Renungan Seorang Musafir : Untung Rugi

Renungan
Renungan
banner post atas

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) mendapat faedah di akhirat, Kami akan memberinya mendapat tambahan pada faedah yang dikehendakinya; dan sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) kebaikan di dunia semata-mata, Kami beri kepadanya dari kebaikan dunia itu (sekadar yang Kami tentukan), dan ia tidak akan beroleh sesuatu bahagian pun di akhirat kelak.

Siapa saja yang mencari kebahagiaan dunia dengan perbuatan akhirat “merugi” dunia dan akhirat dan siapa saja yang mengharapkan bahagia akhirat dengan amal duniawi akan mendapatkan keuntungan di dunia juga akhirat. (Rahatul Qulub;49).
Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia akan selalu hidup dalam kerugian melainkan mereka yang percaya (beriman) kepada Allah dengan menjalankan pembenaran dalam hati, pengucapan dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan (amal saleh).

Iklan

Rasulullah dalam sebuah hadits yang dikutip oleh Imam al-Ghazali yang disampaikan dalam bentuk kisah oleh Imam al-Syubli, bahwa ia menghafal 4000 buah hadits, namun setelah dicermati dan ditelaah, seluruh hakikat makna hadits tersebut ada pada satu hadits, lalu ia simpulkan untuk beramal dengan hadits tersebut.
“Berbuatlah untuk kehidupan duniamu, karena akan membuktikan derajatmu di atasnya, beramallah untuk akhiratmu, karena engkau akan kekal di dalamnya, beraktivitaslah dalam (mencari ridla) Allah seberapa perlumu kepadaNya dan berjuanglah untuk (menghindar) dari neraka sebesar apa tingkat kesabaranmu untuk menghadapinya”.

Untung, jika amalan-amalan yang kita lakukan sesuai dengan standar yang diperintahkan Allah melalui rasulNya, akan merugi bagi mereka yang tidak menjalankan amalan bersesuaian dengan perintah dan juga tuntunan rasulNya.
Orang yang beruntung adalah mereka yang menjadikan akhirat adalah tujuan segala amalannya dan sebaliknya akan merugi mereka yang menjadikan amalannya hanya untuk dunia. Firman Allah dalam surat al-Syura/42:20.

BACA JUGA  MASIH LOGIS UNTUK MENURUNKAN HARGA BBM GUNA MEMBANTU DAYA BELI RAKYAT DIMASA PANDEMI AGAR EKONOMI NASIONAL TIDAK TERLAMPAU TERPURUK.

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami akan berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa sesiapa yang berbuat dengan harapan akhirat, maka hasilnya akan diberikan pahala di akhirat dan ditambahkan manfaat di dunia, namun bagi mereka yang hanya bertujuan kehidupan dunia, maka akan diberikan sebahagian kenikmatan (manfaat) duniawi tanpa mendapatkan bahagian ukhrawinya.
Rugi dan rugilah mereka-mereka yang hanya mengejar manfaat duniawi tanpa menghasilkan manfaat ukhrawi yang besar dan kekal. Namun hendaklah memperhatikan amal yang kita lakukan, berapa banyak orang yang beramal terlihat ukhrawi, namun tidak memperoleh nilai akhirat karena “rusak niatnya” dan berapa banyak orang melakukan perbuatan “terlihat” duniawi namun mendapatkan nilai ukhrawi karena niatnya yang tulus dan bersih.

Niat adalah keyword dari seluruh amal kita, jika niat baik dan karena Allah, sekalipun terlihat amalan dunia, maka akan mendapatkan manfaat dunia sekaligus manfaat akhirat, namun jika niat tidak dapat dikelola dengan baik, maka amalan akhirat yang kita lakukan hanya akan berdampak untuk kehidupan dunia semata, tanpa memperoleh hasil akhirat.
Katakanlah: “Apakah akan Kami posthukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia [maksudnya, tidak beriman kepada pembangkitan di hari Kiamat, hisab dan pembalasan], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (QS Al Kahfi [18]: 103-106).

BACA JUGA  LPOI Siap Kerjasama Dengan Pemerintah yang Tegas Untuk Selamatkan Negara.

Harta, jabatan, paras-wajah, gelar, popularitas dan segala pernak-pernik dunia serta kuantitas amaliah tidak jarang memperdaya banyak orang. Sehingga muncul egoisme, ujub (membanggakan diri sendiri), merasa paling baik, paling hebat, paling shalih dari orang lain. Menganggap diri sendiri “the best”. Boleh jadi ia memang “the best” di mata kebanyakan manusia. Namun, apakah juga ia termasuk orang yang paling hebat, bahagia dan shalih di sisi Allah Azza Wajalla.
Ayat di atas dengan sangat jelas mengungkapkan bahwa di dunia ini terdapat banyak orang yang terperdaya dirinya sendiri, merasa telah banyak berbuat kebaikan sehingga menganggap dirinya “the best”. Namun, ternyata di sisi Allah pada hari kiamat kelak termasuk golongan paling merugi (muflis), Nauuzu billah.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “Tahukah kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?”. Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. Nabi bersabda : “Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di hari qiyamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka.