Tafsir Pendekatan Syair Al Baqarah 120, Mereka Takkan Rela

Tafsir Pendekatan Syair Al Baqarah 120, Mereka Takkan Rela

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi dan juga berinteraksi dengan kaum Nasrani dari luar Madinah. Sebagian mereka berharap Nabi mengikuti arah kiblat dan ajaran mereka, atau setidaknya mencampurkan kebenaran Islam dengan tradisi mereka.

Maka Allah menurunkan firman-Nya dalam Al-Baqarah ayat 120 sebagai penegasan:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka…”

Ayat ini bukan sekadar informasi sosial, melainkan penguat hati Rasulullah ﷺ agar tidak goyah oleh tekanan, diplomasi, atau harapan penerimaan. Kebenaran tidak diukur dari kerelaan manusia, tetapi dari wahyu Allah. Inilah pelajaran abadi bagi umat Islam agar menjaga kemurnian akidah di tengah tuntutan zaman.


Syair Irama Sholawat Badar

(Menyesuaikan alur dan ketukan Sholawat Badar)


Bait 1

Yahudi Nasrani takkan ridha

Sampai kau ikut agama mereka

Walau kau bawa nur yang nyata

Tetap ditolak bila tak sama

Penjelasan Bait 1:

Baris pertama menegaskan kepastian yang Allah sampaikan — bukan kemungkinan, tetapi kenyataan yang akan terus ada sepanjang zaman. Kerelaan sebagian manusia sering bersyarat: harus mengikuti cara, keyakinan, dan arah hidup mereka.

Baris kedua menggambarkan tekanan halus maupun terang-terangan agar Nabi menyesuaikan diri dengan agama mereka, seakan kebenaran harus tunduk pada penerimaan sosial.

Baris ketiga menunjukkan bahwa meskipun Rasul membawa cahaya wahyu yang jelas, cahaya itu tidak otomatis diterima oleh hati yang telah tertutup kepentingan dan fanatisme.

Baris keempat menyentuh kenyataan pahit: penolakan bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena perbedaan prinsip yang tak ingin mereka lepaskan.


Bait 2

Katakan hidayah milik Ilahi

Bukan ditimbang restu insani

Petunjuk lurus cahaya suci

Menuntun jiwa menuju hakiki

Penjelasan Bait 2:

Baris pertama adalah perintah langsung dari Allah agar Nabi menegaskan sumber kebenaran sejati hanyalah dari-Nya. Ini membangun keberanian spiritual untuk berdiri tegak.

Baris kedua mengajarkan bahwa standar benar dan salah tidak diukur dari tepuk tangan atau penolakan manusia, karena manusia berubah-ubah sesuai kepentingannya.

Baris ketiga menggambarkan hidayah sebagai cahaya yang murni, tidak tercampur kepentingan dunia atau ambisi kelompok.

Baris keempat menegaskan bahwa hidayah itu membimbing manusia menuju kebenaran yang sejati — bukan sekadar damai semu yang rapuh.


Bait 3

Bila kau turuti hawa mereka

Sesudah datang ilmu sempurna

Tiada pelindung tiada pembela

Selain Allah Yang Maha Kuasa

Penjelasan Bait 3:

Baris pertama adalah peringatan keras: mengikuti keinginan mereka setelah mengetahui kebenaran berarti menyimpang secara sadar.

Baris kedua menekankan bahwa wahyu telah datang dengan jelas, sehingga tidak ada alasan kebingungan atau ketidaktahuan.

Baris ketiga menggambarkan kehilangan terbesar seorang hamba: terlepas dari penjagaan Allah karena memilih jalan yang salah.

Baris keempat mengingatkan bahwa hanya Allah tempat bergantung; jika perlindungan-Nya hilang, tiada kekuatan lain yang mampu menyelamatkan.


Bait 4

Ilmu wahyu lentera hati

Menepis ragu mengusir sepi

Jangan tergoda janji duniawi

Yang sesaat namun melukai abadi

Penjelasan Bait 4:

Baris pertama melukiskan wahyu sebagai lentera yang menyala di tengah kegelapan zaman dan kebimbangan manusia.

Baris kedua menggambarkan bagaimana cahaya ilmu mengusir keraguan, memberi ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dunia.

Baris ketiga adalah nasihat lembut agar tidak tergoda kompromi demi keuntungan sementara.

Baris keempat mengingatkan bahwa kesenangan dunia yang singkat bisa berujung penyesalan panjang di akhirat.


Bait 5

Teguhkan iman dalam dada

Walau badai datang melanda

Ridha Allah tujuan utama

Surga menanti hamba setia

Penjelasan Bait 5:

Baris pertama mengajak setiap mukmin menanamkan iman sedalam mungkin agar tidak mudah goyah oleh tekanan zaman.

Baris kedua mengakui bahwa ujian pasti datang, baik berupa ejekan, penolakan, maupun godaan kompromi.

Baris ketiga menegaskan orientasi hidup seorang mukmin: bukan mencari penerimaan manusia, melainkan keridhaan Allah.

Baris keempat menutup dengan harapan dan kelembutan — bahwa kesetiaan pada kebenaran akan berbuah kebahagiaan abadi di surga.

 

 
 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA