Stigma Negatif yang (Bisa) Menyebabkan Kebohongan

banner post atas

Stigma negatif terhadap seseorang yang terkonfirmasi positif Covid19 di masyarakat kita masih sangat besar. Ketika ada salah satu warganya yang positif, maka seakan-akan merupakan bencana besar yang harus disingkirkan. Setiap saat merasa was-was kalau tiba-tiba Covid19 menerkamnya.

Memang musuh kita (Covid19) sangat kecil bahkan tidak terlihat. Tetapi bukan berarti kita juga memusuhi orang yang terinfeksi karena mereka juga “korban” yang wajib kita tolong.

Orang-orang yang “terpelajar” saja kadang masih rikuh menghadapi pasien Covid, apalagi orang awam. Padahal pasien yang positif sudah dikarantina, tetapi akses menuju rumahnya bahkan desanya diblokir. Mereka jadi “takut” lewat depan rumah pasien Covid sehingga rela cari jalur lain yang lebih jauh demi menghindari si Covid.

Iklan

Kalo stigma ini tetap berlanjut, maka boleh jadi orang jadi takut jika divonis positif. Bukan karena Covid19 menyakiti mereka tapi lebih karena “kekejaman” perlakuan orang-orang sekitarnya. Maka “kebohongan” menjadi satu-satunya senjata ampuh untuk menyelamatkan dirinya. Padahal “keselamatan dirinya” akan membahayakan orang-orang yang akan menolongnya ketika dia dalam kesulitan.

Mulai sekarang kita kuatkan tekat hanya memusuhi Covid19. Jangan sampai Covid19 menimbulkan permusuhan, kebencian dan saling prasangka buruk di antara kita. Bantulah pasien Covid19 dengan menyediakan segala keperluannya. Ikutlah menjaga dan membantu keluarga yang “ditinggalkan” selama menjalani masa karantina. Saat ini mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Kalo setiap pasien Covid19 dan keluarganya diperlakukan secara ” manusiawi” maka mereka akan dengan sukarela bahkan dengan senang hati untuk mengakui kalau dirinya terinfeksi Covid19. Marilah kita berikan jaminan “keamanan dan kenyamanan” bagi pasien Covid19 dan keluarganya sehingga “tidak akan ada dusta di antara kita”.

by MMA-Tulungagung

BACA JUGA  SYAIR INSPIRATIF (64) SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL