PROSPEK BUDIDAYA BURUNG PUYUH DI PONPES NW BEKASI

PROSPEK BUDIDAYA BURUNG PUYUH DI PONPES NW BEKASI

Adanya budidaya burung puyuh di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Bekasi, merupakan wujud dari kontribusi positif para alumni yang telah belajar di Pompes NW Jakarta.

Kampung Gabus merupakan kampung kecil dengan berbagai potensi, salah satunya budidaya di sektor peternakan burung puyuh. Selain sebagai bisnis yang menjanjikan, budidaya ternak burung puyuh sebetulnya bisa dijadikan salah satu icon penting untuk pengembangan potensi daerah khususnya yang ada di wilayah kabupaten Bekasi.

Pondok pesantren Nahdlatul Wathan Bekasi yang berlokasi di Kampung Gabus Desa Srijaya kecamatan Tambun utara Kabupaten Bekasi didirikan langsung oleh Drs. TGKH. M. Suhaidi, SQ, dimana beliau sudah satu tahun ini telah mengembangkan budidaya telur puyuh. Saat ini jumlah ternak puyuh yang dipelihara 1.000 ekor, seharusnya 5000 ekor. Tetapi sayang banyak yang mati akibat diterjang banjir pada awal Januari lalu.

Hari ini Kamis (31/1/2020) crew media Sinar5News.com menemui koordinator peternakan burung puyah yaitu Pardi. Dia menuturkan, untuk proses perawatan puyuh mulai dari masa pembibitan memerlukan proses penghangatan sampai 20 hari. Baru setelah agak besar dibiarkan di dalam ruangan khusus agar bisa beradaptasi dengan cuaca selama kurang lebih 1 minggu, kemudian baru dibawa ke kandang ternak.

Adapun masa pembibitan sampai masa bertelur membutuhkan waktu antara 35 sampai 40 hari. Dalam 1 kandang ternak maksimal berisi 8 sampai 10 bibit puyuh. Jika melebihi dari itu burungnya bisa stres, sehingga hasilnya menjadi tidak maksimal.

Untuk mengembalikan burung puyuh agar tidak stres, harus di puasakan atau dinormalkan kembali selama kurang lebih 2 minggu agar bisa bertelur kembali.

Terkait pakan ternak puyuh, untuk ukuran standarnya 1 ekor puyuh membutuhkan 2,5 gram perhari. Kalau 1.000 ekor, maka perharinya menghabiskan 25 kilogram pakan.

Pardi menambahkan, dalam sehari, ternak burung puyuh yang dikelolanya bisa menghasilkan 70 hingga 80 kilogram telur dengan harga jual Rp. 25.000 perkilogram. Sedangkan masa produktifitas burung puyuh bertelor hanya sampai usia 1,5 tahun, selebihnya burung puyuh yang sudah tua akan dijual untuk dijadikan konsumsi.

“Mengenai permintaan pasar akan kebutuhan telur puyuh memang banyak, tetapi sementara ini baru bisa mensuplai kebutuhan untuk Kota Bekasi saja.,” pungkas Pardi.

Sementara Abdurrazak sebagai ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan (IANW) Bekasi juga berpendapat, “Adanya peternakan burung puyuh di lingkungan Ponpes Nahdlatul Wathan bekasi adalah wujud loyalitas alumuni untuk menunjang bertumbuh kembangnya perekonomian Pondok pesantren. Yang mana hasil dari peternakan puyuh ini digunakan untuk biaya makan dan sekolah para santri di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Bekasi”,

Semoga budidaya peternakan burung puyuh ini terus mengalami kemajuan dari waktu kewaktu. Aamiin (Bayu)

Bekasi, 5 Jumadil Akhir 1441 H/31 Januari 2020 M

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA