Upacara Bendera Hari Senin: Pantang Menyerah Meraih Cita-cita

Upacara Bendera Hari Senin: Pantang Menyerah Meraih Cita-cita

JAKARTA, 10 Agustus 2026 — Semangat untuk terus belajar, disiplin, dan pantang menyerah menjadi pesan utama dalam amanat pembina upacara pada Senin, 10 Agustus 2026, di lapangan madrasah Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta. Bertindak sebagai pembina upacara, Ust. Bayu Sugara, M.Pd., menyampaikan motivasi kepada seluruh peserta didik agar tidak pernah meremehkan kemampuan diri sendiri dan terus berjuang meraih cita-cita.

Dalam amanatnya, Ust. Bayu mengawali pesan dengan mengingatkan para siswa bahwa setiap orang yang berhasil dalam kehidupannya pernah berada pada posisi sebagai seorang pelajar yang harus belajar, berjuang, dan menghadapi berbagai tantangan.

“Anak-anakku yang hebat, jangan pernah meremehkan dirimu sendiri. Setiap orang besar pernah menjadi seorang pelajar yang terus belajar, berjuang, dan tidak mudah menyerah.”

Ia menegaskan bahwa hasil belajar yang belum maksimal bukanlah alasan untuk merasa gagal. Nilai yang kurang baik hari ini justru harus dijadikan sebagai bahan evaluasi dan momentum untuk bangkit menjadi lebih baik.

Menurutnya, keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan seseorang. Ketekunan, kedisiplinan, kerja keras, serta sikap pantang menyerah merupakan bagian penting yang mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.

“Kesuksesan bukan milik orang yang paling pintar, tetapi milik mereka yang paling tekun, disiplin, dan pantang menyerah,” pesannya kepada para siswa.

Lebih lanjut, Ust. Bayu mengajak peserta didik untuk menyadari bahwa setiap aktivitas positif yang dilakukan di sekolah merupakan bagian dari proses membangun masa depan. Membuka buku, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas, hingga berdoa kepada Allah SWT merupakan langkah-langkah kecil yang apabila dilakukan secara konsisten akan memberikan hasil besar di kemudian hari.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar.

“Jangan takut gagal. Orang yang gagal adalah orang yang berhenti mencoba. Selama kalian terus berusaha, terus belajar, dan terus memperbaiki diri, kalian sedang berjalan menuju keberhasilan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ust. Bayu juga mengingatkan besarnya perjuangan orang tua dan keikhlasan para guru dalam mendampingi proses pendidikan para siswa. Orang tua bekerja dan berjuang setiap hari dengan harapan anak-anaknya dapat meraih masa depan yang lebih baik. Sementara para guru terus memberikan ilmu dan bimbingan agar peserta didik tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Menutup amanatnya, ia mengajak seluruh siswa untuk menanamkan tekad positif dalam diri, di antaranya “Saya bisa belajar lebih baik, saya bisa menjadi anak yang disiplin, saya bisa membanggakan orang tua dan guru, dan dengan izin Allah saya akan meraih cita-cita saya.”

Ia juga mengajak para siswa menjadikan semangat sebagai kebiasaan, disiplin sebagai karakter, dan doa sebagai kekuatan.

“Yakinlah, semua itu pasti bisa kita wujudkan. Selama kita beriman, bertakwa, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah, tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi untuk diraih,” tegasnya.

Amanat tersebut menjadi penguatan moral bagi seluruh peserta didik Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta untuk mengawali pekan dengan semangat baru. Para siswa diharapkan tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter disiplin, berakhlak mulia, memiliki keteguhan iman dan takwa, serta mempunyai semangat juang dalam menghadapi masa depan.

“Tetap semangat, terus belajar, terus berjuang, dan jadilah generasi yang membanggakan agama, orang tua, guru, dan bangsa. Insya Allah, masa depan yang cerah sedang menunggu kalian,” pungkas Ust. Bayu.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA