Mendewasa Bareng Himmah sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga Himmawan-himmawati, Kalimat ini hampir-hampir menjadi sebuah semboyan.
Tapi bagaimana jika saya tambahkan dua kata dibelakangnya menjadi _Mendewasa Bareng HİMMAH, Menua Bersamamu_ sekilas terdengar seperti Gombalan semata, ya memang kalimat ini sering digunakan untuk meng-gombal, namun perlu diperjuangkan menjadi sebuah Realita.
Mendewasa Bareng HIMMAH, yang saya fokuskan dalam pikiran saya pertama kali adalah kata ‘Dewasa’ yang bermakna Kematangan dalam Berpikir dan Bertindak. Tentu setiap individu manusia berhak mendefiniskan kata Dewasa termasuk saya. Dewasa tidak selalu tentang Usia Baik Muda ataupun Tua, sekali lagi saya tekankan Dewasa tidak diukur dari Usia seseorang melainkan Kematangan cara berpikir dan bertindak.
Saya pernah membaca Tulisan Berjudul “we mature with damage not years” (kita dewasa karena Kehancuran bukan karena Usia) tulisan berbahasa inggris yang saya coba terjemahkan dengan keterbatasan Vocab yang saya kuasai, dalam paragraf pertamanya mengatakan _There’s truth in the adage “no pain no gain,” only by being damaged will we discover our true self._ yang artinya (ada benarnya pepatah yang mengatakan Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian hanya dengan menjadi hancur kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya) Kata Hancur memiliki banyak makna karena Hancur versi Masing-masing orang itu berbeda-beda, dan Hancur versi HIMMAH adalah diterpanya seseorang dengan Ujian-ujian yang mendewasakannya.
Tidak ada Organisasi didunia ini yang menjanjikan Ketentraman seumur Hidup, yang ada justru Semakin ber-organisasi semakin banyak Masalah, semakin mengeluarkan kita dari Zona Nyaman, sama halnya dengan HIMMAH, ada banyak sekali tantangan-tantangan ketika memilih Hidup di organisasi ini. Karena sejatinya ber-organisasi adalah mengasah Mental kita dalam Menghadapi Masalah-masalah di masa depan, Ber-organisasi menunjukan bahwa kita bukan Student-Oriented yang hanya Terpaku pada Bangku Kuliah dan Fokus mengejar IPK saja, Ber-organisasi menunjukan bahwa kita memiliki Nilai Lebih dari Mahasiswa lainnya, ya Masalahnya juga lebih dari Masalah Mahasiswa yang lainnya. Lebihnya lagi Ber-organisasi membuat kita memiliki pengalaman Hidup lebih banyak dari Mahasiswa yang tidak ber-organisasi dan tak kalah pentingnya Kita memiliki banyak sekali Net-Working.
Di HIMMAH kita diterpa oleh banyak sekali ujian baik ujian dari Luar Organisasi maupun dari dalam organisasi itu sendiri, tapi saya tidak akan mungkin memaparkan ujian apa saja, melainkan Yang ber-Himmah pasti tau ujian apa yang dihadapi ketika telah Ber-Himmah.
Namun ujian-ujian itulah yang telah berhasil mencetak generasi-generasi Emas, Pemuda-pemuda Mandiri dan Ber-intelektual.
Ujian-ujian itulah yang telah melahirkan Kalimat ‘Mendewasa bareng HIMMAH’ karena tanpa Masuk di-HIMMAH mungkin kita tidak akan pernah menjadi Dewasa (Asumsi sebagian Orang)
Setelah Mendewasa Bareng HIMMAH, Menua Bersamamu adalah sebuah impian, dan mimpi ini sudah Banyak diwujudkan oleh beberapa Senior yang Menikah dengan sesama Kader HIMMAH.
Tentu terlihat sangat menarik ketika hidup bersama dalam Ikatan pernikahan bersama dengan Teman Seperjuangan.
Pasangan yang ber-HIMMAH adalah pasangan yang Ideal di mata saya dan dimata sebagian orang yang lain, bagaimana tidak, Jiwa pejuang mereka sudah tertanam dari sejak Ia masuk di HIMMAH, Mereka sudah sering Diamanahkan tanggung Jawab dari sejak ia ber-HIMMAH dan sudah memiliki Jiwa kepemimpinan dari sejak ia masih Muda.
Dari HIMMAH mereka selalu Siap ditempatkan dimanapun untuk Berjuang Menyebarkan Panji-panji Nahdlatul Wathan, tak membedakan dia adalah Anak Emas Atau Anak Besi Karatan tetap saja ia akan merasakan Asinnya Garam dan Manisnya Gula Perjuangan di HIMMAH.
Mendewasa bareng Himmah, Menua Bersamamu terdengar seperti Masa Depan yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak, setelah Berjuang di Organisasi lalu dilanjutkan Berjuang dalam Rumah Tangga, membentuk sebuah Visi dan Misi layaknya sedang menjalani kehidupan ber-HIMMAH, menjalani Dinamika Kehidupan Berumah Tangga layaknya sedang menjalani dinamika dalam Ber-HIMMAH dan tentu menyikapinya juga sama seperti halnya menyikapi permasalah-permasalahan dalam ber-HIMMAH.
Hidup Menua Bersama menjadi Penyambung Lidah Guru Besar kita Maulanasyeikh, lebih-lebih bisa melanjutkan Estafet Perjuangan Nahdlatul Wathan dan Melebarkan Sayap Nahdlatul Wathan.
Oh Betapa Sempurnanya Ke-HIMMAH-an kita.
Manua Bersama adalah Tatapan Masa depan yang ingin Saya Perjuangkan menjadi sebuah Kenyataan dan Ada banyak orang yang ingin memperjuangkan hal yang serupa.
Namun semua itu tak Lepas dari Takdir yang telah digariskan Tuhan pada masing-masing Kita, namun jika Takdir itu bisa diperjuangkan tentu Menua Bersamamu adalah hal yang harus Saya perjuangkan.




