Tafsir Pendekatan Syair Al Baqarah 120, Mereka Takkan Rela
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
📌 Arti per ayat
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, maka tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.”
📖 Arti per kata
| Kata Arab | Arti |
|---|---|
| وَلَنْ | Dan tidak akan |
| تَرْضَىٰ | rela |
| عَنْكَ | kepadamu |
| الْيَهُودُ | orang-orang Yahudi |
| وَلَا | dan tidak |
| النَّصَارَىٰ | orang-orang Nasrani |
| حَتَّىٰ | hingga / sampai |
| تَتَّبِعَ | kamu mengikuti |
| مِلَّتَهُمْ | agama/jalan mereka |
| قُلْ | katakanlah |
| إِنَّ | sesungguhnya |
| هُدَى | petunjuk |
| اللَّهِ | Allah |
| هُوَ | Dia / itulah |
| الْهُدَىٰ | petunjuk (yang benar) |
| وَلَئِنِ | dan sungguh jika |
| اتَّبَعْتَ | kamu mengikuti |
| أَهْوَاءَهُمْ | keinginan-keinginan mereka |
| بَعْدَ | setelah |
| الَّذِي | yang |
| جَاءَكَ | datang kepadamu |
| مِنَ | dari |
| الْعِلْمِ | ilmu |
| مَا | tidak |
| لَكَ | bagimu |
| مِنَ اللَّهِ | dari Allah |
| مِنْ | sedikit pun / dari |
| وَلِيٍّ | pelindung |
| وَلَا | dan tidak |
| نَصِيرٍ | penolong |
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi dan juga berinteraksi dengan kaum Nasrani dari luar Madinah. Sebagian mereka berharap Nabi mengikuti arah kiblat dan ajaran mereka, atau setidaknya mencampurkan kebenaran Islam dengan tradisi mereka.
Maka Allah menurunkan firman-Nya dalam Al-Baqarah ayat 120 sebagai penegasan:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka…”
Ayat ini bukan sekadar informasi sosial, melainkan penguat hati Rasulullah ﷺ agar tidak goyah oleh tekanan, diplomasi, atau harapan penerimaan. Kebenaran tidak diukur dari kerelaan manusia, tetapi dari wahyu Allah. Inilah pelajaran abadi bagi umat Islam agar menjaga kemurnian akidah di tengah tuntutan zaman.
Syair Irama Sholawat Badar
(Menyesuaikan alur dan ketukan Sholawat Badar)
Bait 1
Yahudi Nasrani takkan ridha
Sampai kau ikut agama mereka
Walau kau bawa nur yang nyata
Tetap ditolak bila tak sama
Penjelasan Bait 1:
Baris pertama menegaskan kepastian yang Allah sampaikan — bukan kemungkinan, tetapi kenyataan yang akan terus ada sepanjang zaman. Kerelaan sebagian manusia sering bersyarat: harus mengikuti cara, keyakinan, dan arah hidup mereka.
Baris kedua menggambarkan tekanan halus maupun terang-terangan agar Nabi menyesuaikan diri dengan agama mereka, seakan kebenaran harus tunduk pada penerimaan sosial.
Baris ketiga menunjukkan bahwa meskipun Rasul membawa cahaya wahyu yang jelas, cahaya itu tidak otomatis diterima oleh hati yang telah tertutup kepentingan dan fanatisme.
Baris keempat menyentuh kenyataan pahit: penolakan bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena perbedaan prinsip yang tak ingin mereka lepaskan.
Bait 2
Katakan hidayah milik Ilahi
Bukan ditimbang restu insani
Petunjuk lurus cahaya suci
Menuntun jiwa menuju hakiki
Penjelasan Bait 2:
Baris pertama adalah perintah langsung dari Allah agar Nabi menegaskan sumber kebenaran sejati hanyalah dari-Nya. Ini membangun keberanian spiritual untuk berdiri tegak.
Baris kedua mengajarkan bahwa standar benar dan salah tidak diukur dari tepuk tangan atau penolakan manusia, karena manusia berubah-ubah sesuai kepentingannya.
Baris ketiga menggambarkan hidayah sebagai cahaya yang murni, tidak tercampur kepentingan dunia atau ambisi kelompok.
Baris keempat menegaskan bahwa hidayah itu membimbing manusia menuju kebenaran yang sejati — bukan sekadar damai semu yang rapuh.
Bait 3
Bila kau turuti hawa mereka
Sesudah datang ilmu sempurna
Tiada pelindung tiada pembela
Selain Allah Yang Maha Kuasa
Penjelasan Bait 3:
Baris pertama adalah peringatan keras: mengikuti keinginan mereka setelah mengetahui kebenaran berarti menyimpang secara sadar.
Baris kedua menekankan bahwa wahyu telah datang dengan jelas, sehingga tidak ada alasan kebingungan atau ketidaktahuan.
Baris ketiga menggambarkan kehilangan terbesar seorang hamba: terlepas dari penjagaan Allah karena memilih jalan yang salah.
Baris keempat mengingatkan bahwa hanya Allah tempat bergantung; jika perlindungan-Nya hilang, tiada kekuatan lain yang mampu menyelamatkan.
Bait 4
Ilmu wahyu lentera hati
Menepis ragu mengusir sepi
Jangan tergoda janji duniawi
Yang sesaat namun melukai abadi
Penjelasan Bait 4:
Baris pertama melukiskan wahyu sebagai lentera yang menyala di tengah kegelapan zaman dan kebimbangan manusia.
Baris kedua menggambarkan bagaimana cahaya ilmu mengusir keraguan, memberi ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dunia.
Baris ketiga adalah nasihat lembut agar tidak tergoda kompromi demi keuntungan sementara.
Baris keempat mengingatkan bahwa kesenangan dunia yang singkat bisa berujung penyesalan panjang di akhirat.
Bait 5
Teguhkan iman dalam dada
Walau badai datang melanda
Ridha Allah tujuan utama
Surga menanti hamba setia
Penjelasan Bait 5:
Baris pertama mengajak setiap mukmin menanamkan iman sedalam mungkin agar tidak mudah goyah oleh tekanan zaman.
Baris kedua mengakui bahwa ujian pasti datang, baik berupa ejekan, penolakan, maupun godaan kompromi.
Baris ketiga menegaskan orientasi hidup seorang mukmin: bukan mencari penerimaan manusia, melainkan keridhaan Allah.
Baris keempat menutup dengan harapan dan kelembutan — bahwa kesetiaan pada kebenaran akan berbuah kebahagiaan abadi di surga.


