Setelah kurang lebih 3 bulan sebagian wilayah Indonesia menerapkan pembatasan sosial. Semua sektor termasuk sektor pendidikan akan kembali melakukan aktivitas dengan sejumlah protokol kesehatan.
Sektor pendidikan akan menjadi sektor terakhir yang dibuka dalam fase normal baru. Direktur Pendidikan Masyarakatdan Pendidikan Khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Samto Prawiro menjelaskan definisi normal baru.
“New normal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang terbaru itu istilahnya kenormalan baru, yaitu adaptasi terhadap kebiasaan-kebiasaan atau situasi baru karen adanya Covid-19,” ujar Samto dalam diskusi online ‘Kenormalan Baru Di Satuan Pendidikan’,
1• WHO Beri Peringatan untuk Indonesia soal Penerapan New Normal, Ini Isinya
2• Simak Aturan Berkendara Saat New Normal untuk Motor, Mobil hingga Kendaraan Umum
Dalam bidang pendidikan, menurutnya kenormalan baru mencakup dua hal.
Pertama, layanan pendidikan yang berkualitas di setiap satuan pendidikan.
Kedua, keamanan peserta didik dan stakeholder seluruh sekolah dari penularan wabah Covid-19.
“Kenapa pendidikan yang berkualitas? Karena kemarin selama tiga bulan ada relaksasi proses penyesuaian belajar di rumah, dimana kita menyikapi pandemi ini,” katanya.
Dalam pemaparannya, Samto mengungkapkan BNPB menjadikan sektor pendidikan sebagai sektor terakhir menuju fase normal baru ,merubah kebiasaan baru.
Merubah Kebiasaan
Kebijakan “the new normal” berintikan pada perubahan perilaku atau kebiasaan. Penulis sadari bahwa merubah perilaku sangat dipengaruhi oleh perubahan pikiran dan sikap yang dalam prakteknya bukanlah pekerjaan yang mudah, selain akibat pikiran dan sikap seseorang telah tersanda oleh paradigma lama, juga disebabkan mudahnya pikiran, sikap dan perilaku yang telah berubah itu kambuh kembali. Menurut para ahli mudah kambuh atau kembali pada kebiasaan lama akibat ketidakstabilan emosi. Oleh karena itu perubahan memerlukan pengengangan aktif.
Charles Duhigg (2014) dalam bukunya “The Power of Habit” mengutip hasil penelitian seorang peneliti Duke University pada tahun 2006 menemukan bahwa “40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan melainkan kebiasaan”.
Alan Deutschman (2008) dalam bukunya “Change or Die” mengemukakan fakta-fakta berikut ini: (1) penelitian menyimpulkan bahwa peluang untuk berubah adalah sembilan berbanding satu (9:1), artinya dari sembilan peluang, satu peluang adalah milik Anda. Para ahli mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh orang (90%) tidak mau berubah; (2) rahasia Toyota berhasil melakukan perubahan, tidak terletak pada teknologi yang digunakan, melainkan terletak pada sisi psikologinya. (3) banyak orang gagal merealisasikan tujuan dan keinginannya. Penyebabnya, bukan tidak mau berubah atau karena mereka tidak dapat berubah, melainkan lebih disebabkan mereka tidak memahami konsep perubahan itu sendiri atau tidak mempunyai perangkat yang benar untuk melakukan perubahan.
Pembiasaan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dengan mengambil porsi yang cukup besar dalam usaha manusia. Riset Duke University Amerika Serikat menyimpulkan bahwa perilaku manusia sebesar 40% dikendalikan oleh kebiasaannya.
Mahatma Ghandi, mengingatkan “Perhatikan pikiranmu, karena ia akan menjadi katakatamu. Perhatikan kata-katamu, karena ia akan menjadi perbuatanmu. Perhatikan perbuatanmu, karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu. Dan perhatikan karaktermu, karena ia akan menjadi taqdirmu”. Ibn Miskawaih (1998) dalam bukunya “Tahdzib Al-Akhlaq” menegaskan bahwa “karakter manusia terletak pada fikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”.
Joyce Divinyi (2003) dalam bukunya “Discipline Your Kids” mengatakan hal senada bahwa “otak membutuhkan pengulangan untuk membuat tingkah laku tertentu menjadi kebiasaan”.
Para pakar neurofisiologi menyimpulkan temuan mereka, bahwa otak mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk menerima pikiran atau perilaku yang berulangulang dan menyambungkannya ke pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan di bawah sadar. Semakin sering mengulangi pikiran dan tindakan yang konstruktif, pikiran atau tindakan itu akan menjadi semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis”, demikian dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya berjudul “Adversity Quotient”.
Memahami dan menyadari pentingnya pembiasaan itu, Islam menggunakan kebiasaan sebagai salah satu sarana pendidikan”, dikutip dari Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid (2005) dalam bukunya “10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas”.
Para psikolog berkumpul di Fransisco University membahas satu tema “Mengapa Merubah Kebiasaan Buruk itu Sulit”. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi, memuat tiga unsur penting dalam pembentukan perilaku baik, yakni: (1) komitmen, janji dan niat; akan lebih baik jika komitmen tersebut dituliskan, dan setiap waktu diucapkan dan pemasangan pin (2) modifikasi lingkungan, Kazuo Murakami (2007) dalam bukunya “The Divine Message of DNA” menjelaskan bahwa kita memiliki mekanismee “on-of”, seperti saklar. Perilaku dan kebiasaan dapat berubah atau bermutasi karena ia berinteraksi dengan lingkungan dimana seseorang berada, dipicu oleh sikap mental, perasaan atau emosi dan pikiran positif, antusiasme, kebahagiaan, keceriaan dan keadaan psikologi lainnya.





