Man Wajad Tsamaroh ‘amalih ‘ajila
Mengawali hikamnya Syaikh Athoillah
Merasakan buah amal di dunia
Tanda diterima di yaumil qiyamah
Li kulli Syay-in ‘alamah
Setiap sesuatu ada tandanya
Buah amal istilah Syaikh Athoillah
Semoga kita mendapatkannya
Lezat dan hati senang saat ibadah
Itu tanda buah amal di dunia
Gemar dan semangat beribadah
Juga tanda buah amal lainnya
Syaikh Ahmad Zarruq berkata
Tanda buah amal pada hikam ini
Adanya Hayyah Thoyyibah di dunia
Yaitu tenang dan tentram dalam hati
Hushulul basyarah tanda yang kedua
Bizawalil khaufi wal huzni
Ada kebahagiaan pada kita
Karena rasa takut dan sedih pergi
*Penjelasan*
Amal ibadah yang kita lakukan in syaa Allah diterima di sisi Allah SWT dan akan diberikan pahala nanti di yaumil akhir. Namun untuk mengetahui apakah amal ibadah kita diterima atau tidak, kita tidak bisa memastikannya. Kita hanya berharap semoga diterima dan mendapatkan pahala. Terkait dengan hal ini, sedangkal pengetahuan saya, ulamapun tidak membahas secara detail, yang ada hanya pembahasan tentang tanda-tanda diterimanya amal ibadah. Karena pada dasarnya, Likulli Syayy-in ‘alamah, Segala sesuatu itu itu ada tandanya. Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandariy menjelaskan tentang hal tersebut dalam hikamnya di fasal empat puluh lima.
مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عاجِلاً فَهُوَ دَليلٌ عَلى وُجودِ القَبولِ آجلاً
Siapa yang dapat merasakan buah amalnya di dunia ini, maka itu adalah tanda bahwa amalnya dikabulkan Allah di akhirat nanti.
Syaikh Ahmad Zarruq ketika mensyarah hikam di atas, beliau menjelaskan yang dimaksud dengan tsamarota ‘amalih.
ثمرة العمل ما ينشأ عنه من الفوائد الدينية و الدنياوية
“ Buah amal itu adalah faedah yang timbul/muncul dari amal ibadah baik itu faedah keagamaan maupun keduniaan.” (al-Syaikh Zarruq, *Hikam Ibn ‘Athoillah Syarh al-‘Arif Billah al-Syaikh Zarruq*, Kitab al-Sya’b, 1985, hal. 118).
Buah amal dalam pandangan Syaikh Ahmad Zarruq terdiri dari dua faedah, faedah yang terkait dengan kemaslahatan keagamaan dan faedah kemaslahatan keduniaan. Faedah-faedah ini bisa dirasakan dalam tiga kondisi. Pertama, adanya kebahagiaan hidup dengan hilangnya perasaan takut dan sedih ( حصول البشارة بزوال الخوف والحزن ) sebagaimana firman Allah SWT:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (63) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (64) (Q.S Yunus: 62-64).
Kedua, adanya kehidupan yang baik/ tenang yang ditandai dengan keridhaan batin dan sifat qana‘ah atas segala pemberian Allah ( والحياة الطيبة بالرضا والقناعة ). Dalam hal ini Syaikh Zarruq mengutip firman Allah SWT :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Siapa saja beramal saleh laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka itu orang beriman, maka kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik,” (Q.S. An-Nahl: 97).
Ketiga, Allah tampakkan rahasia atas penguasaan alam, yaitu dengan dimudahkan bagi kita dalam menghadapi sesuatu, seolah-olah alam ini tunduk dan patuh kepada kita lahir dan batin ( وظهور سر الخلافة بتسخير الكائنات وانفعالها ظاهرا وباطنا ). Dalam hal ini Syaikh Zarruq mengutip Surat An-Nur ayat 55:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“Allah menjanjikan orang-orang beriman di antara kalian dan mereka yang beramal saleh sebuah kekuasaan di bumi sebagaimana Ia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Ia teguhkan agama mereka yang Ia ridhai’, serta Ia mengganti ketakutan mereka dengan rasa aman…,”
Kemudian Syaikh Zarruq mengutip sebuah hadits yang memberikan I’tibar kepada kita bahwa kelezatan dalam ibadah bisa dikatakan bentuk dari buah amal itu sendiri.
وفى الحديث الصحيح قول ذلك الصحابي: فمنا من أينعت له ثمرته فهو يهديها، ومنا من مات لم يستوف من أجره شيئا منهم مصعب بن عمير رضى الله عنهم أجمعين. ومن طيب الحياة حلاوة الطاعة، فمن ثم يصح كونها ثمرة لا من حيث ذاتها فتدبر ذلك، وبالله التوفيق.
“Dalam hadits shahih seorang sahabat Rasul berkata, ‘Sebagian kami ada yang memiliki ‘buah’ matang, lalu Allah menghadiahkan untuknya. Tetapi sebagian kami ada yang wafat dan belum sempat mencicipi buah dari amalnya, salah satu dari mereka adalah Mush‘ab bin Umair RA.’ Salah satu bentuk ketenangan hidup adalah merasakan kelezatan aktivitas ibadah. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa kelezatan aktivitas ibadah itu sendiri bisa disebut sebagai bentuk dari buah amal, bukan sekadar aktivitasnya itu sendiri,” (al-Syaikh Zarruq, -Hikam Ibn ‘Athoillah Syarh al-‘Arif Billah al-Syaikh Zarruq*, Kitab al-Sya’b, 1985, hal. 118).
Akhirnya dengan mengharap taufik dari Allah semoga kita dimudahkan untuk bisa beramal ibadah dengana baik dan benar serta dipenuhi dengan rasa keikhlasan, bukan yang lainnya. Juga bukan karena ingin mendapatkan faedah-faedah berupa buah amal seperti tersebut di atas. Tapi semua semata-mata karena-Nya karena bila sudah demikian, in syaa Allah faedah-faedah yang berupa buah amal tersebut akan datang dengan sendirinya.
Wallahu a’lam bi al-Showab
Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi,* 12 10 2020




