Per-tanggal 28 Mei 2020 angka kasus positif corona di NTB telah mencapai angka 590 kasus.Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh baru mencapai 276 orang, sisanya 304 orang sedang dirawat dan 10 orang dinyatakan meninggal dunia.
Perkembangan kasus positif corona di NTB dari hari ke hari terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini membuat pemerintah memutar otak untuk memikirkan jalan keluar yang harus ditempuh. Mulai dari penutupan sementara tempat ibadah dan meliburkan sekolah-sekolah hingga upaya penutupan bandara sebagai salah satu jalur masuk pihak luar ke daerah NTB. Meskipun pada akhirnya penutupan bandara terhambat karena terkendala dengan otoritas dari pusat.
Tentu langkah-langkah tersebut tidak akan bisa berhasil tampa adanya kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat. Karena yang menjadi korban adalah masyarakat sehingga masyarakat dituntut harus bisa menjadi garda terdepan dalam upaya melawan bahaya virus corona.
Pada sektor pendidikan kemudian muncul wacana untuk mengaktifkan kembali proses belajar mengajar di sekolah setelah melalui masa libur panjang akibat pandemi covid-19 sejak dua bulan yang lalu. Wacana inipun mendapatkan beragam tanggapan dari masyarakat. Ada yang mendukung dan banyak pula yang menolak dengan alasan kasus positif corona di NTB semakin bertambah dan kini banyak menyasar kepada anak-anak dan balita. Kondisi seperti itu yang membuat banyak pihak meminta agar wacana tersebut dikaji ulang oleh pemerintah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa situasi pandemi covid-19 saat ini membuat para guru maupun peserta didik mengeluh dan merasa galau. Karena rindu akan suasana di sekolah untuk berkumpul belajar dan bermain dengan teman-temannya. Pembelajaran daring via online yang mereka dituntut ternyata tidak mampu menggantikan suasana pembelajaran secara langsung di sekolah selama ini.
Sedangkan disisi lain bahaya virus corona hingga saat ini semakin menghawatirkan bagi anak-anak. Hal itu menyusul konferensi pers yang disampaikan oleh Kadis Kesehatan Provinsi NTB tanggal 27 Mei lalu yang menyatakan bahwa jumlah anak di NTB yang positif corona mencapai 77 orang yang didominasi oleh bayi dan balita. Jumlah ini secara nasional merupakan urutan kedua setelah jawa timur.
Tentu kondisi seperti ini, seharusnya pemerintah bisa mempertimbangkan kembali wacana untuk mengaktifkan kembali proses belajar mengajar di sekolah. Karena kesehatan dan keselamatan peserta didik lebih utama dari pada sekedar mengaktifkan belajar mengajar di sekolah yang rentan terkadinya kontak jarak dekat antar peserta didik.
Terlebih lagi berdasarkan pemaparan Kadis Kesehatan Provinsi NTB tersebut bahwa anak-anak yang tepapar virus corona di NTB bukan dari orang tua mereka melainkan melalui virus liar atau dari orang tampa gejala dan transmisi lokal. Sehingga langkah tepat yang bisa dilakukan saat ini adalah memastikan anak-anak berdiam diri dirumah sementara waktu hingga kondisi benar-banar kondusif dan aman dari virus corona.
Meskipun upaya pemerintah mengaktifkan kembali belajar mengajar disekolah dengan standar protokoler kesehatan. Namun tetap harus mengutamakan keselamatan peserta didik. Karena tampa sosialisasi dan penjelasan yang utuh dan intens dari pihak sekolah maupun pemerintah terkait. Maka aktifitas anak-anak disekolahpun tidak bisa sepenuhnya terkontrol dengan baik. Oleh karena itu peserta didik harus benar-benar memahami terlebih dahulu tentang virus corona dan bagaimana pola penyebarannya. Sehingga peserta didik benar-benar paham sebelum pemberlakuan belajar mengajar di sekolah diaktifkan kembali. Hal ini penting untuk menjadi perhatian pemerintah.
Kita berharap kebijakan pemerintah terutama dalam lingkup pendidikan, tidak semata-mata terpaku pada target capaian pembelajaran di sekolah. Melainkan harus tertuju pada upaya jaminan kesehatan dan keselamatan guru dan peserta didik ditengah pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini. Disisi lain semua pihak harus terus berupaya ikut serta membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona ini dengan cara masing-masing. Ketika pemerintah mengeluarkan himbauan maka masyarakat sudah sepatutnya menyadari bahwa itu merupakan perkara penting untuk dilaksanakan demi keselamatan bersama. Tidak boleh ada sikap acuh tak acuh dari masyarakat ditengah wabah virus yang berbahaya seperti saat ini.
Mari kita jaga diri dan keluarga kita dari bahaya virus corona dengan berdiam dirumah sementara waktu hingga situasi kembali normal, membudayakan hidup bersih, selalu mencuci tangan pakai sabun dan tetap menjaga jarak. Semoga kita semua terlindung dari musibah pandemi covid-19. Aamiin
Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I
> Guru SDN 33 Mataran
Mataram, 29 Mei 2020




