Sinar5news-Jakarta — Reaksi Cerdas Indonesia menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk bersikap waspada dan bertindak cerdas dalam menjaga kedaulatan kepemimpinan nasional. 4/11/26.
Presiden Republik Indonesia hari ini tidak hanya menghadapi tantangan kebijakan, tetapi juga menghadapi ancaman serius berupa infiltrasi dan sabotase yang dilakukan melalui penyadapan. Penyadapan bukan sekadar pelanggaran privasi. Penyadapan adalah cara untuk membocorkan strategi negara, memelintir percakapan, memecah kepercayaan antara Presiden dengan para pembantunya, dan menciptakan kegaduhan yang melemahkan pemerintahan dari dalam.
Kami menilai, pola sabotase modern tidak lagi menggunakan senjata. Sabotase modern menggunakan data, rekaman yang dipotong, narasi yang digiring, dan infiltrasi orang-orang yang berpura-pura loyal di lingkaran kekuasaan.
Oleh karena itu, Reaksi Cerdas Indonesia menyatakan:
1. Presiden Harus Dilindungi, Bukan Dibiarkan Sendirian.
Perlindungan terhadap Presiden adalah perlindungan terhadap konstitusi dan kedaulatan rakyat. Negara wajib memastikan seluruh jalur komunikasi Presiden, baik formal maupun informal, bebas dari penyadapan ilegal oleh pihak manapun, dari dalam maupun dari luar.
2. Audit Total Sistem Komunikasi Negara.
Kami mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap sistem komunikasi, perangkat, dan personel di lingkungan Istana dan kementerian strategis. Infiltrasi hanya bisa dicegah dengan sistem yang bersih, disiplin, dan diawasi secara berlapis.
3. Hentikan Politik Adu Domba Melalui Bocoran.
Setiap bocoran rekaman, chat, dan dokumen yang disebarkan tanpa konteks adalah bentuk sabotase informasi. Rakyat Indonesia harus cerdas, jangan mudah percaya pada potongan informasi yang bertujuan mengadu domba Presiden dengan rakyat dan dengan aparatnya sendiri.
4. Seruan Kepada Rakyat: Menjadi Reaksi Cerdas.
Menjaga Presiden bukan tugas aparat semata. Ini tugas kita semua. Jangan ikut menyebarkan hasil penyadapan ilegal. Jangan ikut membesar-besarkan fitnah. Jadilah rakyat yang cerdas, yang memverifikasi sebelum menyebarkan, dan yang berdiri tegak menjaga persatuan.
Reaksi Cerdas Indonesia menegaskan, kritik terhadap pemerintah adalah sah dalam demokrasi. Namun infiltrasi, penyadapan, dan sabotase adalah kejahatan terhadap negara dan tidak dapat ditoleransi.
Kami mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, jurnalis, dan seluruh anak bangsa untuk bersatu dalam satu tekad: Selamatkan Presiden, Selamatkan Indonesia.
Jika Presiden dilemahkan oleh sabotase, yang dirugikan bukan satu orang, melainkan 280 juta rakyat Indonesia.
( REAKSI CERDAS INDONESIA
Hamdan : Direktur Reaksi Cerdas Indonesia)




