Sebelum mengakhiri jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 31 Oktober 2003, Mahathir Mohamad membuat pernyataan kontroversial. Penggalan pidatonya tentang hegemoni Yahudi memunculkan reaksi Amerika dan beberapa negara Eropa. Terdapat banyak implikasi dari pernyataan Mahathir. Satu di antaranya, pidato itu akan mengalihkan perhatian masyarakat Malaysia dan internasional atas sepak terjang Mahathir selama menjabat PM. Lazimnya, berakhirnya jabatan seorang tokoh politik segera diusul dengan upaya penyingkapan berbagai kasus politik. Penyingkiran terhadap Anwar Ibrahim, misalnya, tidak akan menjadi fokus politik.
Andaikata pidato itu sendiri tidak memunculkan kontroversi, besar kemungkinan Mahathir tetap akan selamat dari usaha pengungkapan gaya politiknya seperti terhadap Anwar Ibrahim. Sistem politik yang dibangunnya selama 22 tahun dan pengganti setianya, Abdullah Ahmad Badawi, akan menutup kemungkinan ke arah sana. Pertimbangan lainnya, kesuksesannya membangun Malaysia juga akan membuat Mahathir lebih banyak mengisi memori positif kolektif rakyat Malaysia.
Intinya, pidato Mahathir pada pembukaan KTT OKI ke-10 di Putrajaya, Malaysia, 16 Oktober 2003, menjadi lebih krusial ketimbang apa pun yang pernah dilakukannya selama karier politiknya. Pidato itu selain melambungkan keberanian pribadi Mahathir terhadap Barat, juga mengangkat harkat Malaysia sebagai negara yang berupaya sejajar dengan negara-negara maju. Pidato itu juga mengilhami umat Islam untuk bersikap kritis terhadap agamanya.
Porsi paling besar pidato Mahathir membicarakan subordinasi kuantitas 1,3 miliar umat Islam di hadapan jumlah minimal Yahudi. Bagi Mahathir, jumlah sebanyak itu merupakan angka sangat potensial untuk keluar dari penghinaan dan penindasan dari bangsa lain. Tragis dan mubazir jika jumlah potensial itu lebih banyak disalahgunakan untuk tindakan balas dendam dan kekerasan. Pertanyaannya, mengapa kuantitas muslim yang begitu banyak harus bertekuk lutut di hadapan Yahudi? Jawaban atas kemunduran dan subordinasi umat Islam bukanlah secara klise menyatakan karena umat Islam mencampakkan ajaran Islam dan Yahudi mendapatkan kemajuan karena meninggalkan ajaran Yahudi dan karena itu umat Islam harus kembali kepada ajaran sejati Islam.
Bagi Mahathir (1997), kembali kepada ajaran Islam berarti memisahkan secara tegas campur aduk pelbagai penafsiran, ajaran, dan fatwa yang dibuat selama 1400 tahun setelah Hijrah dengan ajaran-ajaran atau nilai-nilai fundamental Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sebab, beragam penafsiran itu merupakan faktor sangat fenomenal yang mencerai-beraikan persaudaraan Islam. Penafsiran untuk mencari berbagai rupa dan bentuk Islam tidak semestinya membuat umat Islam saling berselisih paham, mencaci-maki, dan berperang satu sama lain. Perbedaan mencari bentuk Islam harus diletakkan dalam kerangka nilai persaudaraan menuju masyarakat Islam yang demokratis. Mahathir menyebutnya musyawarah.
Sikap tidak demokratis di kalangan internal umat Islam pada akhirnya mengarah keluar dari lingkungan umat Islam sendiri. Terorisme adalah implikasi dari tidak demokratisnya umat Islam selama berabad-abad lamanya. Terorisme pada akhirnya menjadi ancaman tanpa diskriminasi keyakinan dan lintas batas negara. Padahal politik Islam periode sejarah awal ketika menghadapi tekanan jahiliyah Quraisy mengedepankan falsafah perjuangan diplomatik.
Untuk keluar dari brutalitas dan utopia, umat Islam mesti mrngembalikan jiwa tolerannya. Tidak ada sedikit pun kebaikan yang dapat diperoleh di balik sikap-sikap tersebut, selain kekalahan demi kekalahan yang makin melemahkan kekuatan umat Islam. Karena itu, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah retrospeksi tentang bagaimana nilai-nilai Islam seperti toleransi, persaudaraan, dan musyawarah diaktualisasikan secara elegan dalam kehidupan.
Aktualisasi itu bukan hanya pada soal penafsiran keagamaan tetapi juga pada aspek-aspek lainnya seperti dalam bidang keilmuan dan penemuan terus-menerus teknologi baru. Khususnya yang disebut belakangan, merupakan hukum universal sejarah, bahwa siapa pun yang menguasainya akan menjadi penguasa dunia. Karena iptek itulah bangsa dengan jumlah hanya jutaan seperti Yahudi dapat bertindak amat jumawa, mampu menguasai, mempengaruhi, mempermainkan, dan mengendalikan dunia serta membuat banyak orang rela berkorban demi mereka, termasuk para pemimpin dunia Arab.
Buat Mahathir, memahami dinamika sejarah amatlah penting. Merekayasa masa depan artinya melihat ke belakang. Bukan cuma menengok sekilas, tetapi sungguh-sungguh memandangnya dengan pikiran kritis demi mencari iktibar, panduan, dan pelajaran kesejarahan, bukan hanya perihal sejarah umat Islam sendiri, melainkan juga mengenai sejarah umat manusia secara keseluruhan.
Tanpa retrospeksi, mustahil ada rekayasa baru. Umat Islam bisa saja percaya sedang menuju ke depan. Namun, tanpa melihat ke belakang, tempat dari mana mereka datang, ada kemungkinan mereka justru melangkah ke belakang. Sejarah memberi pelajaran, perkembangan dan kemajuan Islam pada periode formasi dan keemasannya disebabkan toleransi di balik aneka penafsiran dan fatwa, serta, dalam bahasa Mahathir sendiri, kebebasan dalam mempelajari, menguasai, dan menambal-sulam segala ilmu pengetahuan dunia yang telah dipopulerkan tokoh-tokoh Yunani dan Romawi.
Islam berwibawa dan besar, dalam pengertian bijak dan terampil serta dapat memahami segala karunia Tuhan, karena konsistensi pada kedua hal tersebut. Untuk itu dibutuhkan biaya, waktu, dan tenaga tak terkira, sangat lama, dan amat melelahkan. Menuju masa depan demi mengembalikan masa gemilang Islam tidak dapat digapai melalui jalan pintas dan cara-cara menindas. Nilai-nilai fundamental Islam seperti musyawarah, toleransi, persaudaraan, resolusi konflik secara damai, dan giat mencari serta mengembangkan iptek, hanya dapat ditegakkan melalui kesabaran dan jalan anti kekerasan.
Betapapun kontroversialnya pribadi Mahathir Mohamad atau kediktatorannya terhadap lawan-lawan politiknya seperti terhadap Anwar Ibrahim, pidato tentang cakar pengaruh atau hegemoni Yahudi di atas pentas dunia tidaklah mengurangi kontribusi sosiologisnya buat umat Islam. Mahathir hampir sendirian melawan kecongkakan Barat. Perlawanannya mengambil bentuk lain, berupa kemajuan-kemajuan yang kini sedang diperlihatkan Malaysia. Ia menawarkan metode lain melawan Barat selain terorisme. Mau tidak mau, kemajuan yang ditunjukkan Mahathir selama pemerintahannya dan kebenaran ucapannya tentang pengaruh menggurita Yahudi membuat Islam mempunyai segi lain dalam pandangan Barat. Islam bukan jenis agama teroristik. Terorisme adalah bentuk menyimpang dari agama, Islam, maupun agama lainnya.
Ketidakpeduliannya akan bagaimana rakyat Malaysia bakal mengapresiasi segala jerih payahnya sesungguhnya merupakan tantangan pernyataan buat rakyat yang pernah dipimpinnya, bahwa Mahathirlah pemimpin paling berpengaruh dan paling berjasa dalam pembangunan segala bidang Malaysia, mulai dari ekonomi, politik yang stabil, hingga tawar menawar Islam di mata dunia yang _borderless._
Ketika Mr M menolak sebuatan _Little Soekarno_ karena presiden pertama Indonesia itu dinilainya menghadapi tantangan yang lebih berat dan lebih besar, dia hendak mengatakan dirinya mempunyai kontribusi yang juga besar dalam konteks yang berbeda dengan Indonesia. Membandingkan Mahathir dengan Soekarno sama saja dengan membandingkan dua tokoh besar dengan konteks waktu dan tempat yang berbeda. Keduanya sama besar, kontroversial, percaya diri dan berani, serta sama-sama berjasa bagi negara masing-masing.




