Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 5

Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 5

Soal : Apakah yang dimaksud dengan yaumu syak (يوم الشك)
Jawab : Yaumu artinya hari dan syak artinya ragu. Yaumu syak artinya hari ragu apakah hari tersebut sudah bagian dari bulan Ramadhan atau masih bagian dari bulan Sya’ban. Hari syak jatuh pada tanggal 30 bulan Sya’ban jika tidak terlihat bualan baru pada malamnya.

Soal : Bolehkah berpuasa pada hari syak ?
Jawab : Dibolehkan berpuasa pada hari syak dengan syarat sudah terbiasa berpuasa pada hari sebelum nya, misalnya sudah biasa puasa selang satu hari (puasa Daud).
Demikian penjelasan dalam kitab Fathul Qorib bab puasa.
Dalam sebuah hadits juga disebutkan sebagai berikut ;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقَدَّمُوا صِيَامَ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ وَلَا بِيَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَيَصُومُهُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendahuli Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali seseorang yang tengah menjalankan puasa tertentu, kemudian ia berpuasa pada hari itu.” Shahih: Ar-Raudh An-Nadhir (643), Ash-Shahihah (2398), Shahih Abi Daud (2023). Muttafaq ‘Alaih.

Soal : Apa yang dimaksud Benang putih dan benang merah pada ayat Alquran surat Al – Baqarah : 187 ?
…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al Baqarah: 187)
Jawab : Yang dimaksud dengan khaythul abyadh (benang putih) di sini adalah fajar shadiq atau fajar kedua karena berwarna putih dan melintang di ufuk seperti benang. Sedangkan Khaitul aswad (benang hitam) adalah fajar kadzib atau fajar pertama.
Dalam sabdanya, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan tentang fajar,

الفجر فجران: فأما الفجر الذي يكون كذنب السرحان فلا يحل الصلاة ولا يحرم الطعام، وأما الفجر الذي يذهب مستطيلا في الأفق فإنه يحل الصلاة و يحرم الطعام

“Fajar itu ada dua: pertama, (fajar kadzib) fajar yang bentuknya seperti ekor serigala, maka ini tidak menghalalkan shalat (shubuh) dan tidak mengharamkan makan. Kedua, (fajar sodiq) fajar yang memanjang di ufuk, ia menghalalkan shalat (shubuh) dan mengharamkan makan (mulai puasa)” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’).

Soal : Manakah dia hari yang diharamkan padanya berpuasa ?
Jawab : Adapun hari yang diharamkan padanya berpuasa adalah
1. Dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى

Dari Abu Sa’id, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau “Melarang berpuasa pada hari raya Fitri dan Adha.” Shahih: Al Irwa (962), Ar-Raudh (643), Shahih Abi Daud (2088). Muttafaq ‘Alaih.

عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى أَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَيَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَيَوْمُ الْأَضْحَى تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ لَحْمِ نُسُكِكُمْ

Dari Abu Ubaid, dia berkata, aku menyaksikan hari raya Fitri bersama Umar bin Khaththab, beliau memulai shalat sebelum khutbah, pesannya; “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari ini, hari raya Fitri dan hari raya Adha, adapun hari raya Fitri adalah hari berbuka puasa kalian dan hari raya Adha kalian makan daging yang kalian sembelih di hari itu.” Shahih: Al Irwa’ (4/127-128), Shahih Abi Daud (2084). Muttafaq ‘Alaih.
2. Hari tasyrik ( 3 hari setelah hari raya Idul Adha) tanggal 11,12, 13 Dzulhijjah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Hari-hari Mina adalah hari makan dan minum.” Hasan Shahih: Al Irwa’ (4/129), Ar-Raudh (849), Ash-Shahihah (1282).

عَنْ بِشْرِ بْنِ سُحَيْمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَقَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ هَذِهِ الْأَيَّامَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Dari Bisyr bin Suhaim, bahwa Rasulullah SAW berkhutbah pada hari Tasyrik, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim, dan sesungguhnya hari-hari ini adalah hari makan dan minum.” Shahih: Al lrwa’ (4/128-129), Ar-Raudh (849).

Soal : Bagaimana hukum orang yang bersetubuh (jima’) di bulan suci Ramadhan?
Jawab : Orang yang bersetubuh dalam keadaan sudah dibebani kewajiban (mukallaf) dan sudah berniat puasa di malam harinya dikenakan kewajiban mengqhada’ puasa dan membayar kafarot, dan berdosa sebab persetubuhan yang telah dilakukan. Adapun kadar kafarot nya adalah sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ صُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا أُطِيقُ قَالَ أَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ اجْلِسْ فَجَلَسَ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أُتِيَ بِمِكْتَلٍ يُدْعَى الْعَرَقَ فَقَالَ اذْهَبْ فَتَصَدَّقْ بِهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا قَالَ فَانْطَلِقْ فَأَطْعِمْهُ عِيَالَكَ

. Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata, “Binasalah aku,” Rasulullah bertanya, “Apa yamg membinasakamu.’ Ia menjawab, ‘Aku telah menyetubuhui istriku pada (siang hari) bulan Ramadhan’ Rasulullah SAW bersabda, “Bebaskanlah budak’ ia menjawab, ‘Aku tidak punya’ Rasulullah bersabda, ‘Puasalah dua bulan berturut-turut.’ Ia menjawab, ‘aku tidak sanggup’ Rasululah bersabda, ‘Berilah makan kepada 60 orang miskin’ ia menjawab, ‘Aku tidak punya’ Rasululah SAW bersabda, ‘Duduklah.’ Dan ia pun duduk. Saat ia sedang duduk tiba-tiba ia diberikan sekeranjang (makanan), Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah dan bersedekahlah dengan ini’ Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah di negeri kami, tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada kami’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah dan berilah makanan ini kepada kelurgamu.” Shahih: Al Irwa (939), Shahih Abi Daud (2068-2073). Muttafaq ‘Alaih.

Fath

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA