Prof H Agustitin: Bulan Ramadan Merupakan Sinyal UMAT Manusia Tentang Ramat, Magfiroh dan kasih sayang Allah Kepad-Nya

banner post atas

Wujud kasih sayang Allah itu dengan menjadikannya bulan bulan Romadon sbg shaum dan bulan Alquran. Karena di bulan Romdon itu, Alquran diturunkan,dan perintah shaum ditahbiskan,.

Ibadah2 sosial , dan ibadah individual membahana di seantero dunia.dan pada puncaknya, dikembalikannya manusia dalam keadaan fitah.

Alquran sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan yg batil .
Energi spiritualitas membahana ,meronda memenuhi qalbu JIWA seluruh umat maDimaksudkan di kitalah Muhammad Saw., untuk menyangga kemuliaannya.

Iklan

Tubuh manusia yang tak biasa, berpuasa, menahan lapar, haus, dan hal lain yang merusaknya; sementara batinnya di isi dengan sifat2Allah (asmaull husnah) .

Bulan puasa ( Ramadan) memberikan peluang besar kepada seluruh hamba Allah untuk menyingkap hikmah dibalik tirai Romadon itu Mereka diberi kesempatan untuk mengenal-Nya melalui penyaksian batin, hingga mampu berdialog dengan dirinya sendiri. Puasa mengajar umat manusia untuk menyibak cakrawala batiniah, membuka kabut yang menutupi hatinya, dan merasakan dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya manusia yang terbaik di si Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi insan lainnya.

Apabila kita akan memperdalam makna batiniah dari puasa ada tiga tingkatan:

Pertama, puasa umum ( awam. ) menahan perut dan kemaluan dari menahan syahwat,,.

Kedua, puasa khusus menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela .

Ketiga, puasa khusus yaitu puasanya hati dari kototoran atau penyakit hati , dari keinginan hanya untuk memikirkan duniawi saja, serta dari penghambaan selain Allah SWT. . Karena itulah, puasa yang dengan model terakhir ini tidak akan merusak fikiran tentang penghambaan selain kepad Allah, Hari Akhir, dan kehidupan duniawi saja. Terkecuali apabila duniawi yang di usahakan diperuntukkan bagi kemaslahatan umat.

Dengan demikian kita dapat memahami bagaimana perbedaan dari tiga tingkatan puasa tsb.
Puasa memang benar-benar menjadi satu lompatan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Allah Swt. Suatu ibadah yang benar-benar dipersembahkan kepada Allah, , seperti termaktub dalam sebuah hadis qudsi,:
“Setiap amalan manusia untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjar amalan itu.”

BACA JUGA  MENANTI 9 JUNI 2020 BINTANG TSURAYYA

Dari hadis ini mengisyaratkan bahwa untuk mendekatkann diri kepada Allah SWT Yang Mahasuci , maka seseorang harus menyucikan dirinya, harus benar-benar menjaga kualitas lahir maupun batin agar benar-benar dapat bersanding dengan al-Haqq. “Selama hamba masih terkotori oleh selain Allah, ia tak pantas mendekat dan bersanding dengan-Nya Allah tidak akan menganggap bau mulut orang berpuasa, bahkan akan menggantikannya dengan aroma misik. Namun bagi Allah, yang terpenting adalah kualitas kebersihan laku dan jiwa seseorang tatkala menjalankan puasa. Kotornya tubuh dapat dibersihkan dan disucikan dengan air, tetapi kekotoran hati karena dominasi perbuatan tercela harus disucikan dengan qurbah (kedekatan) dan inabah (pertobatan).

Untuk menjangkau kedekatan kita dengan Allah tidak serta merta hanya menahan lapar dan dahaga, akan tetapi memastikan kehalalan makanan kita . Seperti makna kata ath-Thayyibat
(QS Al-Baqarah [2]: 172)
yang berarti : halal dan baik. Artinya, makanan yang baik menjadi fondasi utama bagi perjalanan kita.

Semangat Ramadan dengan berbagai pelajaran dan hikmahnya memenuhi ruang semesta. Se-Hari-harinya tampak begitu tenang, dan damai. Kekacauan di ruang-ruang serta kegalauan sirna. Seakan dunia berjalan sangat pelan dan nyaman. Inilahh efek positif dari puasa yang sanggup menentramkan jiwa yg rendah hati bagi umat manusia semesta yg menguatkan tekad guna memenuhi panggilan takwa.

Ibadah puasa menjadi ekspresi rasa syukur manusia atas karunia yang telah banyak diterima di dalam kehidupan ini. Melalui ragam ibadah, Allah mengajarkan manusia bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih , baik dari sisi pemenuhan materi maupun sisi ketenangan dan ketentraman yang tersembunyi dalam jiwa.
Ibadah tidak sekadar pemenuhan kewajiban. Ibadah merupakan ekspresi cintanya kepada Allah tanpa batas, sekaligus menjadi hal terpenting yang meliputi dirinya. Tidak ada hari terlewati dan waktu terlampaui tanpa ibadah. Sehingga akan tetap beribadah untuk membuktikan cintanya, tanpa terikat dengan janji pahala dan surga.

BACA JUGA  MUTIARA HIKMAH (12) 5 MACAM OLAH MENUJU PRIBADI YANG IDEAL Oleh : Abu Akrom

Ibadah Puasa telah menjadi aspek utama dalam rangkain ibadah umat Islam. Tanpa ibadah puasaini, keberislaman kita akan dipertanyakan bahkan menjadi tidak sempurna. Begitu penting puasa itu, bahkan jauh sebelum ditetapkannya syariat Muhammad, puasa telah menjadi bagian ibadah kaum-kaum sebelumnya.

Memang jika kita perhatikan sekilas bahwa puasa secara sederhana sekadar menahan lapar, dahaga, dan seks. Tetapi, justru menahan sesuatu itu lebih tersiksa daripada hail yang kita dapatkan.
Bahwa selain menahan, puasa sejatinya membunuh egegoisme
Egoisme manusia di olah untuk tidak memenuhi liar dalam memenuhi keinginannya, akan tetapi sebatas memenej perjalanan puasa sesuai syariat yg telah ditentukan.

Rasulullah Saw bersabda
“Puasa adalah setengah kesabaran,” yang selaras dengan hadis, “Kesabaran adalah setengah dari keimanan.” Karena keistimewaanya di hadapan Allah SWT dibanding dengan amalan-amalan lainnya,
Allah SWT berfirman-
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjarnya secara Personal”

Kita pasti paham bahwa di dalam puasa manusia diuji kesabarannya. Sabar dalam menjalani perintah ketakwaan kepada Allah, dan sabar menjalankan larangan. Karena ketika puasa, hati kita senantiasa bergejolak mempertanyakan maHatitnya

Dalam kehidupan sehari hari Sabar itu ada dua jenis:
A. Sabar atas musibah, dan ini baik sekali.
B. Sabar dari perbuatan maksiat.
Yang terakhir (B) ini pada akhirnya akan memperoleh “kemenangan dan kesuksesan. Sementara pelakunya akan mendapatkan jejak-jejaknya di dunia sebelum Hari Kiamat, dan pada Hari Kiamat dia akan memperoleh pahala surga”
(QS Ali ‘Imran [3]: 200)[2]

Bebicara sabar dalam puasa berarti sabar dalam menjalankan takwa sekaligus sabar dalam rangka menjaga diri dari kemaksiatan. Dengan begitu, kita membunuh ego. Dengan membunuh ego, secara tidak langsung kita telah menjaga hati dari pesakitan. Karena poros segala penyakit tubuh ada dalam kendali hati. Maka tak heran ada ungkapan, “Berpuasalah, maka itu menyehatkan.”

Sebab dengan puasa kita mengendalikan aspek lahiriah dan batiniah secara bersamaan.