Prof H Agustitin: WISATA BATINIAH TENTANG PEMBERDAYAAN WAKTU SERI KE17

Prof H Agustitin: WISATA BATINIAH TENTANG PEMBERDAYAAN WAKTU SERI KE17

Umur setiap manusia mengalir ke satu titik menuju titik berikutnya, dan di situlah masa ajalnya habis dan buku catatan amalnya ditutup. Maka ambillah dari dirimu untuk dirimu. Lihatlah hari ini dengan cermin hari kemarin. Hentikanlah kejahatanmu. 

Tingkatkan kebaikanmu sebelum masa ajalmu habis dan engkau tidak mampu lagi meningkatkan usaha dan amalmu.”

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya bertemu orang-orang sufi. Saya tidak mengambil manfaat, kecuali dua kata. Pertama: Waktu seperti pedang. Apabila Anda tidak memenggalnya (memanfaatkannya), maka ia yang akan memenggalmu Kedua: Apabila Anda tidak menyibukkan dirimu dalam kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Benar, waktu tidak berdiri menjauh (menghindar). Waktu bisa menjadi nikmat untukmu, atau kesengsaraan atasmu.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Hai bani Adam, siang harimu adalah tamumu, maka perlakukan ia dengan baik (yakni, dengan memanfaatkannya untuk kebaikan). Karena apabila Anda memperlakukannya dengan baik, niscaya ia pulang dengan memujimu. Dan apabila Anda memperlakukannya dengan buruk (denganmenggunakan nya untuk hal-hal haram atau tidak berfaedah), niscaya ia akan berpamitan dengan mencelamu. Begitu pula malam harimu.”

Al-Ashmu’i berkata, ‘Suatu pagi saya pergi mengunjungi salah seorang kawan. Saya bertemu dengan Abu Amru bin Al-Ala’. Dia bertanya kepadaku, ‘Hendak ke mana?’ Saya menjawab, ‘Mengunjungi teman.’ Dia berkata, ‘Lakukan apabila untuk faedah (yakni, mengkaji ilmu atau mengambil manfaat darinya), atau meja makan (yakni menghadiri walimah di mana Anda diundang), atau untuk menjenguk (yakni menjenguk orang sakit). Kalau bukan maka jangan. (Maksudnya apabila kunjunganmu dengan keperluan salah satu di antara tiga di atas maka alangkah indah dan mulianya. Tetapi apabila demi hal-hal yang tidak berguna dan ucapan-ucapan tidak bermanfaat, maka tinggalkanlah).”’*/Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih, dari bukunya 125 Kiat Salaf Menjaga Waktu Produktif.

PARA salafus saleh mengingkari orang-orang yang membuang-buang waktu dan memacu mereka untuk memanfaatkan umur mereka. Di antaranya adalah Syuraih Al-Qadli rahimahullah yang melewati sekelompok orang yang bermain-main, berbuat iseng, dan berbicara tanpa manfaat.

Dia bertanya kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami sedang menikmati waktu luang.” (Yakni, kami memiliki waktu luang, maka kami menggunakannya untuk ngobrol dan bermain-main). Dia berkata, “Apakah orang yang mempunyai waktu luang diperintahkan begini?” (Yakni, apakah diperintahkan untuk main-main dan ngobrol?) Kemudian dia membaca firman Allah, “Apabila Anda telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya Anda berharap.” (Alam Nasyrah: 7-8).

Arti dari kedua ayat ini: Apabila Anda memiliki waktu luang, maka bersungguh-sungguh dan berpayah-payahlah dalam ketaatan kepada Tuhanmu serta ikhlaskanlah amalmu hanya untuk-Nya. Alangkah mulianya pemahaman terhadap Kalamullah seperti ini. Begitulah Al-Qur’an, selalu mengiringi kita dalam segala segi kehidupan kita.

Abu Ja’far As-Samak mendatangi As-Sari As-Saqti rahimahullah. Dia melihat beberapa orang pemalas dan penganggur sedang berbincang-bincang dalam perkara yang tidak berguna bersama As-Sari. Abu Ja’far menolak duduk dan berkata, “Hai Sari, engkau telah menjadikan dirimu sebagai tumpangan bagi para pemalas.” Dia lalu pulang tanpa duduk dan membenci keberadaan mereka di sisi As-Sari.”

Begitulah orang-orang saleh sebelum kita. Kalau sekarang, orang yang menjaga waktunya menjadi sesuatu yang langka.

Ingatlah Perdana Menteri Ibnu Hubairah ketika dia menggambarkan keadaan kita dan sikap kita yang meremehkan waktu dengan ucapannya,

“Waktu adalah barang termahal yang harus engkau jaga dengan penuh perhatian
Dan saya melihat bahwa ia adalah barang termudah yang lenyap darimu.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Dunia hanyalah tiga hari; Kemarin yang telah berlalu; esok yang bisa jadi engkau tidak mendapatkannya; dan hari ini, yang inilah bagianmu. Maka berkaryalah.”

As-Sari bin Al-Mughallas rahimahullah berkata, “Apabila Anda bersedih karena hartamu yang berkurang maka menangislah lantaran umurmu pun berkurang.” Alangkah indahnya, apabila kita menjaga waktu kita seperti halnya kita menjaga harta kekayaan kita.

Kemudian, Rasulullah memberikan dua dirham kepada laki-laki Anshar dan bersabda, “Kang, gunakan satu dirham untuk membeli makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Gunakan satunya lagi untuk membeli kapak lalu berikan kapak itu kepadaku.”
“Nggih, Kanjeng Nabi. Siap!”

Baca juga:  Ihwal Ibadah Puasa Menurut Sufi Ibnu Arabi
Sahabat Anshar itu membeli kapak sebagaimana perintah Kanjeng Nabi. Dia membawa ke ndalem Kanjeng Nabi. Di saat yang sama, Kanjeng Nabi mengikat kayu dengan tangannya lalu bersabda kepada laki-laki itu, “Pergilah, Kang! Ubahlah kayu ini menjadi kayu bakar agar bisa dijual. Jika sudah layak, juallah kayu bakar itu dan jangan menemuiku selama 15 hari!”
“Nggih, Kanjeng Nabi. Siap!”

Laki-laki itu pergi, mengolah kayu pemberian Nabi menjadi kayu bakar, kemudian menjualnya. Dari penjualan kayu bakar itu, sahabat Anshar tersebut mendapatkan 10 dirham. Sebagiannya dia belikan baju dan sebagian lainnya dia belikan makanan. Lalu dia mendatangi Rasulullah SAW. Setelah 15 hari. Dia menceritakan apa yang dilakukannya selama 15 hari dengan kayu bakarnya.

Mendengar apa yang dilakukannya, Kanjeng Rasulullah SAW bersabda, “Nah, Kang. Itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta yang akan membuatmu malu pada hari kiamat kelak.”

Demikian cara Kanjeng Nabi menghadapi sahabat dari lapisan terlemah dalam masyarakat. Bukan saja memotivasi “Orang paling baik adalah orang yang memakan makanan dari hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud sungguh selalu makan dari hasil usahanya sendiri” (HR Bukhari), Nabi juga memberi solusi nyata untuk mewujudkannya.

Kanjeng Nabi dekat dengan Allah. Seandainya beliau mau berdoa agar diturunkan uang langsung, bisa saja Allah akan mengabulkannya. Namun ternyata bukan demikian yang terjadi. Beliau justru memberikan pelajaran konkret tentang bekerja.

Dalam konteks saat ini, banyak yang memandang bahwa sufisme adalah jalan bagi orang-orang pensiunan yang ingin mengasingkan diri dengan jalan sufi. Mereka seolah-olah menjauhi kehidupan duniawi dan hanya fokus pada pekerjaan spiritualnya. Lalu apakah sufi tidak pro terhadap kemakmuran dan kemaslahatan umat seperti dalam hal perekonomian?

Dalam diskusi rutin yang diselenggarakan oleh Islam Nusantara Center (INC), Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (14/4) Mukti Ali memaparkan bahwa sufi tidak seperti yang dituduhkan, mereka juga melakukan kegiatan perekonomian seperti berdagang dan melakukan usaha untuk meningkatkan perekonomiannya. 

Merujuk pada bukunya yang berjudul Islam Mazhab Cinta: Cara Sufi Memandang Duniapada bagian Sufisme dan Ekonomi, intelektual muda NU kelahiran Cirebon itu mengatakan bahwa sufisme itu hakikatnya adalah bagaimana mengolah hati.

“Kalau diibaratkan Imam Al Ghazali, diri kita ini adalah sebagaimana sebuah kota, di situ ada rajanya dan panglimanya, rajanya adalah hati dan panglimanya adalah akal, kalau bagi filosof hal itu justru dibalik, rajanya adalah akal dan panglimanya adalah hati,” tuturnya.

Dalam Islam, lanjutnya, banyak praktik ibadah dalam bentuk maaliyah seperti zakat, wakaf, hibah, bahkan ibadah haji pun termasuk dalam kategori ghairu mahdhoh, artinya melibatkan harta atau biaya.
 
“Maka disyaratkan manistatho’a ilaihi sabiila, barang siapa yang mampu dalam arti kesehatan mental dan fisiknya juga mampu dalam hal biayanya,” jelasnya.

Untuk itu diperlukan harta untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat maaliyah. Dalam konteks ini tentu seorang sufi akan berusaha meningkatkan perekonomiannya. Namun ada hal yang berbeda dalam usaha tersebut, di mana seorang sufi tidaklah meletakkan harta yang ia dapatkan pada hatinya, sehingga menguasai hati dan akalnya.

“Adanya harta jangan sampainmenjadikan seseorang berlaku zhalim, atau jangan sampai “memperebutkan harta dengan cara caran yang zhalim,” .

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA