KHOTBAH PERTAMA
An-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkatalah dalam khotbahnya:
Jemaah Kaum Muslimin yang Berbahagia, Rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada siang hari yang penuh dengan rahmat dan keberkahan ini. Akhirnya kita kembali dapat bersua, berkumpul di masjid yang mulia ini dalam rangka melaksanakan ibadah salat Jumat yang merupakan fardhu ‘ain bagi kita semua. Ibadah yang senantiasa kita laksanakan ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerimanya sebagai amal terbaik yang berlipat ganda pahalanya di akhirat nanti, serta mendapatkan rida-Nya.
Shalawat dan salam tak lupa kita sampaikan kepada yang mulia Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau yang telah membimbing umat manusia dari jalan yang penuh dengan kebodohan dan gelap gulita, menuju jalan yang terang benderang, yaitu jalan keislaman yang suci.
Sebelum khatib melanjutkan materi khotbah pada kesempatan ini, khatib mengajak dan berwasiat kepada kita semuanya untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan istiqomah melaksanakan semua perintah-Nya dan Istiqomah menjauhi segala larangan-Nya.
Jemaah yang Dirahmati Allah,
Saat ini kita masih berada dalam suasana Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Ini merupakan nikmat yang sangat besar yang patut dan wajib kita syukuri. Mengapa? Karena rupa-rupanya tidak semua saudara-saudara kita, sahabat kita, atau keluarga kita telah sampai usianya di tahun baru saat ini. Sementara kita, alhamdulillah, masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memasuki tahun baru Islam tahun ini.
Harapan dan doa kita, semoga tahun baru Islam yang kita lewati satu tahun ke depan benar-benar menjadi tahun yang penuh dengan perubahan, penuh dengan peningkatan, dan penuh dengan perbaikan menuju kualitas diri yang benar-benar terbaik—baik di hadapan manusia, dan lebih-lebih di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya, tahun baru Islam ini adalah momentum emas bagi kita untuk melakukan berbagai macam upaya memperbaiki segala kekurangan yang selama ini mungkin masih melekat dalam diri kita di tahun kemarin, yaitu tahun 1447 Hijriah. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kasih sayang-Nya senantiasa memberikan peluang dan kesempatan kepada semua umat manusia untuk memperbaiki kekurangan dan kelalaian selama hidup di dunia. Perbaikan itu ada yang bersifat harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Setiap hari, setiap saat, kita mesti melakukan evaluasi diri (muhasabah), karena yang namanya manusia pasti tidak luput dari kelemahan dan kekurangan.
Oleh karena itu, adanya perubahan dan pergantian waktu seperti tahun baru ini merupakan momentum yang paling tepat. Percuma tahunnya baru kalau watak dan kepribadian kita masih seperti yang dulu, bahkan lebih buruk keadaannya! Kita sesungguhnya termasuk orang-orang yang rugi jika demikian. Karena inti hidup ini adalah hijrah. Hijrah dalam makna kita merubah karakter kepribadian, sifat, dan watak kita.
-
Yang tadinya kita malas-malasan, kita perbaiki menjadi insan yang rajin, tekun, dan tidak suka menunda-nunda tugas serta kewajiban yang diamanahkan kepada kita.
-
Yang tadinya kita suka pamer, sombong, dan mau menang sendiri, maka di tahun baru ini mari kita perbarui semua itu.
Jangan sampai kita suka memamerkan kelebihan atau barang-barang yang kita miliki. Jangan sampai kita menyombongkan diri terhadap karunia yang Allah berikan—baik berupa kepintaran, jabatan, harta, dan lain sebagainya. Ingatlah, semua itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sombong ini, jangankan terlihat dari tampilan hidup kita, jangankan terucap dari mulut kita, ada sedikit saja kesombongan di dalam hati, itu akan menjadi batu sandungan bagi kita untuk masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (Hadis Riwayat Muslim).
Jemaah Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Ketahuilah bahwa di dalam diri kita ini ada dua kekuatan yang terus saling tarik-menarik, saling mendahului, dan bersaing. Yaitu kekuatan iman dan kekuatan setan.
Sekiranya dalam diri kita ada bisikan yang mengarah agar kita selalu berbuat baik, taat beribadah kepada Allah, dan menunjukkan akhlak-akhlak yang mulia, maka yakinlah itu adalah tarikan dari iman kita yang Allah hembuskan dalam jiwa kita. Namun, bilamana ada bisikan-bisikan yang mengarah kepada perbuatan buruk, ingin melakukan kezaliman, dan ingin melakukan hal-hal yang tidak halal, maka yakinlah itu adalah bisikan setan yang ada dalam jiwa kita.
Maka beruntunglah bagi mereka yang suci jiwanya karena didorong atas dasar iman yang kuat, dan merugilah orang yang mengikuti kesesatan akibat kotornya jiwa. Jiwa yang kotor disebabkan oleh banyaknya tumpukan dosa, sehingga menyebabkan setan begitu mudah untuk mengendalikan hidup kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syams ayat 9-10:
Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10).
Setan dan iblis akan senantiasa menggoda dan merayu kita setiap waktu, setiap saat, agar kita tidak melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Melalui momentum tahun baru Islam ini, umat Islam harus sadar bahwa hidup kita adalah untuk memperbaiki diri dan betul-betul beribadah dengan tekun.
Jangan sampai perubahan yang kita lakukan sia-sia. Percuma kita mengaku sudah berubah secara sosial, tetapi jika kita tidak beribadah, tidak mau bersujud kepada Allah, maka semua itu sama artinya dengan orang yang kehilangan keseimbangan. Seperti seekor burung yang sayapnya patah sebelah, sedangkan yang satu masih ada; ia tidak akan pernah bisa terbang ke mana pun yang diinginkannya. Kesalehan karakter harus berbanding lurus dengan kesalehan ibadah kita kepada Allah.
Jemaah Kaum Muslimin yang Berbahagia Rahimakumullah,
Tidak ada kata terlambat untuk menyongsong tahun baru Islam 1448 Hijriah saat ini. Mari kita awali dengan niat yang suci, tekad yang kuat, dan bulat untuk senantiasa memperbaiki segala bentuk kekurangan kita. Janganlah hawa nafsu yang kita dahulukan dan kita utamakan dalam diri kita. Hawa nafsu tidak akan pernah membuat kita sadar; ia justru menjadi kendaraan setan dan iblis untuk mengganggu aktivitas ibadah dan menjauhkan kedekatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mari kita tundukkan hawa nafsu kita! Ajaklah hawa nafsu ini untuk bersujud, memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Laksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya, berzikirlah sebanyak-banyaknya, bacalah Al-Qur’an, dan laksanakan ibadah puasa, seperti puasa-puasa sunah. Dengan cara itulah hawa nafsu kita akan tunduk dan terbelenggu, sehingga tidak mau lagi mengikuti apa kata setan dan iblis.
Ingatlah, setan dan iblis itu pasti akan menyesatkan umat manusia hingga hari kiamat. Mereka memiliki dendam yang sangat besar sejak kakek kita, Nabi Adam ‘Alaihis Salam, diciptakan, dan mereka tidak akan pernah mau bertobat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan dendam kesumat iblis ini dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 16-17:
Artinya: “(Iblis) menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur’.” (QS. Al-A’raf: 16-17).
Melihat besarnya ancaman musuh yang nyata ini, masihkah kita mau bermalas-malasan dalam berbenah diri di tahun yang baru ini? Akhirnya inilah khotbah Jumat yang bisa khotib sampaikan dalam rangka kita mengisi tahun baru Islam 1448 Hijjriyah dengan berbagai macam kebaikan dan ibadah yang disyariatkan. Semoga tahun baru ini dapat mengarahkan hidup kita untuk lebih teratur, lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab menuju hidup yang lebih baik. Aamiin yaa rabbal aalamiin.



