Pada tulisan kali ini Saya ingin membicarakan perihal Bahagia secara universal, baik dari sisi agama, maupun sisi psikologi. Karena kebahagiaan ini adalah hal yang sangat menarik untuk dikupas tuntas. Terlalu banyak definisi Bahagia juga membuat seseorang tidak bisa menemukan kebahagiaanya, tidak perlu mendefinisikan bahagia menurut orang lain mari kita definisikan bahagia menurut diri sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles kebahagiaan itu adalah suatu kesenangan yang dicapai menurut kehendak masing-masing, karena kalau kita mengemukakan definisi bahagia menurut manusia akan memakan waktu yang sangat lama dan kita tidak punya waktu untuk hal itu.
Bahagia adalah suatu Perkara yang relatif bagi setiap manusia, tidak semua orang men-definisikan Bahagia dengan pengertian yang sama.
Dalam KBBI Bahagia berarti (ba·ha·gia) keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)
Katanya “Happiness is state of Mind” Kebahagiaan itu bergantung pada keadaan Pikiran kita, kalau kita bisa memanjemen pikiran kita untuk bahagia, sesulit apapun situasi yang ada dihadapan kita bisa merubahnya menjadi sebuah kebahagiaan.
Katanya السعادة هو صبر و شكر Kebahagiaan adalah sabar dan Syukur, seseorang akan tetap bisa berbahagia dalam keadaan seburuk apapun selama masih ada rasa Syukur dan Sabar dalam menghadapi segala situasi baik maupun buruk.
Kadangkala saya berpikir Kebahagiaan itu Nyata atau tidak? Banyak sekali manusia berlomba-lomba mencari kebahagiaan bahkan sampai menggadaikan Kesehatannya, Hartanya, Keluarganya hanya untuk mencari kebahagiaan, namun setelah mendapat Kebahagiaan, perasaan bahagia itu justru berlangsung dalam waktu yang sangat singkat tidak sebanding dengan banyaknya waktu yang terbuang untuk mencarinya.
Dalam Buku “Authentic Happiness” karya Martin Sligman mengatakan Kebahagiaan yang diinginkan manusia itu ada 3 macam :
1. Kaum Materialist adalah kelompok orang yang meyakini bahwa hakekat manusia adalah materi jadi kebahagiaan itu berasal dari Materi (Benda) tidak ada sumber kebahagiaan lain selain dari materi, kelompok ini mempercayai kehidupan hanya di Dunia saja tidak ada kehidupan lain setelah kehidupan Dunia.
2. Kaum Idealist adalah kelompok manusia yang mempercayai adanya kebahagiaan Hakiki hanya pada Ruh manusia saja sehingga kelompok ini rela menyiksa dirinya untuk bertapa ditempat yang sepi, meninggalkan kehidupan duniawi hanya untuk mencapai kebahagiaan Ruhaniahnya Di akhirat kelak.
3. Kaum Dualist adalah kelompok manusia yang mempercayai bahwa Kehidupan manusia itu ada pada dua tempat yaitu kehidupan Dunia dan Akhirat dan kaum ini menginginkan kebahagiaan di dua tempat tersebut.
Dari pembagian diatas saya mengambil kesimpulan bahwa Bahagia bergantung kepada kondisi Pemahaman dan Keyakinan seseorang. Yang mana dua hal ini akan memiliki pengaruh besar terhadap Pikiran seseorang untuk menentukan definisi bahagianya masing-masing.
Contohnya : ketika saya adalah seorang muslim saya akan merasa bahagia apabila saya memberi makan tetangga yang sedang lapar, walaupun secara objektifnya wujud kebahagiaan itu hanya sekedar melihat tetangga kenyang. Namun karena keyakinan bahwa ada ganjaran pahala berlipat-lipat ganda dibalik sedekah makanan kepada tetangga itulah asal dari kebahagiaan tersebut.
Ketika saya adalah atheis yang meyakini tidak adanya Tuhan, saya tentu akan menyandarkan segala kebahagiaan itu pada hal-hal yang bersifat Duniawi dan materialistik, seperti ketika saya mendapatkan mobil baru saya akan merasa bahagia ketika saya tidak memiliki mobil saya tidak akan bahagia. Keyakinan seseorang adalah Faktor penentu kebahagiaan masing-masing orang.
Kalau dikupas dalam Sisi Psikologisnya Bahagia adalah keadaan psikologis yang positif dimana seseorang memiliki emosi positif berupa kepuasan hidup dan juga pikiran dan perasaan yang positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. Emosi positif bisa tentang masa lalu, masa sekarang, atau masa depan, dengan mempelajari ketiga macam kebahagiaan ini, seseorang bisa menggerakkan emosi kearah yang positif dengan mengubah perasaan tentang masa lalu, cara berpikir tentang masa depan, dan cara menjalani masa sekarang.
Kebahagiaan akan meningkat seiring dengan bertambahnya emosi positif yang dirasakannya, baik pada saat mengingat masa lalu, masa depan ataupun melihat situasi saat ini. Lalu sewaktu-waktu kebahagiaan itu akan berubah seiring dengan banyaknya emosi negatif yang dialami oleh seseorang.
Ada banyak faktor yang dapat menjadi sebab kebahagiaan seseorang baik berasal dari keluarga, teman, sahabat, uang, cinta, ketenangan, kedamaian, materi, lingkungan, sosial masyarakat. Namun yang menjadi kekurangannya adalah jikalau seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada beberapa faktor tersebut seseorang akan merasa tidak bahagia ketika tidak memiliki beberapa faktor diatas hal ini justru akan menyusahkan kedepannya.
Bayangkan jika kita menggantungkan kebahagiaan kepada Teman, lalu suatu saat ia pergi meninggalkan kita, kita tentu akan merasa kehilangan, merasa sedih, merasa tidak berdaya, merasa terpuruk. Seharusnya kebahagiaan tidak digantungkan dengan hal apapun diluar diri seseorang, karena kebahagiaan sejati berasal dari Dalam diri seseorang.
Seringkali saya berpikir kebahagiaan itu letaknya di Hati atau Pikiran? Kadang ketika pikiran kita kacau kita masih bisa merasakan kebahagiaan, kadangkala ketika hati kita sakit kita pun masih bisa merasakan bahagia walaupun sedikit, lalu dimana letak kebahagiaan yang sesungguhnya.
Namun saya menyadari Pikiran dan Hati adalah Tonggak utama dari munculnya sebuah kebahagiaan, ketika pikiran dan hati sejalan, emosi positif pun akan mengaliri hati dan pikiran sehingga terwujudlah emosi positif itu dalam wujud sebuah perasaan Bahagia.
Namun Pikiran lebih berperan penting dibandingkan hati, karena kalau pikiran dididik untuk selalu Bahagia dalam segala situasi maka hati akan mengikuti kemana jalan pikiran seseorang.
Pikiran adalah Manager kebahagiaan, untuk itu sangat perlu untuk kita memberikan Amunisi untuk pikiran kita baik berupa Ilmu Pengetahuan maupun Nasehat-nasehat, Pengetahuan tentang hakekat kebahagiaan ini bisa didapatkan melalui banyak cara bisa dengan membaca,mendengar ceramah, dan lain sebagainya.
Kalau seseorang sudah berhasil menguasai Hati & Pikirannya dengan pengetahuan tentu tidaklah sulit untuk menciptakan Kebahagiaan dari dalam diri seseorang. Ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang kebahagiaan maka sesulit apapun keadaan akan selalu ada celah untuk berbahagia.
Misalkan ketika saya dalam sebuah perjalanan menuju kampus dan dosen sudah menunggu dikelas, tiba-tiba ban motor pecah dan harus dibawa ke bengkel, ketika saya mengambil sikap untuk Marah tentu saya akan menyalahkan Motor, merasa kesal, bahkan menyalahkan Tuhan. Namun ketika pikiran saya telah terdidik oleh ilmu pengetahuan tentu saya akan menyadari bahwa dengan Ban motor saya pecah saya akan mengantarkan Rezeki kepada Tukang tambal ban yang hari ini bengkelnya belum ada pengunjung, dengan saya datang ke Bengkelnya saya telah memberikan kebahagiaan untuk Si tukang bengkel dan dengan melihat orang lain bahagia, kebahagiaan itupun akan mengalir pada diri saya. Analogi yang sangat sederhana namun realistis.
Jadi mulai hari ini rubahlah Mind-set kita semua tentang Bahagia, supaya tidak ada lagi energi yang terbuang untuk mencari Kebahagiaan yang ada pada luar diri manusia. Kebahagiaan Hakiki ada pada dalam diri manusia itu sendiri.
Jangan lagi ada orang yang mengejar kebahagiaan dimasa depan sampai ia lupa untuk bahagia di hari ini, apa yang kita Kejar dan kita Inginkan belum tentu bisa benar-benar membahagiakan kita di masa depan nanti. Bahagialah mulai hari ini menit ini detik ini, dengan apapun kondisi yang ada dihadapan kita saat ini.
Jangan lagi ada orang yang menggantungkan bahagia pada hal-hal yang belum terjadi, seandainya ekspektasi kita tidak terjadi sesuai keinginan maka ekspektasi bahagia itu sendiri yang akan perlahan menghancurkan kita, menggrogoti hati dan pikiran sehingga berefek pada kesehatan Tubuh dan Mental, dan membunuh kita secara Perlahan.
Bahagialah dengan melihat nikmat Tuhan yang ada disekitar kita, disaat orang terbaring sakit kita diberikan nikmat sehat, ketika orang lain lapar kita masih bisa makan walaupun seadanya, disaat orang lain telah diwafatkan Kita justru masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki diri, ada banyak hal yang harus kita sadari di sekiling kita supaya kita dapat benar-benar merasakan betapa Cinta Tuhan sangat besar pada diri kita.
Berbahagialah dengan Merenungi banyaknya Cinta yang Tuhan berikan disekeliling kita.
Berbahagialah dengan tidak menjadikan Kehidupan orang lain sebagai standar kebahagiaan kita. Karena jalan Bahagia versi Aku, Kamu, Dia, Mereka semua berbeda.
Bahagiamu adalah Pikiranmu




