Seruan Jihad dalam Lafal Azan, Bentuk Penyimpangan Berdakwah

Seruan Jihad dalam Lafal Azan, Bentuk Penyimpangan Berdakwah

 

Oleh: Abdurrahman
> Wakil Ketua V PW Pemuda NW NTB

Akhir-akhir ini tanah air diramaikan oleh sekelompok orang yang bersorak-sorak meneriakkan jihad. Seakan-akan Indonesia dalam keadaan berperang berhadapan dengan musuh seperti yang terjadi di negara-negara timur tengah. Kelompok yang satu ini tidak bisa di anggap remeh karena polarisasi yang mereka mainkan telah menyasar hingga kepada generasi muda. Pola dakwah mereka dikemas dengan rapi dengan dalil-dalil agama dan bahkan menyerukan jihad dengan merubah lafal azan seperti yang viral di pemberitaan akhir-akhir ini. Pola dakwah seperti ini merupakan perkara yang membahayakan karena membawa sentimen agama sebagai instrumen dalam berdakwah sehingga tidak sedikit masyarakat awam terpengaruh.

Dalam konteks keislaman, fenomena dakwah yang terjadi di tanah air indonesia saat ini telah terjadi banyak perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Kini ranah dakwah bukan lagi sebuah langkah mulia untuk mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil’alamin namun telah menjadi sebuah objek untuk kepentingan kelompok tertentu dalam meraih simpati masyarakat demi melancarkan kepentingan politiknya di tanah air. Tidak jarang terjadi kegaduhan oleh kelompoknya dan menganggap pemerintah sebagai penguasa yang zalim. Dalil agama dikemas sedemikian rupa dan kalimat jihad begitu mudah diucapkan seolah-olah negara sedang dalam keadaan berperang. Kelompok-kelompok seperti ini jika dibiarkan maka akan menjadi bom waktu bagi tanah air indonesia. Apalagi dibalik aksi-aksinya selama ini di tanah air terselip tujuan untuk merubah negara menjadi negara khilafah. Suatu hal yang mustahil untuk negara majemuk seperti indonesia.

Dalam ajaran islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW, dakwah merupakan perkara yang mulia sehingga caranyanpun harus mulia. Bukan dengan perkataan-perkataan yang tidak pantas, apalagi merubah lafal azan dengan seruan jihad. Dalam Al-Quran pun sudah dijelaskan dengan utuh tentang perkara-perkara dalam berdakwah. Dalam ajaran islam terdapat banyak ayat-ayat Al-Quran berbicara tentang bagaimana seharusnya menyampaikan seruan dakwah kepada ummat. Diantaranya surat An-Nahl ayat 125 yang menjelaskan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

BACA JUGA  Tafsir Al Qur'an Surat Al Ahzab Ayat 33

Didalam ayat yang lain juga Allah SWT menjelaskan bagaimana kisah Nabi Musa as dan Nabi Harun as yang diperintahkan untuk memberi peringatan kepada Fir’aun yang kala itu telah melampaui batas kewajaran sebagai penguasa yang zalim. Dalam konteks itupun Allah memerintahkan agar menyampaikan peringatan kepada Fir’aun dengan cara yang lemah pembut.
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;”
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 43 – 44)
Demikianlah Allah memberi petunjuk kepada hambanya dalam menyampaikan sebuah kebenaran dan kebaikan di tengah ummat manusia.

BACA JUGA  JANGAN TUNGGU IMAM BERDIRI

Jika kita merunut ke belakang membuka lembaran sejarah. Jauh sebelum indonesia lahir kita telah diberi keteladanan dan contoh oleh para ulama-ulama kita dalam berdakwah. Melalui sejarah para Wali Songo misalnya bagaimana mereka berdakwah dengan sikap yang penuh lemah lembut dengan pendekatan budaya dan tradisi masyarakat setempat. Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut mereka perkataan yang tidak pantas, apalagi kata-kata kasar, ujaran kebencian dan sejenisnya, semuanya dari mereka penuh dengan hikmah dan kebaikan. Sebab mereka memahami bahwa sifat dasar manusia adalah senang dengan perkataan dan sikap yang lemah lembut dan kultur masyarakat indonesiapun demikian meskipun terdapat di beberapa daerah tertentu memiliki watak yang keras namun itupun tetap terukur sesuai dengan adat dan tradisi setempat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam sebuah Pelatihan Kader Dakwah yang diselenggarakan di Lombok Provinsi NTB pada tanggal 18-20 November 2020 yang lalu. Penulis mendapatkan sebuah penjelasan dan pemahaman tentang sebuah konsep berdakwah dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam salah satu materi pelatihan tersebut dijelaskan bahwa ada beberapa kode etik seorang Da’i dalam menyampaikan dakwah kepada ummat. Ia harus mengedepankan karakter, diantaranya:
1. Lemah lembut (Layyinan).
2. Sukarela tampa paksaan (Tathawwu’iyyan).
3. Toleran terhadap perbedaan (Tasamuhiyyan).
4. Menyayangi objek dan sesama pelaku dakwah (Tawaddudiyan wa Tarahumiyan).

BACA JUGA  MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN KITAB “AT-TAARIKH AL-KABIIR” KITAB TARJAMAH PERTAMA DARI “IMAM AL-BUKHARI”

Keempat hal tersebut harus dimiliki oleh seorang pendakwah dan diaplikasikan dalam aktifitas dakwahnya di tengah-tengah ummat. Kini terlalu banyak para ustaz yang begitu mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya bahkan sampai pada tingkatan mengkafirkan orang lain. Hal demikian tidak dibenarkan dalam ajaran islam dan tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rasulullah SAW. Pola interkasi baginda Nabi SAW, baik dalam berdakwah maupun dalam kehidupan sehari-sehari wajib menjadi acuan dan rujukan dari para pendakwah. Bukan justru mencari dalil pembenaran untuk membenarkan perilaku-perilaku dakwah yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.

Kita berharap berbagai peristiwa yang terjadi di tanah air saat ini dapat menyadarkan kita bahwa keutuhan tanah air indonesia lebih utama dari kepentingan politik yang sedang di perjuangkan. Persaudaraan dan persatuan harus kita wujudkan bersama dalam perbedaan. Kecintaan terhadap agama dan tanah air adalah yang utama, seperti sebuah ungkapan yang menyatakan “Hubbul Wathan Minal Iman” Cinta Tanah Air bagian dari Iman.

BACA JUGA  Hikmah Pagi : Renungan kehidupan manusia

Sebagai penutup tulisan ini, penulis teringat pernyataan seorang Guru Besar UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH,.MA dalam suatu kesempatan dihadapan forum Pelatihan Kader Dakwah, beliau menyampaikan bahwa:
“Seorang Dai itu adalah Komunikator, Dai adalah Inspirator, Dai adalah Orator, dan Dai bukanlah Propokator apalagi Koruptor”.

Wallahua’lam Bissawab.
Mataram, 3 Desember 2020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA