Prof Harapandi: Keyword Kebajikan

banner post atas

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Aku (Allah) tiada menciptakan Jin dan manusia melinkan untuk beribadah kepadaKu (Az-Zariyyat:56).
 
Dalam ayat-Nya Allah berfirman, Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’bududun. Lama aku tidak percaya dengan ayat ini Fikirku aku hanya disuruh shalat, puasa dan dzikir.

Imam Mujahid berkata: maknanya adalah melainkan Aku akan memerintahkan dan melarang mereka. Pendapat lain mengatakan yakni melainkan agar mereka tunduk dan patuh kepada-Ku. Sebab makna ‘ibadah’ secara bahasa adalah tunduk dan patuh.
 
Apalagi ketika aku berfikir tentang ayat, Wa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yakin, Demi Allah, aku tidak sanggup untuk beribadah terus menerus.
 
Aku bingung, aku takut, aku lari dari pendapatku sendiri yaitu hidupku harus terus fokus akhirat dan perduli amat dengan dunia. Suatu hari aku bertanya kepada murabbiku. Tidak salah pendapatmu, tapi kurang”. Sahut guruku.
 
Dalam ayat lain Allah berfirman:“Wala tansa nasibaka minaddunya”. Dan La yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Jelas Allah tidak hanya menyuruh kita untuk sholat dan puasa, Allah juga menyuruh kita untuk mencari dunia. Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat. Sehingga kita tidak mampu memikulnya sekalipun dalam masalah ibadah.
 
Ketauhillah…..Ibadah itu bukan hanya berbentuk akhirat melainkan banyak perkara dunia yang dapat berubah menjadi amal akhirat karena niat dan banyak perkara yang sangat ukhrawi, namun tiada mendapatkan nilai disisi Allah karena niat yang salah. Engkau makan, minum, tidur, cari nafkah, menikah yang di dalamnya tersimpan niat untuk menguatkan ibadah, maka nilainya disisi Allah adalah ibadah.
 
Itulah arti Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun, tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu. Semua arah dan tujuan mestilah diniatkan hanya kepadaNya semata. Tidakkah kita ingat firman Allah dalam surah al-An’am:162.

Iklan
BACA JUGA  Doa Hari Ini Ahad 5 Jumadil Awwal 1442

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 
Artinya; Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Berdiri, duduk dan berbaring dapat memberi nilai ibadah jika terselip di dalamnya niat ibadah. Bahkan tidur kita pada malam hari dapat bernilai ibadah saat niat terlintas dalam lubuk hati terdalam.

Al-syeikh al-Zurnuji dalam salah satu ungkapannya mengatakan: “Banyak perbuatan terlihat untuk akhirat (ibadah), namun bernilai dunia karena niatnya yang salah dan banyak perbuatan terlihat dunia, tapi karena husn al-niyyat maka bernilai akhirat”.
 
Niat merupakan key words dari amal yang kita lakukan, ia akan diterima Allah dan terhitung sebagai ibadah jika dilakukan dengan ikhlas dan sebaliknya jika niatnya tidak semata-mata karenaNya, maka sia-sialah pekerjaan yang kita lakukan.

Al-Syaikh Al-Ushfuri dalam kitab risalah ushfuriyyah terkait dengan kasih sayang, beliau menceritakan seorang ahli ibadah dari bani Israil melewati padang pasir, dalam hatinya berkata; sekiranya pasir-pasir ini berobah menjadi tepung, maka aku akan berikan makan kepada seluruh orang yang sedang kelaparan. Allah berkata pada salah seorang nabiNya, wahai NabiKu, pergi dan beritakan kepada hambaKu yang saleh itu, Aku telah mencatatkan pahala untuknya sebanyak pasir yang ada karena ia telah berniat baik untuk hamba-hambaKu.

Subhanallah, jom dari sekarang kita berniat melakukan kebajikan walau sekirnya tidak dapat kita tunaikan. Jangan bosan dan malas berniat untuk melakukan kebajikan, apalagi saat-saat sekarang pada bulan suci Ramadhan yang berlimpah keberkahan ini.

Wallahu a’lamu bi al-Shawab