Istilah kemerdekaan, tidak hanya lahir pada saat penjajahan, seperti ketika kita berjuang membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan Jepang. Tetapi, kemerdekaan adalah juga cita-cita mulia yang ada pada diri Rasulullah saw. Artinya, beliau diutus لتحرير الناس (untuk memerdekakan manusia).
Demikian bunyi petikan pidato Tuan Guru Bajang di Kabupaten Langkat Sumatera pada tahun 2017 yang lalu.
Memang, pada kesempatan itu, TGB membahas seputar makna kemerdekaan. Makna kemerdekaan Republik Indonesia yang direlasikan dengan visi kemerdekaan yang diletakkan oleh Sang Baginda Nabi Muhammad saw. berupa pembebasan manusia dari kesalahan konsep dalam menilai kehidupan di dunia ini.
Bahkan kata sosok Ulama Hafidz al-Qur’an 30 juz itu, konsep hidup masyarakat jahiliyah dahulu sangatlah fatal. Mereka menganggap hidup ini hanya sekali. Di dunia ini saja. Mereka tidak meyakini adanya kebangkitan. Bagi mereka akhirat hanya ilusi dan tipuan sihir. Dan konsep mereka itu berulang-ulang ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an.
وقالوا ما هي إلا حياتنا الدنيا نموت ونحيا وما يهلكنا إلا الدهر .
Demikian ayat yang dikutip TGB yang artinya, “Dan mereka berkata: ‘Ia (kehidupan ini) tidak lain kecuali kehidupan dunia kita saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’.” (QS. al-Jatsiyah: 24).
Berdasarkan ayat ini tulis Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah vol. 12 hal. 367, bahwa mereka memandang hidup ini hanya sekali ini saja. Hanya di dunia ini, tidak ada akhirat. Bagi mereka, hidup dan mati yang kita saksikan ini adalah sebuah rute perjalanan masa yang demikian panjang.
Rute yang terus-menerus datang secara bersinambung, dan kita pun sebagai manusia silih berganti lahir dan mati. Kematian bukanlah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Demikian ucapan dan kepercayaan mereka yang ditulis Pak Quraish.
Selain ayat yang dikutip oleh sosok peraih gelar Gubernur Termuda tersebut, ada pula ayat-ayat yang semakna dan senada dengannya pada surah-surah lainnya, seperti pada QS. al-An’am ayat 29: “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.”
Dari rekaman ayat ini, –sebagaimana tulis Prof Quraish Shihab– seakan mereka berkata, “Apa yang telah kita lihat dan alami sebagai kebangkitan setelah kematian tidak lain hanyalah ilusi dan sihir. Ia sebenarnya tidak pernah ada.” Demikian lebih kurang ucapan mereka, seandainya mereka dikembalikan ke dunia. (Al-Mishbah, vol. 3 hal. 388).
Demikian pula perkataan mereka itu diabadikan pada surah al-Mu’minun ayat 29, yang menurut Abi Najwa dalam tafsirnya (volume 8 hlm. 366), ialah bahwa di samping mereka tidak mempercayai hari kembangkitan, mereka juga mencemooh kenabian Rasulullah Muhammad saw.
Dari sekian ayat tetsebut, dengan bantuan penjelasan dari tafsir Al-Mishbah, maka semakin jelas betapa salah dan fatalnya konsep hidup yang mereka anut dan yakini selama ini. Maka, pantas saja kata TGB kehidupan mereka berutal, ambisius dan angkuh.
Apa saja yang mau diambil, mereka ambil. Apa saja yang mau disikat, mereka sikat. Mereka raih apa saja yang dinginkannya. Rampas dan merampas apa pun yang menjadi kesukaan mereka. Tanpa mempedulikan caranya, yang penting puas. Karena bagi mereka, akhirat itu tidak ada.
Sungguh, betapa gelapnya dunia mereka. Betapa ngerinya hukum yang mereka berlakukan. Betapa tersiksanya orang yang lemah dan tak berdaya. Pantas saja perbudakan meraja lela. Sebagai akibat kesalahan konsep hidup yang mereka pahami.
Kefatalan konsep hidup mereka itulah yang diganti oleh Rasulullah saw. melalui ajaran Islam yang dibawanya. Konsep yang benar itu ditulis pada QS. al-Ankabut ayat 64:
وإن الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون .
“Dan sesungguhnya negeri akhirat, dialah kehidupan sempurna. Kalau mereka mengetahui.”
Kalau mereka menggunakan ilmunya pastilah mereka mengetahui perbedaan antar keduanya. Yang satu sementara, yang kedua kekal. Yang satu kenikmatan semu dan yang lainnya kenikmatan hakiki.
Tentu saja, kehidupan dunia bagi orang yang percaya akhirat, pasti memandang kehidupan dunia sebagai arena untuk melakukan amal saleh yang sangat berperan dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.
Apa yang diperoleh di akhirat diukur dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan dunia ini, kehidupan dunia sangat berarti, bahkan berharga. Demikian lebih kurang Quraish Shihab.
Nah, perubahan konsep inilah yang disebut TGB sebagai salah satu cita-cita besar Rasulullah saw. bagi umatnya. Dari orang yang semula memikirkan dunia saja. Hidup untuk jangka pendek. Yang penting untung dan bahagia sekarang. Dirubah menjadi orang yang berpikir panjang. Berpikir tentang investasi apa yang disiapkan untuk menuju kehidupan yang hakiki.
Jadi, “Hakikat kemerdekaan adalah merdeka dari penjajahan konsep bahwa dunia ini segalanya. Berubah menjadi bahwa dunia ini adalah jalan untuk mencari kebahagiaan yang hakiki di akhirat.” Demikian penegasan Tuan Guru Bajang terkait hakikat kemerdekaan.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 15 Agustus 2020 M.





