Terjemah perkata QS Al-Baqarah : 116
Tafsir Pendekatan Syair Al Baqarah 116 “Mereka berkata, Allah Punya Anak”
Karya : Abu Akrom
Mereka orang-orang kafir berkata
Dari Yahudi dan Nasrani semua
Allah punya anak istimewa
Mesti disembah sebagai perantara
Yahudi berkata Uzair anak Allah
Nasrani berkata Isa anak Allah
Musyrik berkata malaikat puteri Allah
Mereka menyembah anak-anak Allah
Maha suci Allah Ta’ala
Tuhan manusia yang sebenarnya
Tak punya anak seperti makhluk-Nya
Sungguh mustahil dalam realita
Allah tak sama dengan makhkuk-Nya
Punya anak dan berkeluarga
Allah tak butuh siapapun juga
Karena Allah Maha Kuasa
Allah pemilik jagad raya
Langit dan bumi beserta isinya
Semua tunduk kepada-Nya
Dalam kuasa dan kendali-Nya
Bekasi, 28 Rajab 1247 H/17 Januari 2026 M
Prolog
Asbābun Nuzūl Surah Al-Baqarah Ayat 116
Surah Al-Baqarah ayat 116 turun sebagai bantahan terhadap keyakinan sebagian manusia yang menisbatkan anak kepada Allah ﷻ. Kaum Yahudi menyatakan Uzair sebagai anak Allah, kaum Nasrani meyakini Isa sebagai anak Allah, sementara kaum musyrik Arab menganggap malaikat sebagai putri-putri Allah yang patut disembah dan dijadikan perantara.
Ayat ini menegaskan kemurnian tauhid dan menyucikan Allah dari segala sifat makhluk. Allah Mahasuci dari kebutuhan, keturunan, dan segala bentuk penyerupaan. Keyakinan tersebut bukan berasal dari wahyu, melainkan dari sangkaan dan tradisi yang menyesatkan.
Bait Pertama
Klaim Batil Tentang Anak bagi Allah
“Mereka orang-orang kafir berkata
Dari Yahudi dan Nasrani semua
Allah punya anak istimewa
Mesti disembah sebagai perantara”
Bait ini menggambarkan pernyataan keliru orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang mengklaim bahwa Allah memiliki anak. Penyair menegaskan bahwa anak tersebut dianggap memiliki kedudukan istimewa dan dijadikan perantara ibadah.
Makna bait ini mengingatkan bahwa kesesatan sering bermula dari keinginan mendekatkan diri kepada Allah, namun dilakukan dengan cara yang tidak dibenarkan oleh wahyu.
Bait Kedua
Ragam Keyakinan Sesat dalam Menisbatkan Anak
“Yahudi berkata Uzair anak Allah
Nasrani berkata Isa anak Allah
Musyrik berkata malaikat puteri Allah
Mereka menyembah anak-anak Allah”
Bait ini merinci bentuk-bentuk keyakinan yang menyimpang pada masing-masing golongan. Meskipun objek yang dinisbatkan berbeda, kesalahannya sama, yaitu menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dan menjadikan selain Allah sebagai sesembahan.
Pesan penting dari bait ini adalah bahwa perbedaan bentuk kesesatan tidak mengubah hakikatnya sebagai penyimpangan dari tauhid.
Bait Ketiga
Pensucian Allah dari Segala Tuduhan
“Maha suci Allah Ta‘ala
Tuhan manusia yang sebenarnya
Tak punya anak seperti makhluk-Nya
Sungguh mustahil dalam realita”
Bait ini menegaskan prinsip utama tauhid, yaitu mensucikan Allah dari segala tuduhan yang tidak layak. Allah ditegaskan sebagai Tuhan sejati manusia, yang mustahil memiliki anak sebagaimana makhluk.
Kalimat ini mencerminkan ajaran tanzīh, yaitu keyakinan bahwa Allah Mahasuci dan Mahatinggi dari segala bentuk kekurangan.
Bait Keempat
Allah Maha Berdiri Sendiri dan Maha Kuasa
“Allah tak sama dengan makhluk-Nya
Punya anak dan berkeluarga
Allah tak butuh siapapun juga
Karena Allah Maha Kuasa”
Bait ini menjelaskan perbedaan hakiki antara Allah dan makhluk. Makhluk membutuhkan keluarga dan keturunan, sedangkan Allah Mahakaya dan Mahaberdiri Sendiri. Allah tidak membutuhkan siapa pun karena kekuasaan-Nya sempurna.
Makna bait ini meneguhkan akidah bahwa segala kebutuhan adalah ciri kelemahan, sedangkan Allah Mahasempurna tanpa bergantung.
Bait Kelima
Kekuasaan Mutlak Allah atas Seluruh Alam
“Allah pemilik jagad raya
Langit dan bumi beserta isinya
Semua tunduk kepada-Nya
Dalam kuasa dan kendali-Nya”
Bait terakhir menutup syair dengan penegasan rubūbiyyah Allah. Dialah pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya. Semua makhluk tunduk dan berjalan dalam kehendak serta pengaturan-Nya.
Bait ini mengajak pembaca kembali kepada tauhid yang utuh: mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan, dan ibadah.


