LAPORAN UTAMA: REAKTUALISASI DAKWAH DAN MERAWAT SANAD ILMU NURUL HIKMAH

LAPORAN UTAMA: REAKTUALISASI DAKWAH DAN MERAWAT SANAD ILMU NURUL HIKMAH

LAPORAN UTAMA: REAKTUALISASI DAKWAH DAN MERAWAT SANAD ILMU NURUL HIKMAH

Narasumber: KH. Ito Mahfudzin, MA (Perawat Perguruan Nurul Hikmah Wilayah Bekasi) Pewawancara: Kru Media SinarLIMA Waktu: Senin, 29 Juni 2026, Bakda Isya Tempat: Kediaman KH. Ito Mahfudzin, Jln. Raya Pekayon No. 38, RT 05/RW 01, Kelurahan Jakasetia, Bekasi Selatan, Kota Bekasi (17147)

BAGIAN I: Kiprah Pengabdian Masyarakat dan Jadwal Dakwah di Bekasi

SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, Pak Kiyai. Terima kasih sudah berkenan menerima kami. Bisa diceritakan, Bapak berdomisili di Kampung Poncol, Jakasetia ini sejak tahun berapa?

KH. Ito Mahfudzin: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Saya di sini sejak tahun 1995. Jadi kalau dihitung sampai sekarang (tahun 2026), Alhamdulillah sudah sekitar 31 tahun.

SinarLIMA: Sudah cukup lama ya, Kiyai. Untuk kegiatan rutin sehari-hari Bapak di lingkungan ini apa saja?

KH. Ito Mahfudzin: Kegiatan rutin utama saya di sini adalah menjadi Imam Besar di Masjidil Ummah. Saya mengawal masjid itu sejak awal berdiri, dari mulai belum ada orang, sampai jamaahnya ramai, pengurusnya banyak, bahkan sampai sempat rebutan pengurus, hahaha. Lokasinya dekat Perumahan Pondok Mitra Lestari, tidak jauh dari sini. Meskipun kalau perumahan itu sudah masuk kelurahan lain (Jatirasa, Jatiasih), tapi jaraknya dekat.

SinarLIMA: Selain menjadi Imam Besar di Masjidil Ummah, apakah Bapak juga mengisi jadwal kajian atau Majelis Taklim di tempat lain?

KH. Ito Mahfudzin: Alhamdulillah, jadwal dakwah keliling ada saja, baik siang maupun malam. Kalau ibu-ibu biasanya bakda Zuhur atau bakda Asar, terutama di hari Sabtu dan Ahad. Beberapa jadwal rutin saya antara lain:

  • Masjid Nurul Ikhsan (Kayuringin): Setiap Sabtu pekan pertama, bakda Magrib sampai Isya.

  • Masjidil Ummah: Setiap Sabtu pekan kedua.

  • Masjid Raudhatul Muhajirin (Radar Mandiri): Setiap Sabtu pekan ketiga.

  • Masjid Bandar Pemda & Yayasan Ar-Rahman: Kajian bakda Subuh sampai Isyraq.

  • Masjid Al-Huda dan beberapa majelis di perumahan sekitar.

  • Majelis Taklim Uswatun Hasanah & Istiqomah: Khusus jamaah ibu-ibu.

“Prinsip saya, kita ini hanya bisa menyampaikan perkara yang hak. Walaupun hanya tahu satu alif istilahnya, tetap harus disampaikan semata-mata karena Allah.”

SinarLIMA: Luar biasa padat ya, Pak Kiyai. Mengenai materinya sendiri, apa saja yang biasanya disampaikan kepada jamaah?

KH. Ito Mahfudzin: Materi tentu menyesuaikan audiens. Contohnya di Kayuringin (Masjid Nurul Ikhsan), kita mengaji fiqih dari kitab Safinatun Najah sampai khatam, lalu disambung dengan Tafsir Al-Qur’an dan kajian sosial. Kalau di Raudhatul Muhajirin, kadang pakai tafsir tematik atau berdasarkan permohonan jamaah. Biasanya setelah kajian ada dialog interaktif, tanya jawab sekitar 3 sampai 5 pertanyaan. Di Pemda bahkan dialognya bisa beruntun sampai jam 7 pagi baru pulang.

BAGIAN II: Tantangan Dakwah Kontemporer dan Karakter Jamaah

SinarLIMA: Bagaimana Bapak melihat antusiasme dan ikatan jamaah saat ini? Apakah ada hal yang perlu dikoreksi?

KH. Ito Mahfudzin: Jamaah itu tergantung kerutinannya. Mereka yang rutin hadir biasanya akan menangkap ilmu dan bisa mengamalkannya. Tapi kalau yang modelnya cuma “ngaji kuping” sambil menyandar di dinding, kadang tidak dapat apa-apa, hanya euforianya saja. Ya, kita apresiasi niat baik mereka mengejar pahala, tapi tugas kita adalah memahamkan Syariat, Muamalah, Mu’asyarah, hingga Hablum minallah dan Hablum minannas.

SinarLIMA: Apa pergeseran terbesar yang Bapak rasakan dalam dunia dakwah akhir-akhir ini?

KH. Ito Mahfudzin: Ada pergeseran waktu dan intensitas. Dulu jadwal saya sangat padat, satu tempat bisa dua sampai tiga kali seminggu, sekarang cukup sekali. Mengapa? Pertama, kondisi ekonomi masyarakat. Kedua, maraknya fenomena yang mengatasnamakan ustadz, tapi realitanya ketika turun ke masyarakat, pemahamannya kurang mumpuni.

Banyak orang saat ini membesarkan urusan dunia yang kecil seolah-olah menjadi besar, sementara kekuasaan Allah yang besar seolah-olah menjadi kecil hanya karena kesibukan duniawi. Mereka membesarkan dunia dan mengecilkan akhirat, padahal kita semua akan menuju ke alam sana.

BAGIAN III: Sejarah, Sanad, dan Peran “Perawat” di Perguruan Nurul Hikmah

[Silsilah Sanad Keilmuan & Tokoh Nurul Hikmah]
├── Pendiri Pusat: Bapak Soleh Abdurrahim
├── Guru Ponpes Darul Hikmah: KH. Kalimi (Jumbleng, Losarang, Indramayu)
├── Guru Ngaji Gintung: Kiai Kusairi (Gintung Pesantren)
└── Perawat Wilayah:
    ├── Gintung Tengah: Bapak Misja Anwar Rusalik
    └── Wilayah Bekasi: KH. Ito Mahfudzin, MA

SinarLIMA: Menarik sekali, Kiyai. Saya dengar Bapak juga sangat aktif di Perguruan Nurul Hikmah. Bisa diceritakan sejarah singkat keterlibatan Bapak di sana?

KH. Ito Mahfudzin: Dulu kami digembleng di Pondok Pesantren Darul Hikmah yang ada di Jumbleng, Losarang, Indramayu. Sanad keilmuan kami dari mulai pembaiatan oleh Bapak Soleh Abdurrahim, KH. Kalimi, dan para sesepuh di sana untuk mengembangkan Ilmu Nurul Hikmah. Setelah lulus sekolah, kami dibekali Ilmu Nurul Hikmah dan diutus oleh Kiyai untuk mengembangkannya ke luar.

Saya merantau ke wilayah Bekasi. Awalnya, saya bahkan pernah menjadi sopir taksi. Ujiannya luar biasa; setiap masuk waktu shalat saya harus mampir ke masjid. Kadang saat mau shalat ada penumpang minta ke Jakarta. Saya batin, “Kalau memang rezeki saya, dia pasti mau menunggu.” Dan Alhamdulillah, penumpang itu mau menunggu saya shalat.

SinarLIMA: Bagaimana perkembangan Perguruan Nurul Hikmah saat mendampingi guru-guru terdahulu?

KH. Ito Mahfudzin: Waktu itu bersama Bapak Soleh Abdurrahim, sebelum beliau diangkat jadi Perawat, saya mendampingi beliau keliling ke guru-guru hikmah di Jakarta, Depok, Tangerang, sampai ke Pekalongan. Kami jalan tidak bawa apa-apa, cuma baju di badan. Kami ikuti saja perkembangannya, termasuk basis besar di Pademangan 5, Jakarta Utara. Kami hanya santri yang patuh (nurut). Setelah proses panjang itu selesai, barulah saya diangkat menjadi Perawat.

SinarLIMA: Sebenarnya apa fungsi dan wewenang dari jabatan “Perawat” di Perguruan Nurul Hikmah? Apa bedanya dengan istilah “Mursyid”?

KH. Ito Mahfudzin:

  • Fungsi Perawat: Tugas utamanya adalah melakukan pembaiatan (talqin ilmu) dan merawat kerohanian serta keilmuan hikmah jamaah, sekaligus mengaitkannya dengan implementasi sosial agar seimbang antara dunia dan akhirat. Saat terjadi kemudaratan atau situasi darurat, Ilmu Hikmah inilah yang dipergunakan.

  • Perbedaan Perawat vs Mursyid: Istilah Mursyid (atau yang mentalkin kalimat La ilaha illallah) biasanya digunakan dalam ilmu Tarekat. Sedangkan dalam Ilmu Hikmah, istilahnya adalah Perawat dan Wakil Perawat. Wakil Perawat belum memiliki kewenangan untuk membaiat atau “menggoreng” keilmuan, mereka baru sebatas menyampaikan teori. Otoritas pengangkatan Perawat harus datang langsung dari Pimpinan Pusat.

SinarLIMA: Apakah jabatan Perawat ini ada masa berlakunya atau batasan periodenya?

KH. Ito Mahfudzin: Secara aturan perguruan, tidak ada batas waktu. Jabatan ini berlaku seterusnya sepanjang yang bersangkutan tetap Istiqomah, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, menjaga agama di tengah masyarakat, dan tidak menyimpang dari kriteria agama itu sendiri.

SinarLIMA: Di mana titik tekan utama dari ajaran Nurul Hikmah ini?

KH. Ito Mahfudzin: Titik tekannya adalah Pemurnian Tauhid. Manusia punya kecenderungan bergantung pada dunia. Nah, tugas Nurul Hikmah adalah mengalihkan ketergantungan itu agar mereka cinta kepada Pencipta dunia (Allah SWT), bukan mencintai dunianya semata. Jangan sampai terlena.

BAGIAN IV: Kondisi Terkini dan Strategi Membangkitkan Nurul Hikmah

SinarLIMA: Bagaimana Bapak melihat kondisi Perguruan Nurul Hikmah saat ini? Tampaknya perkembangannya agak meredup jika dibandingkan dulu.

KH. Ito Mahfudzin: Ya, kenyataannya sekarang kurang begitu eksis. Pertama, karena faktor qodarullah, tokoh-tokoh tua dan perawat senior kita sudah banyak yang meninggal dunia, seperti yang di wilayah Bekasi ini. Kedua, setelah wafatnya pendiri utama kita, Bapak Soleh Abdurrahim, kita kehilangan figur sentral yang bisa menyatukan seluruh wilayah. Dulu, setiap bulan Muharram, beliau menginstruksikan semua wilayah dari Jakarta sampai Sumatera untuk berkumpul di Muara Gembong untuk silaturahim dan evaluasi perkembangan. Sekarang koordinasi itu renggang, dan ada kecenderungan beberapa orang merasa sudah serba bisa lalu menjadi “raja kecil” di wilayahnya sendiri tanpa mau menggali keilmuan lebih luas.

SinarLIMA: Apakah Perguruan Nurul Hikmah ini memiliki legalitas hukum yang resmi?

KH. Ito Mahfudzin: Secara legalitas formal dan landasan hukum di badan negara itu sudah ada. Bahkan di Bekasi Timur, kita memiliki aset riil berupa lembaga pendidikan seperti TK Nurul Ikhwan. Potensinya ada, hanya saja pergerakannya saat ini berjalan sendiri-sendiri.

SinarLIMA: Kira-kira apa gagasan atau ide dari Pak Kiyai untuk menghidupkan kembali ruh Perguruan Nurul Hikmah agar diminati oleh generasi muda?

KH. Ito Mahfudzin:

  1. Mulai dari Diri Sendiri & Reaktivasi Silaturahim: Kita harus sering berkumpul, saling share perkembangan dakwah antarwilayah, dan menyambung kembali simpul-simpul yang putus.

  2. Sinergi Lintas Sektor: Yang berdakwah teruskan dakwahnya, yang menulis teruskan menulis, yang mengelola sekolah fokus di program pendidikan. Semua potensi ini harus menyatu membentuk lingkaran (circle) yang solid dan saling bersinergi.

  3. Pendekatan Seni Peragaan untuk Anak Muda: Generasi muda sekarang suka dengan aspek visual atau fisik. Peragaan Ilmu Nurul Hikmah atau olahraga pernafasan bisa menjadi “bonus tambahan” atau daya tarik awal bagi mereka untuk masuk mempelajari Islam sampai level Hakikat, Ma’rifat, dan Hikmah.

  4. Memperkuat Pondasi Internal: Ilmu Nurul Hikmah tidak cukup diamalkan secara individu. Pondasi tauhid harus kuat, muamalah dan muasyarohnya juga harus kokoh. Jangan sampai batinnya kosong dan kering.

BAGIAN V: Pesan Penutup dan Respon Terhadap Karya Sastra Keagamaan

SinarLIMA: Sebagai penutup, apa pesan khusus Pak Kiyai untuk seluruh Ikhwan Perguruan Nurul Hikmah yang masih setia hingga saat ini?

KH. Ito Mahfudzin: Pesan saya: Jangan jauh-jauh dari guru, ustadz, atau ulama yang mumpuni. Jaga mereka, karena ulama makin lama makin habis. Kalau tidak dekat dengan sumbernya, ilmu itu tidak akan menyebar. Ibarat sahabat Abu Hurairah yang selalu dekat dengan Rasulullah sehingga bisa menjadi rujukan hadits. Jika ingin memperdalam wawasan keilmuan, baik ilmu dasar, menengah, ilmu batin, hingga ilmu hikmah, bertanyalah kepada guru yang amanah. Jangan stagnan dan merasa cukup. Tetaplah istiqomah mengamalkan, mengembangkan, dan mendakwahkan ajaran ini.

SinarLIMA: Kebetulan dalam silaturahim ini, saya menyerahkan dua buah buku karya saya (Tafsir Pendekatan Syair Juz 1 dan 35 Khutbah Jum’at Populer di Media Jilid 1). Bagaimana pandangan Pak Kiyai mengenai pendekatan dakwah lewat media buku dan syair seperti ini?

KH. Ito Mahfudzin: Alhamdulillah, saya sangat bersyukur menerima dua buku ini. Ini adalah bagian dari implementasi ilmu Allah. Mengemas tafsir Al-Qur’an atau khotbah Jumat ke dalam pendekatan syair dan hikmah kontemporer membuat pesannya menjadi mudah dicerna oleh masyarakat kekinian. Orang zaman sekarang tidak mau ambil pusing; dengan membaca untaian hikmah yang praktis, mereka bisa langsung paham, tergerak merubah diri, dan mengamalkannya.

Ini adalah anugerah besar dan bentuk sinergi dakwah yang nyata. Untuk dinda, teruslah konsisten menulis. Semoga karya-karya ini membawa berkah, dinda diberikan kesehatan, panjang umur, dan semua pergerakan dakwah kita mendapat ridho serta kemuliaan dari Allah SWT. Kita semua bergerak di bidang masing-masing, namun harus tetap saling bersinergi.

SinarLIMA: Amin ya Rabbal Alamin. Terima kasih banyak atas waktu dan wejangannya yang sangat mencerahkan, Pak Kiyai. Sukses dan sehat selalu. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

KH. Ito Mahfudzin: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA