Untuk Siapa Modal Sosial NW ? oleh : Zulkarnaen

Untuk Siapa Modal Sosial NW ? oleh : Zulkarnaen

Tadi bingung mau nulis soal apa, kemudian memilih untuk membaca bukunya Henri David Thohreau yang berjudul Walden, sebuah Memoar dari penulisnya–berisikan intisari renungan hidup. Di saat membaca inilah ide judul tulisan ini muncul. Awalnya memang bukan judul ini yang langsung muncul di pikiran, tapi hanya soal NW–bingung mau judul apa–saking kusutnya NW dalam dunia pikiran saya. Sampai kemudian muncul judul tulisan ini–bagian dari kekusutan yang saya maksud.

Bagi saya persoalan modal sosial NW adalah bagian dari kekusutan. Sudah menjadi sesuatu yang umum didengar; elit NW hanya datang saat mereka butuh jama’ah–bahkan elit politik NW terkesan memperkaya diri–mungkin karena para elit melakukan money politic juga–ini bisa terjadi jika melihat respon jama’ah dalam memandang politik–sudah akrab didengar persoalan politik bukanlah wilayah apa yang dimaksud samikna wa atho’na–setidaknya ini menjadi bagian indikasi atas adanya masalah dalam praktik politik di NW–kekuasaan kemudian lebih dekat menjadi medium mengembalikan uang–kekuasaan yang seharusnya menjadi medium memperluas resonansi kebaikan dan mempersempit kemungkaran malah terkesan masih jauh dari apa yang seharusnya.

Sebenarnya kajian modal sosial dalam internal NW sudah dilakukan–bahkan sudah terdokumentasi dalam bentuk buku–sama sekali bukan hal baru–kajiannya sudah lama sekali. Namun sampai saat ini, masih menjadi masalah–pengurus NW terkesan tak mampu memanfaatnya modal sosial kepada bagaimana seharusnya. Sehingga yang terjadi adalah, modal sosial tersebut hanya untuk orang tertentu bukan NW lebih luas–mungkin juga para elit saling menjatuhkan satu sama lain.
Kekusutan ini yang saya maksud–keadannya belum ideal–mungkin mayoritas pengurus NW di semua kepengurusan sadar soal ini. Namun kenapa sulit diubah ? Atau memang keadaan ini sudah ideal ? Modal sosial itu hanya untuk orang tertentu ? Apakah jama’ah tak butuh hal lain selain narasi perjuangan–menyebut NW dan ninik ?
Pertanyaan tersebut muncul karena kegelisahan saya. Ini bisa benar bisa salah–semoga saja hanya kekurang tahuan saya saja. Namun jika ini benar, maka betapa tidak sehatnya ruangan NW–saya sudah sering sekali menemukan kader NW yang sudah jenuh membicarakan permasalahan NW dan kepengurusannya–terlepas organisasi memang harus punya masalah seiring perkembangan zaman–NW tak menjadi tempat yang nyaman jika membuat banyak kadernya jenuh–bukan soal tidak sabar, namun memang sudah terlalu lama–banyak kader yang kemudian kurang peduli membahas masalah-masalah itu karena terkesan tak ada aksi.

Siapa yang akan menyelesaikan masalah ini ? Apa mereka berharap generasi NW berikutnya ? Bukankah zaman ini lebih kompleks ? Atau memang tidak ada masalah sebenarnya ? NW hanya cukup ribut di Politik lalu sepi atau hanya melakukan interaksi monolog dalam acara pengajian–meredam keluhan dengan atas nama seorang tokoh ?
Semoga saja hanya kekurang tahuan saya saja–mungkin sebenarnya NW dalam keadaan baik sekali–merupakan ormas yang memiliki modal sosal terbesar di Nusa Tenggara Barat–segala potensi NW sudah terorganisir dengan baik–jama’ah NW rata bangga menjadi bagian dalam Nahdlatul Wathan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA