Sinar5news.com – Jakarta – Gelombang kepanikan melanda Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat (AS) pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Peristiwa mengejutkan tersebut langsung memicu kekhawatiran luas di kalangan warga akan kemungkinan invasi lanjutan, bentrokan bersenjata, hingga kekacauan sosial.
Di ibu kota Caracas dan sejumlah kota besar lainnya, suasana berubah drastis. Jalan-jalan utama yang biasanya padat mendadak lengang. Warga memilih mengurung diri di dalam rumah, enggan keluar di tengah kehadiran pasukan keamanan bersenjata lengkap yang siaga di berbagai sudut kota.
Di tengah ketegangan itu, warga yang nekat keluar rumah hanya memiliki satu tujuan utama: menimbun persediaan kebutuhan pokok. Supermarket dan apotek dipadati antrean panjang. Rak-rak makanan, air minum, obat-obatan, hingga kebutuhan rumah tangga diserbu pembeli yang khawatir pasokan akan terputus jika situasi memburuk.
“Orang-orang keluar hanya untuk membeli apa yang mereka butuhkan jika terjadi bentrokan atau penjarahan,” tulis CNN dalam laporannya. Meski jalanan tampak sepi, pusat perbelanjaan justru dipenuhi warga yang berbelanja dengan wajah tegang dan tergesa.
Hingga saat ini, belum ada laporan kerusuhan besar akibat aksi saling berebut barang. Warga Venezuela disebut telah terbiasa menghadapi krisis politik dan ekonomi berkepanjangan, sehingga refleks menimbun kebutuhan pokok menjadi respons yang dianggap wajar setiap kali negara berada di ambang ketidakpastian.
Seorang jurnalis yang berada di Caracas menggambarkan situasi kota bak mati suri. “Anda tidak bisa mendengar apa pun di jalanan selain kicauan burung,” ujarnya, menggambarkan sunyi yang mencekam.
Situasi serupa juga terjadi di Maracaibo, pusat industri minyak Venezuela. Reuters melaporkan antrean panjang terlihat di toko bahan makanan dan lokasi pengisian bahan bakar. Namun banyak SPBU terpaksa tutup, menambah kecemasan warga.
“Saya keluar untuk memeriksa bisnis saya karena takut terjadi penjarahan, tetapi jalanan benar-benar sepi,” kata Jairo Chacin (39), pemilik bengkel di Maracaibo. Ia mengaku gagal mengisi bensin karena SPBU tutup, lalu memilih membeli makanan sebagai langkah antisipasi. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi,” katanya.
Ketakutan juga dirasakan warga biasa. Alejandra Palencia (35), seorang psikolog di kota Maracay, menggambarkan suasana yang penuh kecemasan. “Rasanya seperti kota yang ditinggalkan. Orang-orang terkurung di dalam rumah. Ada rasa takut dan ketidakpastian yang sangat kuat,” ujarnya.
Penangkapan Maduro tidak hanya mengguncang panggung politik Venezuela, tetapi juga menghidupkan kembali trauma lama masyarakat yang telah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang krisis. Kini, negeri itu kembali berada di persimpangan, dengan rakyatnya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.


