Mungkinkah ampunan masih akan Kau beri
Ke’Pada jiwa yang sama sekali tiada perduli
Saat ratap tangis menusuk qolbu
Dimana Engkau ya…Tuhan ,Allah pemilik pegiat ini….
Atau mungkin hati nurani kami yang buta tertutupi lumuran dosa yang tak lagi mampu.yangmelihat Mu …
CbaanMu yang sungguh menggemparkan semesta jagat raya membuat kami semua tak tahu harus berbuat apa
Kami berduka!!!!!!. I
Ya Tuhan!!!!!!!!
Ya…Allah…..!!!!!
Semuanya berduka,,,,,,,, , ,, ,, ,,,
Para pedagang makanan keci berduka, ,,,, polisi menyayat alibi , tiada yang mau membeli dagangannya. Menurutnya mereka takut makanannya mengandung virus. Pilu.
Para perdagang dengan gigih tetap membuka toko mereka. Meski mereka sadari tiada yang berkunjung. Bahkan seorang pembeli mereka perebutkan bagai singa kelaparan. Tiada yang datang, mereka buka toko karena masih ingin berharap. Siapa tahu bulan depan kami masih mampu untuk membayar sewa. Setidaknya itu saja. Pilu.
Para guru menangis hati rergerus, karena uang yang ia kumpulkan bertahun-tahun untuk berangkat umroh bahkan haji tahun ini terpaksa menggantung tak jelas. Dirinya hanya bisa berharap jika tahun depan, atau depannya lagi dirinya masih diberikan usia. Pilu.
Semuanya menangis, merintih ketika Ayah, anak, saudara mereka wafat tiada satu pun warga yang datang untuk melayat. Bahkan hanya segelintir yang mengantar sampai ke pemakaman. Takut dengan corona kata mereka. Pilu.
Hati ini sungguh pilu saat mendengar deru suara adzan yang masih terdengar nyaring di telinga. Sungguh menggetarkan relung hati. Tak apa masjid sepi, setidaknya suara adzan matsih terdengar. Pilu
Ababila tangisan anak-anak jalanan yang sehari-hari meributkan makan dan makan. Dan senantiasa menunggu uluran tangan kini sepi. Karena mereka sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Lantas
Ratusan dokter, perawat, PPDS dan seluruh jajaran staff rumah sakit yang dilibatkan untuk menangani virus ini. Menjerit. Jeritan mereka tak terdengar keluar, air mata mereka hanya tertampung oleh peluh yang kini sulit mereka bedakan. Sesak, karena begitu cemas kembali pulang, khawatir apa yang mereka bawa justru melukai keluarga. Rindu, karena begitu ingin memeluk keluarga tercinta. Mereka pejuang tapi tak terlihat. Bahkan sebagian orang menganggap ini sebuah candaan. Pilu.
Meng sudah saatnya kami memikirkan dirinya masing-masing. Mungkin itu nasihat yang sedang diajarkan oleh peristiwa wabah ini. Atau ada yang lebih dahsyat dari itu, TEGURAN KERAS.
Siapa yang salah dari bumi ini. Bukan lagi peperangan yang membunuh secara massal ratusan bahkan ribuan manusia di Italia. Melainkan virus yang belum ada antidotnya.
Tanganku yang sungguh perih lagi ketika membayangkan Negeri ini akan mengalami krisis ekonomi, krisis kelaparan dan semua disebabkan karena virus yang belum ada antidotnya.
Seharusn kami berhenti menghujat, berhenti merasa benar, berhenti merasa hebat. Karena jika Allah berkehendak tak hanya virusya yang ia datangkan. Bahkan embusan napas-Nya mampu meluluhlantahkan Bumi dalam sekejap.
Mungkin kita kurang berkarya dan berdoa. Atau lebih sering curhat melalui media sosial bukan kepada-Nya. Mungkin kita kurang bersedekah. Atau mungkin keangkuhan telah membuat mata kita gelap bahwa sesungguhnya tiada yang lebih angkuh selain diri-Nya.
Ketika pintu thawaf tertutup, salat berjamaah terhambat, pintu silaturahmi terbenam. Hanya satu yang bisa kita lakukan. Mengetuk pintu langit. Sepertiga malam. Entah kapan gerakan ini akan dikomandokan. Atau napas kita lebih asik menunggu di depan gawai, gadget, televisi menanti sebuah perubahan padahal perubahan hanya bisa diberikan oleh-Nya.
YA ,,,,TUHAN ALLAH SWT
Selamatkan Bumi tempat kami menunjukan karya2 manfaatku ini ya Allah. !!!!!.
Allahumma ya Allah sungguh ini di luar kuasa kami, untuk tidak berjamaah, atau berkumpul di masjid. Sungguh ini di luar dari kuasa kami untuk menghentikan langkah menuju Masjidil haram. Sungguh ini di luar kuasa kami … maka sungguh jangan kau jadikan amarah-Mu memuncak karena sungguh ini di luar kuasa kami. Kirimkan bantuan, ribuan, dan jutaan malaikatmu untuk menembus dan mematikan virus ini ya Rabb … jadikan air mata kami, peluh kami sebagai pengobat dari segala keresahan kami.
“Allaahumma Antas Salaam, Wa Minkas Salaam, Tabaaròkta Dzal Jalaali Wal Ikròòm”.
“Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang memberi rahmat bagi semesta alam.
Ya.. Allah keselamatan rizqi dari rohman dan rahimku
Ya..Allah Maha Suci engkau Tuhan Allah, Pemilik Kekuasaan dan kebesaran”.




