Kiprah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid Antara NU dan NW

Kiprah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid Antara NU dan NW

Oleh: Jupriyadi, S.Sos

Sangat sedikit tulisan yang menjelaskan bagaimana kiprah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Nahdlatul Ulama (NU) ketika pada tahun 1950 beliau menjadi Konsulat NU untuk Sunda Kecil sebutan NTB ketika itu, sama dengan Ketua DPW-NU NTB untuk saat ini. Dalam buku-buku ke-NW-an yang mengulas kisah perjuangannya hanya menjelaskan pernah menjadi konsulat NU untuk Sunda Kecil, namun secara terperinci tidak ada penjelasan.

Dari aspek historis Nahdlatul Ulama (NU) di Lombok sendiri menurut Gus Dur dalam tulisannya dibawa oleh seorang ulama keturunan Arab yaitu Syaikh Abdul Manan yang diutus oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk membuka wilayah NU Lombok pada tahun 1930. Setelah Syaikh Abdul Manan meninggal kepemimpinan NU Sunda Kecil dipegang oleh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1953, maka beliau adalah orang kedua yang memegang NU di Sunda kecil khususnya Lombok.
Dan yang melanjutkan kepemimpian NU setelah Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid mengundurkan diri dari NU adalah muridnya sendiri yaitu Tuan Guru KH. Faisal. Maka keduanya bersepakat untuk membagi peran ketika terjadi kemelut konflik dalam tubuh Partai Masyumi dimana NU keluar dari Partai Masyumi dan mendirikan Partai sendiri. Tuan Guru KH. Faisal tetap dalam NU menggantikan posisi gurunya. Sedangkan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tetap berkonsentrasi di Partai Masyumi.

Langkah dan strategi ini diambil mengingat konstelasi politik zaman liberal dimana PNI dan PKI sangat berkuasa ketika itu, tujuannya untuk tetap mempertahankan posisi-posisi strategis dalam pemerintahan maupun di parlemen agar tidak jatuh ke tangan pesaing politiknya yaitu PNI dan PKI tentu langkah itu untuk kepentingan umat khususnya di wilayah Lombok dan Sunda Kecil pada umumnya. Inilah kerjasama yang baik antara guru dengan murid.

Namun perlu diulas lebih dahulu kemelut yang terjadi di tubuh NU pada muktamar ke-19 di Palembang pada 28 April-1 Mei tahun 1952. Dalam Muktamar, kebanyakan tokoh NU setuju bila NU menjadi Partai, namun ada beberapa utusan yang menolak usulan tersebut dan berdebat sengit. KH. Wahid Hasyim atau ayahnya Gus Dur mencoba menjadi perantara untuk mencapai kompromi, namun KH. Wahab Chasbullah tidak mau mengalah dan teguh pada pendiriannya.
“Kalau Tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, silahkan tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya Cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, tuan-tuan boleh lihat nanti.” Ujar KH. Wahab Chasbullah. Bisa jadi ini pula yang melatarbelakangi keluarnya Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid dari NU. Besar kemungkinan beliau adalah sekelompok utusan yang menolak NU menjadi partai pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tersebut. Sebagai konsulat NU Sunda Kecil tentu beliau memiliki peran dan kiprah dalam muktamar NU serta menyuarakan apa yang menjadi kebaikan bersama khususnya di wilayah Lombok.

Pada pemilu pertama tahun 1955 ternyata partai NU dan Partai Masyumi di Lombok berimbang. Dimana Tuan Guru KH. Faisal sebagai Pengurus organisasi NU dan juga pengurus Partai NU dan Partai Masyumi dimana Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai pengurus Partai dan pengurus organisasi Nahdlatul Wathan (NW). Dari sini terdapat dua identitas kelompok besar yang dipimpin oleh guru dan murid, dan itupula yang menyebabkan perbedaan institusional diantara keduanya yaitu anatara NW dan NU meskipun tentu hubungan antara guru dan murid tetap terjaga dan berjalan dengan baik.

Seperti yang terdapat dalam wasiat renungan masa pengalaman baru yang mengatakan :

Dahlan Ihsan telah berkata
Di kitab “Sirajuth thalibiina”
“Murid durhaka pada gurunya
Tidak terhapus dosa lengahnya”

Ibnu assubki pun telah menaqal
Di kitab Thabaqat yang sangat terkenal
Fatwa tersebut memang dinaqal
Dari jawaban Imam ‘Busahal’

Murid yang putus dari gurunya
Berarti rusak pipa ilmunya
Hilang terbakar sari ilmunya
Dibakar syaitan dan hawa nafsunya

Kalau guru membuang muridnya 
Tidak terputus pertaliannya
Dan sebaliknya putus jadinya
Ini menurut fatwa “Fuqaha”

Atas restu Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath yaitu Guru Besarnya di Makkah. Maka pada tanggal 1 Maret 1953 di Pancor Lombok Timur Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendeklarasikan berdirinya organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai wadah untuk menaungi dan mengorganisir kegiatan sosial, majlis dakwah, majlis taklim, dan cabang-cabang madrasah NWDI dan NBDI yang telah tersebar diseluruh Pulau Lombok. 
Embrio berdirinya madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah bermula dari Pesantren Al-Mujahidin yang dirintisnya setelah pulang menuntut ilmu dari madrasah Ash-Shaulatiyah Makkah pada tahun 1934. Disebabkan pelataran rumanya tidak lagi bisa menampung jamaah dan masyarakat yang antusias menimba ilmu darinya maka dua tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus tahun 1936 secara resmi mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Dan tujuh tahun kemudian tepatnya 21 April 1943 mendirikan madrasah khusus wanita yaitu Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI).

Pertemuan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan Nahdlatul Ulama (NU) bisa jadi melalui kultur pesantren atau madrasah, karena NU lebih kental dengan kaum sarungan sama persis dengan apa yang dirintis oleh beliau dalam mengemban misi ilmu keislaman yang diajarkan di Lombok. NU masuk ke Lombok pada tahun 1930, dan Tuan Guru KH. Zainuddin pulang dari Makkah pada tahun 1934. Ajaran dan pemahaman serta aqidah NU sebagai organisasi sangat mudah diterima karena tradisi warga Nahdiyin di jawa hampir sama dengan tradisi warga masyarakat di Lombok.

Begitupun ajaran dan ilmu keislaman yang dibawa oleh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak berbeda dengan NU. Karena sumber keilmuannya sama yaitu di madrasah Ash-Shaulatiyah. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU juga mengenyam pendidikan disana, kemungkinan hal itu yang melatarbelakangi beliau menjadi pengurus NU di Sunda Kecil (NTB). Dengan pesatnya pengajian (majelis taklim) yang beliau isi, dan cabang-cabang madrasah NWDI dan NBDI yang tersebar diseluruh pulau lombok mencapai 66 cabang. Tentu itu juga menjadi nilai plus jika beliau menjadi pengurus NU.

Tujuh belas (17) tahun lamanya Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merintis jalan dakwah secara langsung maupun melalui madrasah sehingga menghasilkan 66 cabang madrasah yang tersebar diseluruh pulau Lombok diantaranya 36 cabang di Lombok Timur, 18 cabang di Lombok Tengah, dan 10 cabang di Lombok Barat. Masa masa penuh kemelut ditahun-tahun sebelum merdeka sampai pada awal-awal masa kemerdekaan. Dari tahun 1936 sampai tahun 1953 adalah waktu yang tidak sebentar dalam berdakwah memperbaiki pemahaman dan akhlak masyarakat. 
Selanjutnya dari tahun 1953-1955 Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menetapkan bahwa organisasi yang baru didirikannya itu berafiliasi dan mendukung partai Masyumi. Sehinnga beliau terpilih menjadi anggota konstituante pada pemilu pertama tahun 1955. Masyumi dibubarkan oleh pemerintahan Soekarno pada tahun 1960 karena terindikasi anggotanya mendukung pemberontakan DI/TII. Konstelasi perpolitikan nasional mulai mengalami kegocangan dengan ditetapkannya ideologi NASAKOM (Nasionalis Agama dan Komunis) yang diterapkan oleh pemerintah. Tiga kekuatan besar ini diinginkan menjadi penyeimbang kekuatan negara oleh presiden Soekarno. Nasionalis diwakili oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), Agama diwakili oleh Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan unsur Komunis oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Setelah bubarnya Masyumi NW secara tegas mendukung terbentuknya Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) khususnya di Pulau Lombok. Namun disebabkan kurang diakomodirnya aspirasi politik NW ketika itu, akibatnya NW kurang aktif dalam partai tersebut. Lagi-lagi Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merubah haluan politiknya pada tahun 1970 beliau membawa organisasi NW berafiliasi mendukung Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Alasannya mendukung Golkar diantaranya: Pertama karena Orde Baru yang terdiri dari kekuatan ABRI bersama-sama umat Islam berhasil menumpas komunisme dan itu dipandang sebagai perbuatan yang sangat berharga demi kemaslahatan umat Islam, oleh sebab itu Golkar sebagai partai pemmerintah harus didukung. Kedua aspirasi politik NW diakomodir oleh Golkar yaitu dengan ditunjuknya H. Zainuddin Mansur, MA sebagai anggota Fraksi Alim Ulama di DPR dan beberapa kader NW lainnya.

Setelah pemilu tahun 1971 pemerintah membuat peraturan yang memangkas partai-partai menjadi dua kelompok saja yaitu Nasionalis dan agama. Kelompok Nasionalis di isi oleh Partai Katolik, PNI, IPKI, MURBA dll menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI), untuk kelompok Agama khususnya Islam ada partai NU, Parmusi, Perti, PSII menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) “saya tekankan jangan menonjolkan agamanya, karena itu namanya pun tidak menyebut-nyebut Islam. Melainkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan program Spiritual-Materil” ungkap Soeharto.
Pada masa-masa itu pula terjadi gesekan anatara pemerintah orde baru dengan ormas-ormas Islam termasuk NU untuk memilih Golkar dalam pemilu.

Represi politik yang dilakukan pemerintah kepada lawan politiknya terutama NU yang berada di PPP. Hal itupun berimbas ke Lombok, dua organisasi Islam antara NU dan NW saling Berhadap-hadapan, dimana Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid selaku pimpinan NW sebagai juru kampanye Golkar di Lombok, dan NU yang dipimpin oleh Tuan Guru KH. Faisal selaku pengurus PPP melakukan perlawanan kepada ulama-ulama yang berada dalam partai pemerintah. Situasi ini berhasil menarik pemilih dari kalangan santri untuk bersatu memilih PPP.

Namun hal itu belum mampu mengimbangi kekuatan Golkar yang disokong pemerintah. Sehingga dalam tubuh NW sendiri mengalami konflik internal, dimana sebagian kader-kader NW memilih berafiliasi kepada PPP dari pada memilih Golkar. Akan tetapi suara Golkar di NTB selalu unggul mengingat sentral figur NW yaitu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid cukup berpengaruh di masyarakat Lombok, Sehingga apapun yang dikatan oleh beliau akan diaminkan oleh masyarakat dan pecintanya.

Konflik ini tetap berlangsung sampai tahun 1982 terutama menjelang pemilihan umum, dalam kondisi ini Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memilih untuk diam dengan melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM) sikap ini diambil untuk tidak terlibat langsung sebagai pendukung partai politik tertentu baik PPP maupun Golkar. Sikap ini kemudian melahirkan gagasan untuk kembali ke khittah perjuangan awal NW yaitu fokus pada gerakan Pendidikan, Sosial dan Dakwah Islamiyah.

Bisa disimpulkan jika Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memiliki ijtihat tersendiri dalam menentukan kebijakan yang diambilnya hanya semata-mata demi kepentingan bersama serta demi keutuhan persatuan dan kesatuan. Misalnya ketika koflik internal yang terjadi di partai Masyumi beliau lebih memilih tetap di Masyumi demi kemaslahatan bersama agar posisi-posisi penting dan strategis dapat di isi oleh kalangan muslim di daerahnya. Begitupun ketika beliau memilih pindah ke Golkar dari Parmusi, Golkar dapat mengakomodir anpirasi NW sehingga kader-kader NW didaerah dapat masuk mengabdi untuk kepentingan bersama dengan di tunjuknya H. Zainuddin Mansur, MA sebagai Anggota Fraksi Alim Ulama di DPR dan beberapa kader lainnya.

Harapan beliau untuk NTB tersirat dalam bait yang mengatakan :
NTB mengharap pemerataan 
Keadilan sejati dan kebenaran
Agar meratalah kemakmuran
Di tanah air ciptaan Tuhan.

Wallahu a’lam bishawab

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA