SEJARAH DAN ASAL-USUL SEBUTAN “NENEQ” UNTUK ALLAH DALAM BAHASA SASAK
Oleh: Redaksi SinarLIMA
SinarLIMA.com — Dalam tradisi tutur dan kehidupan sehari-hari masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, ungkapan Neneq—atau sering dilafalkan Neneq Kaji, Epe Neneq, hingga Neneq Kaji Sak Kuase—bukanlah sekadar kata biasa. Kata ini digunakan sebagai penyebutan dan penghormatan tertinggi kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pencipta.
Lantas, siapakah yang pertama kali memberikan atau mencetuskan nama Neneq untuk menyebut Allah SWT, dan bagaimana perjalanan sejarah dibalik penyebutan yang syarat akan makna spiritual ini? Berikut penelusuran redaksi SinarLIMA.
Siapa yang Memberi Nama “Neneq”?
Secara historis dan kebudayaan, sebutan Neneq untuk menyebut Sang Pencipta tidak diciptakan oleh satu individu atau tokoh tunggal, melainkan lahir dari proses evolusi bahasa, kebudayaan kolektif, serta kearifan lokal (local wisdom) leluhur nenek moyang suku Sasak.
Ketika ajaran Islam masuk ke Pulau Lombok melalui para wali, ulama, dan da’i penyebar Islam, para ulama menyerap dan menyelaraskan istilah lokal ini dengan nilai-nilai Tauhid. Para ulama tidak menghapus kata Neneq, melainkan mengokohkan pemaknaannya agar merujuk secara tegas dan murni kepada Allah SWT (As-Samad dan Al-’Aliy).
Makna Bahasa dan Elevasi Filosofis
Secara etimologi dalam bahasa Sasak, kata Neneq atau Ninik pada dasarnya merujuk pada:
-
Posisi yang Tinggi: Dalam bahasa proto-Austronesia dan dialek lokal, akar kata ini berkaitan dengan kedudukan yang tinggi, agung, serta tak terjangkau.
-
Sosok yang Dituakan dan Dihormati: Dalam struktur keluarga atau kemasyarakatan Sasak, Ninik/Neneq adalah sapaan paling takzim untuk leluhur, orang tua dari orang tua, atau tokoh yang sangat disepuh.
Masyarakat Sasak meyakini bahwa Zat yang menyiptakan langit, bumi, dan alam semesta adalah Zat yang berada di tempat paling tinggi, Maha Agung, dan Maha Dihormati. Dari sinilah terjadi elevasi makna (peningkatan derajat kata) dari sapaan penghormatan manusia kepada tokoh sepuh, naik menjadi sapaan spiritual tertinggi hamba kepada Sang Pencipta.
Perjalanan Sejarah: Dari Kepercayaan Lokal Menuju Tauhid Islam
1. Era Kosmologi Sasak Kuno
Sebelum Islam berkembang pesat, masyarakat Sasak purba telah memiliki konsep kepercayaan kosmologis tentang keberadaan Penguasa Tertinggi Alam Semesta. Untuk menyapa Zat Yang Maha Kuasa tersebut, mereka enggan dan takut menyebut nama secara sembarangan sebagai bentuk rasa takut dan adab. Mereka memilih menggunakan kata Neneq sebagai simbol keberadaan Zat Yang Maha Tinggi.
2. Akulturasi dan Islamisasi oleh Para Ulama
Ketika ajaran Islam menyebar di Nusantara, khususnya di Lombok, para ulama penyebar Islam menggunakan pendekatan dakwah yang arif (hikmah). Mereka menerapkan prinsip al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Para ulama menanamkan pemahaman Tauhid bahwa Neneq yang disembah dan dimohonkan doa oleh masyarakat Sasak tidak lain dan tidak bukan adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Penggunaan Neneq dalam Bahasa Halus dan Doa
Dalam tata bahasa Sasak, penggunaan Neneq tergolong dalam Basa Halus (bahasa tingkat tinggi/sopan). Beberapa bentuk sapaan doa yang populer di tengah masyarakat Sasak antara lain:
-
Neneq Kaji Sak Kuase: “Tuhan Hamba Yang Maha Kuasa.”
-
Epe Neneq: “Wahai Tuhan Pemilik Kami.”
-
Neneq Kaji Sak Murni: “Tuhan Hamba Yang Maha Suci.”
Penggunaan kata kaji (hamba/saya) yang dipadukan dengan Neneq mencerminkan kerendahan hati yang luar biasa dari seorang manusia yang hina di hadapan Kebesaran dan Keagungan Allah SWT.
Kesimpulan
Sebutan Neneq yang berarti Tuhan (Allah) dalam bahasa Sasak adalah warisan kebudayaan dan kearifan bahasa leluhur Sasak yang telah disempurnakan oleh nilai-nilai tauhid Islam. Ia menjadi bukti betapa bahagianya perpaduan antara ajaran Islam yang luhur dengan kebudayaan lokal Sasak yang penuh dengan adab dan kesopanan dalam mengagungkan Sang Pencipta.
Sumber Referensi
-
Naskah Kuno Sasak (Babad Lombok & Takepan Lontar): Memuat teks klasik dan syair tradisi memaos yang menggunakan istilah Neneq Kaji Sak Kuase untuk mengagungkan Sang Pencipta.
-
Kajian Linguistik & Kebudayaan Sasak: Studi etimologi bahasa Sasak halus (basa halus) yang menjelaskan peninggian makna kata Neneq/Ninik dari penghormatan sesepuh menjadi sapaan takzim kepada Allah SWT.
-
Sejarah Lisan & Tradisi Ulama/Tuan Guru: Warisan dakwah arif ulama Lombok yang menyelaraskan tradisi lokal dengan nilai Tauhid (Adat Basandi Syara’).





