Prof H Agustitin: BERPUASALAH JANGAN HANYA INGIN MEMPEROLEH KEGEMBIRAAN RUH HEWANI , TETAPI BERPUASALAH KARENA INGIN MEMPEROLEH KGEMBIRAAN BERTEMU DENGAN ROBMU

Prof H Agustitin: BERPUASALAH JANGAN HANYA INGIN MEMPEROLEH KEGEMBIRAAN RUH HEWANI , TETAPI BERPUASALAH KARENA INGIN MEMPEROLEH KGEMBIRAAN BERTEMU DENGAN ROBMU

 

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang berpuasa itu akan memperoleh dua kegembiraan. Pertam: “Kegembiraan saat berbuka”— ini adalah kegembiraan untuk ruh hewaninya, —“Kedua: “Dan kegembiraan saat bertemu dengan Rabbnya”—dan ini adalah kegembiraan untuk jiwa rasionalnya (an-nafs an-nāṭiqah), yakni sisi lembut Rabbaninya (al-laṭīfah ar-rabbāniyyah).
“Puasa yang demikian memberinya pertemuan dengan Allah Swt., yakni musyahadah atau penyaksian melalui keyakinan hati, yang dapat mencegahnya jalan hidupnya.”

Berdasarkan hal ini, puasa lebih tamam dan lengkap dibandingkan salat, karena puasa menghasilkan pertemuan dengan Allah dan berbagai penyaksian-Nya melalui implementasi sahamnya..

Salat adalah munajat, bukan musyahadah, dan terdapat hijab yang menyertainya.

“Sesungguhnya Allah swt. berfirman,
“Tidak ada seorang manusia pun yang Allah berbicara dengannya kecuali dalam bentuk wahyu atau dari belakang hijab”
(QS. 42:51).

Allah Swt. menyertai pembicaraan dengan-Nya dengan hijab, dan munajat adalah percakapan serta pembicaraan.

Allah SWT berfirman,
“Aku membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Hamba berkata: Alḥamdulillahirabbil‘alamin’, Allah menjawab: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’.”

Sementara itu, tidak ada pembagian dalam puasa. Ia hanya milik Allah swt. dan bukan milik hamba. Tetapi hamba memperoleh imbalan dan ganjarannya dikarenakan puasa itu sendiri adalah milik Allah swt.

Di sini terdapat sebuah rahasia nan mulia, yakni “musyahadah dan munajat tidak akan pernah bisa bersatu. Musyahadah membuat orang terpana, sementara percakapan memberikan pemahaman.”

Dalam sebuah perbincangan, engkau lebih memperhatikan apa yang sedang dibincangkan, bukan orang yang sedang berbicara, siapa pun atau apa pun itu. Karena itu, pahamilah Alquran niscaya engkau akan memahami Al-furqan.

Tentu yang demikian kita harus belajar, bukan hanya dari pelaksanaan secara syariat, tapi juga belajar dari masalah hati. Ini yang paling berat. Termasuk orang yang mencapai tingkatan takwa, prosesnya tidak hanya ibadah syariat. Dari tahap muslim meningkat menjadi mukmin, kemudian muhsin. Setelah mukhlisin lalu “mutaqqin”

Orang menjadi mukmin tidak hanya cukup dengan syahadat, karena Iman itu diucapkan dengan lisan, hati meyakininya, dan anggota badan merasakan.

Melaksanakan ibadah, tapi harus muhsin. Artinya hal yang baik-baik saja yang dikerjakan, yang tidak baik harusnya ditinggalkan.

Orang yang sudah muhsin, dlm menjalankan kebaikannya bukan karena ingin dipuji .
Apabila melakukan kebaikan hanya ingin di puji saja, ini jelas akan sia-sia belaka karena yg demikian itu tidak menggambarkan derajad keikhlasannya, dan seharusnya semata-mata perbuatan yang dikerjakan hanya untuk mengharap ridla Allah SWT, barulah akan mencapai derajat “mutaqqin.”

Kalau sudah mutaqqin, Allah akan janjikan lima hal seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 2-5. “Wamayyattaqillahi yaj ‘allahu mahrajaa,”

“barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar baginya, artinya akan keluar dari kesulitan.”

Kemudian,
“wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, wa mayyatwakkal ‘alallahi faguwa habuhu.”

” Dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

Berikutnya,
“wa mayyattaqqillaha yaj ‘allahuu min amrihii yusraa.”

” Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”

Balasan lainnya bagi orang bertakwa adalah
“wa mayyattaqillaaha yukaffir ‘anhu sayyi aatihii wa yu’thim lahuu ajraa”

“. Barangsiapa yang  bertakwa kepada Allah, nicscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.”

Untuk bisa mencapai tahap takwa seseorang harus lebih dulu ikhlas. Melakukan ibadah tanpa diketahui atau dipengaruhi orang lain.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA