Tolong! Semua Harus Tidur dan Tiarap Gegara Hantaman Ombak

banner post atas

Hari terakhir jelajah Kepualauan Halmahera Selatan, kami singgah di Pulau Saketa lalu ke Kayoa. Di Saketa, malah harinya setelah ke dari Pulau Sali, kami bertemu dengan agen bank yang rumahnya paling bagus di antara rumah penduduk yang lain. Rumahnya besar dengan ukiran sofa yang terlihat mahal, apalagi itu dimiliki seorang warga dari pulau pelosok begini. Usut punya usut, setelah interview, bapak ini juga cuma sopir BBM tapi justru karena jadi agen bank dia bisa dapat duit puluhan juta. Duh pusing kepala saya! Hahaha…

Iyalah, di pulau ini kan gak ada bank, jadi semua transaksi perbankan yang bergantung bapak ini. Transfer sampai bayar macem-mecem bisa lewat. Bahkan saat saya datang sudah banyak penduduk pulau mengerubungi rumahnya padahal waktu itu sudah hampir jam 9 malam. Jadi kebayang dong berapa admin yang bisa ditarik dari perkirakan saja ratusan orang yang datang.

Cuma memang bukan tanpa kendala, sinyal di sini suka byarpet jadi si bapak harus rajin-rajin cari sinyak ke gunung, sebelumnya dia kumpulkan dulu uang orang-orang yang mau transaksi baru dia naek ke gunung. Wah gila sih emang. Abis dari tempat bapak ini, tim saya termenung dan langsung terlontar “apa kita jadi agen bank aja ya?” wkwkwkwk…

Iklan

Tawa kami pun larut sampai ke Pulau Kayoa esok paginya. Di Kayoa, sudah ada SD yang menunggu kami. Jadi kami mau setting anak-anak untuk melek perbankan alias menabung meski mulai dari Rp 5 ribu aja. Sampai di sana, anak-anak lagi gotong royong bersihkan sekolah mereka. Tapi saya syok karena mereka bersih-bersih halaman pake parang. Bukan parang kaleng-kaleng tapi beneran tajam. Sembari bercanda mereka pun berlarian mengerjar satu sama lain. Ebuset! serem amet itu parang oi!!! Tapi ketakutan saya buyar ketika saya (lagi) yang harus maju meminta izin, meminta itvw dan sebagainya. Ternyata walau tanpa perjanjian, mereka welcome banget sama proses syuting kita. Anak-anak tuh nurut saat diatu-atur. Senengnya. Tapi bukan saya yang jadi primadona di sini, melainkan teman-teman saya yang membawa kamera DSLR. Mereka penasaran lantas mengerubungi teman saya. Gemes!

BACA JUGA  Kesatria dan Menara Bintang

Di Kayoa ini rupanya juga ada tugu khatulistiwa, baru tahu kan! tapi tugu ini ya sekedarnya saja entah kenapa juga ada di sini haahahhaa… Saya sendiri tidak menelusuri lebih jauh soal keberadaan tugu ini karena jam 12 siang kami sudah harus kembali lagi ke-port awal lagi yaitu pelabuhan Bacan. Dalam perjalanan kali ini saya, duduk di samping sang kapten. Baru pertama saya merasakan sensasinya melihat langsung mengendarai kapal laut segede gaban ini.

Cuma ada bangku kecil untuk sang kapten, kecil banget. Lalu dengan mengucap “bismillah” sang kapten mulai mengendalikan perahu. Tapi anehnya kali ini dia tidak melihat radar yang mengedip di hadapannya. Malahan mengikuti arah perahu kecil membimbingnya. Oh… kata dia kapal ini harus ikuti arah perahu nelayan itu untuk lepas dari jebakan karang. Pelan-pelan laju kami hingga sang nelayan bersorak,”Sudah!” diiringi lambaian tangan. Sang kapten pun membalasnya dengan hal serupa plus senyuman. Wah serem juga. Katanya memang kendala di sini banyak jebakan karang di mana-mana karena belum adanya tempat sandar yang memadai di kepualaun ini, apalagi untuk menampung kapal dengan 3 dek ini. Fiuh! saya jadi tegang sendiri.

Ternyata ini belum seberapa, sekitar satu jam kemudian. Perahu kamu tiba-tiba mulai berontak ke kanan dan ke kiri. Mula-mula saya pegangan tetapi lama kelamaan saya tidak bisa berdiri normal. Di berbagai ruangan saya lihat semua orang baik abk maupun staf bank tergeletak tak berdaya sambil memejamkan mata. Ada juga yang kelihatan panik jadi sembari merapalkan doa-doa apalagi jika goyangannya bertambah kencang. Ini semakin parah karena saya harus memegang sesuatu untuk berjalan karena gerak kapal benar-benar sudah tak karuan. Ini kapalnya besar banget lho! Wah gila. Akhirnya karena saya sudah tak kuat, saya buru-buru ke kamar ambil antimo karena saya takut jackpot. Yang lain juga langsung menyarankan saya untuk segera berbaring karena kondisi makin tak stabil. Mereka bilang perjalanan dari Kayoa selalu begitu bahkan membuat barang-barang berjatuhan! Wah.

BACA JUGA  Seorang Anak Bertengkar dengan Ibunya dan Meninggalkan Rumah

Karena saya butuh udara segar, saya pun memilih berbaring di dek terbuka ditemani angin yang keras. Masuk angin tak mengapa lah. Akhirnya benar saja saya tertidur di bangku panjang untung goyangan perahu ga bikin saya nyebur ke laut wkwkwkw….Guncangan ini adalah guncangan terparah selama saya naik kapal laut. Setelah ini, saya juga pernah diguncang ombak di kapal cruise yang tak kalah besar di Pulau Seribu. Tapi karena sudah pernah merasakan parahnya laut Halmahera, guncangan di Pulau Seribu jadi tak begitu masalah. Meski hampir seluruh penumpang mabuk dan buat saya gak bisa salat berdiri. Nah, kalau kalian pernah juga alami guncangan hebat di kapal laut? Komen deh.

(Blog TyaTutu)

Tolong! Semua Harus Tidur dan Tiarap Gegara Hantaman Ombak