Berguru pada sosok Usman bin Affan
Terlihat familiar, tapi masih banyak muslimah dan muslimin yang mungkin tak kenal dengan sosok Utsman bin Affan. Siapakah beliau?
Utsman bin Affan mudahnya kita kenal sebagai sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW.
Arti dibalik nama yang beliau miliki adalah pemilik dua cahaya atau disebut Dzun Nurain.
Tak hanya sebagai sahabat Nabi Muhammad, Utsman juga memiliki ragam kisah yang menarik untuk kita ketahui.
Yuk, Moms ajarkan Si Kecil terkait kisah Ustman bin Affan untuk bekal ilmu pengetahuan sebagai seorang Muslim.
beliau memiliki nama lengkap Utsman bin Affan bin Al-Aas bin Umayyah bin Abdul Syams bin Abd Manaf.
Lahir di Makkah pada tahun keenam Amul-Fil (tahun Gajah).
Jika dibandingkan dengan Nabi Muhammas SAW, umurnya 5 tahun lebih muda.
Saat Nabi Muhammad mulai berdakwah dan menyebarkan agama Islam, Utsman termasuk orang pertama yang mempercayainya.
Sahabat dari Nabi ini tergolong dalam kelompok Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang pertama masuk Islam.
Nama ibunya adalah Arwa binti Kurayz dan meninggal dunia saat kekhalifahan dirinya.
Utsman menjadi seorang Muslim saat bermigrasi ke Abyssinia (Ethiopia) dan Madinah.
Lahir dalam keluarga mampu dan dari saudagar kaya raya, tak membuat kepribadiannya berubah.
Justru ia dikenal sebagai seorang yang dermawan dan suka menolong.
1. Sifatnya yang lembut dan pemalu membuat Ustman disegani Rasullullah dan malaikat
Siti Aisyah RA meriwayatkan bahwa suatu hari Abu Bakar ingin bertemu Rasulullah SAW yang saat itu tengah berbaring dengan baju yang agak tersingkap hingga betisnya terlihat. Selesai berbincang, Abu Bakar pun pulang dan kemudian datanglah Umar. Tak lama usai berdiskusi, Umar pun pulang.
Lalu datanglah Usman meminta izin bertemu Rasulullah SAW. Mendengar Usman yang datang, Rasulullah segera duduk dan merapikan pakaiannya. Setelah Usman pulang, Aisyah pun bertanya kenapa Nabi menyambut Usman dengan cara lebih santun. Rasulullah menjawab,
“Usman seorang pemalu. Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan keperluannya. Hai, Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang disegani para malaikat?” (HR. Ahmad)
Dari riwayat itu, Rasulullah telah mengajarkan akhlak malu sebagai teladan bagi kita. Malu gak bakal memberimu sesuatu selain kebaikan. Sebaliknya, kamu bakal sulit mendapatkan kebaikan kalau hilang rasa malu.
2. Selalu merasa sungkan kalau sampai tak menolong kaumnya yang kesulitan
Ketika kaum muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka mengalami masalah kesulitan air. Di sana ada sebuah sumur milik seorang Yahudi yang airnya sengaja diperdagangkan, sedangkan kaum muslim telah meninggalkan harta bendanya di Makkah.
Usman pun pergi ke rumah Yahudi itu untuk membeli separuh sumurnya, yakni sehari milik muslimin dan sehari hak milik orang Yahudi itu. Saat tiba giliran hak Usman, umat muslim bergegas mengambil air untuk kebutuhan dua hari. Karena perdagangan airnya tak lagi berkembang, Yahudi itupun menjual sumur itu sepenuhnya pada Usman.
Itulah salah satu contoh kedermawanan Usman bin Affan yang tak segan menyumbang harta untuk mengeluarkan umat muslim dari kesusahan.
3. Kekayaan melimpah di tangan Ustman, memberi dukungan besar pada agama
Kedermawanan Usman bin Affan tak hanya dikenal di kalangan umat miskin, tapi Usman juga tak segan memberikan hartanya dalam perjuangan agama Islam. Seperti saat kaum muslimin dilanda krisis ekonomi dan mengalami kesulitan mempersiapkan perang Tabuk karena kurangnya perbekalan dan senjata.
Di tengah kesedihan itulah Usman bin Affan memberikan 200 ekor unta lengkap dengan persenjataanya. Rasulullah SAW tersenyum menerima bantuan itu sambil berdoa, “Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, wahai Ustman. Dosa yang kamu rahasiakan maupun dosa yang kamu nyatakan” (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)
Beginilah kalau harta berada di tangan orang yang saleh. Manfaatnya terasa bagi kemanusiaan dan kemajuan agama.
4. Punya gagasan brilian dalam membukukan Al-Qur’an menjadi mushaf pertama kali
Pemikiran cerdas ini muncul di masa kekhalifahan Usman bin Affan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya ditulis dalam lembaran-lembaran terpisah, disimpan di rumah Hafshah binti Umar, istri Rasulullah SAW. Setelah Umar RA wafat, Usman mengambilnya untuk kemudian dibukukan dengan membentuk panitia.
Terpilihlah Zaid bin Tsabit sebagai ketua yang menyalin lembaran ayat menjadi mushaf. Setelah tugas besar itu selesai, Usman mengembalikan lembaran Al-Qur’an pada Hafshah. “Al Musshaf” pertama itu disimpan pada khalifah Usman di Madinah, empat buah lagi dikirim ke Makkah, Syria, Basrah dan Kufah untuk disalin dan diperbanyak.
Kalau tak ada pemikiran cerdas dan kepedulian akan keutuhan kitab suci, mungkin tak akan lahir mushaf Al-Qur’an yang bisa kita baca dan amalkan hingga saat ini.
5. Sabar dan berserah diri pada Allah SWT saat fitnah besar menimpanya di penghujung hayat
Pada akhir tahun 34 Hijriah, daulah Islam mulai dilanda fitnah berupa tuduhan-tuduhan palsu terhadap pemerintahan Usman. Pemberontak dari Mesir berperan utama dalam perang propaganda melawan kekhalifahan. Pada masa ini, Usman banyak menangis dan bertaubat pada Allah SWT.
Pemberontakan kian memanas sampai kediaman Usman dikepung oleh musuh. Pendukung Usman yang kalah jumlah dari pemberontak, meminta pada Usman untuk membiarkan mereka berperang melawan musuh. Tapi karena kesabarannya, Usman mencegah karena tak ingin ada pertumpahan darah sesama muslim.
Suatu hari, para pendurhaka menyerbu rumah Usman dan membunuhnya. Mereka tak menaruh sedikit pun belas kasihan pada Usman RA yang telah berjuang dan menginfakkan hartanya demi kemajuan Islam.
Itulah beberapa sikap teladan Usman bin Affan yang bisa dipetik. Semoga uraian di atas bisa menambah kecintaan kita sebagai muslim pada para sahabat Rasulullah SAW.



