau serahkan kepada pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi untuk menyelesaikan perluasan tanah pesantren yang dipimpinnya, dengan kisahnya seperti berikut ini.

“ Ketika kembali pulang ke Lombok untuk menghadap ke Maulana Syaikh untuk kepentingan perjuangan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi langsung disuruh masuk ke ruang khusus beliau.
Setelah masuk, pada kali ini, sepertinya beliau tanpa basa-basi menanyakan bagaimana perkembangan madrasah di pondok pesantren NW yang di Jakarta atau menanyakan apa kepentinganmu pulang, misalnya.

Dalam hal ini, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung saja mengatakan kepada sang murid;
“Suhaidi, ini ada uang Rp. 25.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah).
“Inggih (Ya) dan Alhamdulilah Datuk.” Ucap sang murid.
Lebih lanjut, Maulana Syaikh berkata lagi;
“Uang ini adalah uang yang berasal dari para wali. Tiap minggu saya kumpulkan untuk kepentingan madrasah NW yang di Jakarta.”
Ucapnya dengan jelas dan sembari mengambil uang tersebut yang diletakkan di bawah bantalnya.

Dan selanjutnya, Maulana Syaikh memberikan uang tersebut kepada sang murid.
Setelah sang murid menerima uang tersebut, beliau kembali menjelaskan asal muasal uang tersebut dengan mengatakan;
“ Suhaidi…! Inggih (Ya) Datuk, jawab sang murid.
“Tiap minggu para wali menyerahkan uang untuk perjuangan NW, sejumlah Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah). Sementara untuk perjuangan Palestina (saat itu dipimpin oleh Presiden Yasir Arafat), diberikan sebanyak Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah). Dan kenapa NW diberikan lebih banyak dari Palestina?, kata Maulana Syaikh bertanya.
“Karena NW di nilai sangat aktif dalam berjuang membela agama dan banyak berhizib mendo`akan kaum muslimin serta NW betul-betul mengajak orang ke sorga”. Ungkapnya dengan penuh semangat dalam menceritakan hal tersebut.
Mendengar penjelasan Maulana Syaikh tersebut, membuat sang murid pun (al-Ustadz Haji Suhaidi) merasa sangat kagum dengan karomah dan kebesaran yang dinampakkan Allah kepada Guru Besar kita; Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dan ternyata organisasi NW pun sangat mendapatkan perhatian yang serius dari para wali Allah.
Dan satu hal lagi yang membuat sang murid kagum, uang karomah yang berasal para wali tersebut diserahkan oleh Maulana Syaikh untuk perjuangan NW di Jakarta. Ada apa dengan NW Jakarta?. Sebelumnya, penulis sudah menganalisisnya.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA