Prof Dr Harapandi :Berserah Diri

Prof Dr Harapandi :Berserah Diri

Ternyata apapun yang kita rencanakan dan bahkan lakukan dengan sekuat tenaga kita, jika tidak ditentukan Allah, maka semuanya tak akan dapat terencana, inilah yang dinamakan Taqdir Ilahiyyah.
 
Jadi setelah itu maka Fa ’alaihi bi al-Tawakkal Ilallah fala Haula Walaa Quwwata Illa Billahil Alaiyyi Adzim. Allahumma Inna Qad Amaltu wa fa’altu Maa aradta Wal aan ana Ufawwidu Amrii Ilaika.
 
Tawakkal merupakan satu tangga dari ragam tangga Ilahiyyah yang harus dijalankan oleh para salik yang mencari ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
 
Tawakkal pada prinsipnya ialah mewakilkan persoalan kita kepada Allah Rabbul Baraya, Dialah yang Maha tahu apa yang kita perlukan. Namun tawakkal tidak akan dapat tercapai jika sebelumnya tidak melakukan usaha untuk menggapai apa yang diinginkan.
 
Bertawakkal setelah bersungguh-sungguh menjalankan asbab dari  sebuah perkara, kita tidak dinamakan bertawakkal jika membiarkan masalah tanpa usaha memperbaikinya, tidak pula bertawakkal jika kebodohan tanpa belajar dan tidak disebut bertawakkal jika gagal sebelum melakukan sesuatu.

Dalam kajian tasawwuf konsep tawakkal tidak berada pada akhir sebuah usaha, melainkan ia berjalan bersama-sama seirama selangkah, tawakkal adalah amalan hati (ikhlas dan berharap, khauf -takut- dan raja’ -penuh pengharapan) sedangakan perbuatan ialah amalan zohir yang dijalankan oleh anggota badan kita dengan sungguh-sungguh. Jadi antara tawakkal (amal batin) dan pekerjaan (amal zohir) mesti muncul saat starting dalam berbuat. Pemahaman bahwa tawakkal yang berarti serahkan setelah berbuat itu kurang tepat karena dapat membawa prustrasi bagi mereka yang “gagal” dalam meraih impian sebagai buah dari perbuatannya.
 
Tidak adanya upaya (manusia ataupun makhluk) lainnya melainkan datang dari Yang Maha Adil dan Bijaksana.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA