Ramadhan; Masih Kecil? Oleh Zulkarnaen

Ramadhan; Masih Kecil? Oleh Zulkarnaen

Setengah bulan sudah kita jalani rutinitas bulan ramadhan. Setiap orang memiliki kesan tersendiri setelah menjalani. Ada yang merasa biasa-biasa saja tanpa merasa ada sesuatu yang berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Hanya kesadaran soal perubahan jadwal makan dan pengurangan makan dari yang semula tiga kali. Bagi orang-orang tertentu, bulan ini di anggap sebagai kesempatan berarti. Mereka berusaha memaksimalkan ibadah mereka.

Kata rutinitas berarti kegiatan yang rutin (selalu) kita lakukan setiap hari. Menurut KBBI, ia berasal dari kata rutin yang berarti prosedur yang teratur dan tidak berubah-ubah. Prosedur tersebut adalah tahapan untuk mencapai tujuan tertentu. Penting kemudian untuk menilai diri sendiri. Mungkin kebanyakan dari kita menjalani setengah bulan hanya sekedar rutinitas tanpa memiliki keinginan untuk mencapai tujuan ibadah ramadhan.

Jika kita merasa biasa-biasa saja, maka logikanya kita tidak memiliki pencapaian di sana. Kita kemudian bisa menilai diri bahwa katagori kita termasuk dari ibadah orang awam kebanyakan. Orang yang hanya tahu bahwa puasa merupakan kewajiban selama bulan ramadhan. Pelaksanaanya baru sampai pada orientasi melepas kewajiban. Ibadah masih pada soal keuntungan apa yang bisa di dapat.
Orang awam memang tidak di wajibkan mengetahui segala hal yang terkait puasa ramadhan. Hanya wajib mengetahui cara melakukannya. Inilah yang umumnya kita ketahui sampai detik saat ini. Sebenarnya bukan cuman itu, orang awam wajib mengetahui tiga ilmu kata Alghozali.

Pertama, mengetahui ilmu tauhid. Secara ringkas Alghozali mengatakan “bagaimana mungkin kita beribadah sementara kita tidak mengenal apa yang kita sembah”. Kedua, mengetahui soal hati. Ada banyak orang beribadah namun ibadahnya tidak berarti karna sesuatu dalam hatinya. Ibadah zohir mutlak membutuhkan kerja hati. Ketiga, mengetahui ilmu syariat. Kita akan bertanya kemudian bagimana cara menghamba setelah kita tahu bahwa tuhan memerintahkan untuk menghamba kepadaNya. Kita umumnya mengetahui pertama dan ketiga.

Namun itupun biasanya masih sebatas hapalan, belum sampai level penghayatan.
Secara umum, kita rata-rata menghapal sudah dari sejak kecil. Hapalan tersebut dalam rangka praktik nanti saat pertemuan berikutnya dengan guru ngaji kita. Jika kita mencoba pikir-pikir, mungkin ibadah sholat kita masih seperti sewaktu masih kecil, sholat untuk mengulang hapalan bacaan. Bahkan mungkin lebih parah di banding yang dulu. Sewaktu kecil, ibadah sholat kita rata-rata cukup lama membutuhkan waktu. Sholat terakhir kita yang tadi mungkin lebih cepat dari pada sewaktu kecil. Ibadah kita sewaktu kita kecil adalah rangka pembiasaan bacaan, tidak di tuntut penghayatan. Kita kemudian bisa menilai diri, apakah ibadah kita yang tadi masih sama dengan sewaktu kita kecil.

Dalam ibadah orang awam harus terkonstruksi oleh tiga hal yang sudah di sebutkan. Mengetahui soal hati harus menjadi prioritas dalam rangka memastikan ibadah yang akan di lakukan menjadi lebih berarti. Untuk orang-orang tertentu, mereka sudah pada level takut ibadah mereka tidak di terima. Mereka dalam saat yang bersamaan memiliki harapan ibadah mereka di terima.

Rutinitas kita harus punya jiwa supaya tidak menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Puasa ramadhan memiliki tujuan untuk di capai. Tujuan ini sekaligus menjadi instrument penilaian diri di setiap hari yang akan kita jalani. Kesadaran kita terbentuk, setiap bangun tidur kita kemudian akan menjadi waktu untuk mencicil tujuan itu. Tidak ada hari akan menjadi sia-sia kita jalani. Kita pada konteks itu telah menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.( Zulkarnaen)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA